Ntvnews.id, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa pagi, 9 Juni 2026 dibuka menguat 2,55 poin atau 0,05 persen ke posisi 5.344,69.
Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 1,22 poin atau 0,23 persen ke posisi 528,30.
IHSG bergerak menguat mengikuti bursa saham global, seiring ekspektasi akan meredanya konflik antara Iran dengan Israel.
"Kiwoom Research sarankan mempertimbangkan dividend investing sebagai salah satu strategi defensif yang menarik, apalagi ketika momentum pasar sedang sulit menghasilkan capital gain dalam jangka pendek, investor setidaknya masih memperoleh cash return melalui dividen sambil mengakumulasi saham-saham berkualitas pada valuasi yang jauh lebih murah dibanding beberapa bulan lalu,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya.
Baca juga: IHSG Dibuka Melemah ke Level 5.486 pada Senin Pagi Ini
Dari mancanegara, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terus mendorong tercapainya gencatan senjata antara Iran dengan Israel, serta menegaskan negosiasi damai dengan Iran masih berlangsung.
Meski kedua negara untuk sementara menghentikan serangan, situasi tetap rapuh karena Iran mengancam akan kembali menyerang apabila Israel melanjutkan operasi terhadap Hezbollah di Lebanon, sementara Israel berjanji akan merespons dengan "great force" apabila diserang kembali.
Selain itu, Trump juga menegaskan blokade AS terhadap Iran akan tetap berlaku hingga tercapai kesepakatan final terkait program nuklir dan isu strategis lainnya.
Seiring dengan itu, harga minyak mentah global terpantau bergerak melemah, dengan jenis WTI turun 0,46 persen ke level 90,88 dolar AS per barel, dan jenis Brent turun 0,35 persen ke level 93,92 dolar AS per barel.
Sementara pekan ini, fokus pelaku pasar akan tertuju pada data inflasi AS, dengan data Consumer Price Index (CPI) Mei 2026 dirilis Rabu (10/06) dan data Producer Price Index (PPI) pada Kamis (11/06).
Setelah data NonFarm Payrolls (NFP) Mei 2026 jauh di atas ekspektasi, pasar semakin mengurangi harapan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat dan kini lebih fokus pada risiko inflasi yang dipicu kenaikan harga energi.
Seiring dengan itu, Goldman Sachs menunda proyeksi pemangkasan suku bunga The Fed hingga 2027 dan memperkirakan inflasi Core PCE tetap di atas 3 persen sepanjang 2026 akibat kombinasi tarif perdagangan, harga energi yang tinggi, dan permintaan AI yang kuat.
Baca juga: Purbaya Sebut Persepsi Negatif Jadi Pemicu Utama IHSG Terus Melemah
Goldman Sachs juga menaikkan probabilitas kenaikan suku bunga menjadi 20 persen dari sebelumnya 10 persen.
Dari kawasan Eropa, investor khawatir lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah dapat memaksa European Central Bank (ECB) mengambil sikap lebih hawkish pada pertemuan pekan ini.
Pelaku pasar kini mulai memperhitungkan kemungkinan hingga tiga kali kenaikan suku bunga ECB sebelum akhir tahun.
Dari dalam negeri, cadangan devisa Indonesia turun menjadi 144,9 miliar dolar AS pada akhir Mei 2026, dari sebelumnya 146,2 miliar pada April 2026, terutama akibat pembayaran utang luar negeri pemerintah dan intervensi Bank Indonesia (BI) untuk stabilisasi Rupiah di tengah tingginya volatilitas pasar global.
Penurunan itu memperpanjang tren pelemahan selama 5 bulan berturut-turut sejak mencapai puncak 156 miliar dolar AS pada Desember 2025, sehingga total penurunan mencapai 11,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp208 triliun dalam 5 bulan terakhir.
Meski demikian, cadangan devisa saat ini masih setara 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor.
Di sisi lain, Danantara kembali menjadi sorotan setelah Dony Oskaria menegaskan bahwa PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) tidak akan mengambil margin dari aktivitas ekspor komoditas strategis, melainkan hanya mengenakan biaya layanan untuk fungsi pengawasan dan verifikasi ekspor.
Namun, perhatian pasar kini bergeser ke Peraturan Pemerintah (PP) No.19/2026 yang membuka peluang penggunaan APBN untuk menyuntik modal ke holding investasi Danantara.
Liza menyebut sejumlah ekonom menilai kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan risiko fiskal, mengaburkan batas antara aset negara dan aset Danantara, serta memunculkan pertanyaan mengenai akuntabilitas penggunaan dana publik.
“Dengan status baru sebagai instrumen fiskal pemerintah dan kemungkinan memperoleh PMN dari APBN, investor diperkirakan akan semakin mencermati apakah Danantara mampu menjadi katalis investasi nasional atau justru berkembang menjadi tambahan beban bagi fiskal negara,” ujar Liza.
Pada perdagangan Senin (08/06) kemarin, bursa saham Eropa variatif, diantaranya Euro Stoxx 50 menguat 0,04 persen, indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,05 persen, indeks DAX Jerman melemah 0,58 persen, serta indeks CAC 40 Prancis melemah 0,23 persen.
Sementara itu, bursa AS Wall Street mayoritas menguat pada Senin (08/06) , diantaranya Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,16 persen, indeks S&P 500 menguat 0,30 persen, dan indeks Nasdaq Composite menguat 1,58 persen.
Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei menguat 0,78 persen ke 64.532,00, indeks Shanghai menguat 0,30 persen ke 3.972,60, indeks Hang Seng melemah 0,31 persen ke 24.628,00, dan indeks Strait Times menguat 0,77 persen ke 5.022,36. (Sumber:Antara)
Pengunjung melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat 24 April 2026. ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/bar (Antara)