Ntvnews.id, Jakarta - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, menyerukan perlunya peningkatan dukungan dana global serta akses kemanusiaan yang cepat dan tanpa hambatan ke Myanmar.
Seruan ini disampaikan seiring dengan upaya penyelamatan dan pembangunan kembali pascagempa dahsyat yang menyebabkan banyak korban jiwa dan kerusakan besar.
"Myanmar saat ini adalah tempat yang benar-benar hancur dan penuh keputusasaan. Bencana ini menunjukkan kerentanan lebih dalam yang dihadapi masyarakat di seluruh negara itu," ujar Guterres dalam konferensi pers, dikutip dari Reuters, Jumat, 4 April 2025.
Ia menambahkan bahwa kondisi Myanmar sudah penuh tantangan bahkan sebelum bencana gempa melanda. Krisis politik dan kemanusiaan yang berlangsung telah menempatkan rakyat dalam tekanan hebat, dan gempa bumi hanya menambah penderitaan mereka, terutama dengan datangnya musim hujan monsun dalam waktu dekat.
Baca Juga: Stafnya Tewas Ditembak Tank, PBB Salahkan Israel
Dalam pernyataannya, Guterres mendorong komunitas internasional untuk segera menambah bantuan dana secara signifikan agar sebanding dengan besarnya krisis yang terjadi.
Ia juga menekankan pentingnya akses kemanusiaan yang cepat, aman, berkelanjutan, dan tidak terhambat agar bantuan bisa sampai kepada masyarakat yang paling membutuhkan di seluruh wilayah Myanmar.
Lebih lanjut, ia menyambut positif pernyataan gencatan senjata sementara yang dikeluarkan oleh otoritas Myanmar.
"langkah itu sangat penting untuk membantu aliran bantuan dan memungkinkan tim penyelamat melakukan pekerjaannya." terangnya.
Sementara itu, situasi di lapangan menunjukkan anak-anak dan keluarga tinggal di tempat penampungan darurat bagi korban gempa di Mandalay pada tanggal 3 April 2025.
Guterres menyampaikan bahwa ia telah menugaskan Koordinator Bantuan Darurat PBB, Tom Fletcher, untuk terjun langsung ke Myanmar.
Baca Juga: Eks Ketua DPR Ngeluh Pemda Pungut PBB ke Kampus: Kita Berantem Terus!
Selain itu, Julie Bishop, yang menjabat sebagai utusan khusus Sekjen PBB untuk Myanmar, juga akan melakukan kunjungan ke negara tersebut dalam beberapa hari ke depan guna memperkuat inisiatif perdamaian dan dialog di tengah situasi yang genting.
"PBB akan terus mendorong perdamaian dan dukungan penyelamatan nyawa bagi rakyat Myanmar pada saat mereka sangat membutuhkan," tegas Guterres.
Berdasarkan laporan Myanmar Radio and Television hingga Kamis, 3 April 2025, jumlah korban tewas akibat gempa bermagnitudo 7,9 yang terjadi pekan lalu telah meningkat menjadi 3.145 orang. Sementara itu, jumlah korban luka mencapai 4.589 jiwa, dan sebanyak 221 orang masih dinyatakan hilang.