AS Tak Lagi Cegat Rudal Iran Saat Israel Kembali Digempur

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Jun 2026, 05:53
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip - Roket yang ditembakkan dari Iran terlihat di atas Yerusalem dari Hebron, Tepi Barat pada 1 Oktober 2024. Tentara Israel mengumumkan bahwa rudal ditembakkan dari Iran ke arah Israel dan sirene terdengar di seluruh negeri, terutama di Tel Aviv. Arsip - Roket yang ditembakkan dari Iran terlihat di atas Yerusalem dari Hebron, Tepi Barat pada 1 Oktober 2024. Tentara Israel mengumumkan bahwa rudal ditembakkan dari Iran ke arah Israel dan sirene terdengar di seluruh negeri, terutama di Tel Aviv. (Antara)

Ntvnews.id, Taheran - Amerika Serikat disebut tidak lagi melakukan pencegatan terhadap rudal dan drone yang diluncurkan Iran ketika Israel kembali menjadi sasaran serangan Teheran.

Informasi tersebut diungkap oleh CNN dengan mengutip sejumlah sumber anonim dari kalangan pejabat militer AS.

Menurut laporan itu, saat Iran kembali melancarkan serangan ke Israel, Washington diklaim tidak mengerahkan sistem pertahanannya untuk menahan rudal-rudal Iran yang mengarah ke wilayah Israel.

Sikap tersebut dinilai berbeda dibandingkan kebijakan AS pada fase awal konflik yang terus memanas di Timur Tengah sejak 28 Februari lalu.

Pada periode awal perang Iran-Israel, militer AS diketahui menempatkan rudal-rudal sistem pertahanan udara mereka di wilayah Israel guna membantu melindungi negara tersebut dari serangan Teheran.

Sumber yang sama juga menyebut bahwa militer Israel tetap menjalin koordinasi intensif dengan militer AS selama berlangsungnya operasi militer tersebut.

Baca Juga: Trump Klaim Cegah Serangan Israel ke Iran, Peringatkan Netanyahu Bisa Bertempur Sendiri

Berdasarkan laporan CNN, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Eyal Zamir, disebut telah dua kali melakukan pembicaraan dengan Komandan United States Central Command (CENTCOM), Brad Cooper.

Situasi kembali memanas pada Minggu setelah Israel melancarkan serangan ke ibu kota Lebanon, Beirut, meski kesepakatan gencatan senjata masih berlaku. Sebagai respons, Iran menembakkan rudal ke wilayah utara Israel, yang kemudian dibalas dengan serangkaian serangan udara oleh Israel ke Iran.

Ketegangan di Timur Tengah sendiri masih berlanjut sejak AS dan Israel melakukan serangan udara ke Iran pada akhir Februari. Operasi tersebut memicu aksi balasan dari Iran terhadap Israel serta sejumlah negara di kawasan Teluk yang menampung aset militer Amerika Serikat.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat konferensi pers di Gedung Putih, Washington D.C., Amerika Serikat (25/42026). ANTARA/Anadolu/Celal G&uuml;ne?. <b>(Antara)</b> Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat konferensi pers di Gedung Putih, Washington D.C., Amerika Serikat (25/42026). ANTARA/Anadolu/Celal Güne?. (Antara)

Meski sempat tercapai gencatan senjata sementara pada 8 April, proses negosiasi berikutnya mengalami kebuntuan akibat perbedaan pandangan mengenai pelaksanaan kesepakatan dan dinamika regional yang terus berkembang.

Di tengah situasi tersebut, Presiden AS Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan dengan Iran dapat tercapai dalam waktu dekat.

"[Kesepakatan mengakhiri perang] bisa dicapai dalam satu atau dua hari lagi, tapi saya pikir semuanya berjalan baik," kata dia pada Senin, 8 Juni 2026 dikutip Anadolu Agency.

Baca Juga: Trump Berkelakar Israel Bisa Bertahan Berkat Kebijakannya

"Mereka maju mundur, dan sekarang mereka semua sepakat melalui saya untuk berhenti, dan kita berada di tahap akhir dari kesepakatan yang sangat, sangat baik yang tidak akan mengizinkan senjata nuklir dalam bentuk apa pun," tambahya.

Ia juga menyebut bahwa jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz akan kembali terbuka setelah kesepakatan tersebut ditandatangani, yang menurutnya dapat terjadi dalam dua hingga tiga hari mendatang.

x|close