PSSI Sebut Anggaran Jadi Tantangan Utama Pembinaan Sepak Bola Putri Indonesia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 29 Jul 2026, 19:23
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Selebrasi gol Sydney Hopper dan Katarina Stalin tampil membela timnas putri Indonesia pada final AFF Women's Cup 2026 melawan timnas putri Laos di Kuala Lumpur Football Stadium, Malaysia, Rabu, 22 Juli 2026. Indonesia kembali menjadi juara pada turnamen ini setelah menang dengan skor telak 5-0. Selebrasi gol Sydney Hopper dan Katarina Stalin tampil membela timnas putri Indonesia pada final AFF Women's Cup 2026 melawan timnas putri Laos di Kuala Lumpur Football Stadium, Malaysia, Rabu, 22 Juli 2026. Indonesia kembali menjadi juara pada turnamen ini setelah menang dengan skor telak 5-0. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Vivin Sungkono Cahyani menyebut keterbatasan anggaran menjadi tantangan terbesar dalam pengembangan sepak bola putri di Indonesia.

Menurut Vivin, persoalan utama bukan berasal dari minat pemain karena keinginan untuk bermain sepak bola sudah semakin kuat.

"Kalau bicara masalah kesulitan, kita semua tahu semuanya dari budget. Kalau keinginan kuat dari anak-anak ini untuk main sepak bola itu sudah ada," kata Vivin Sungkono Cahyani dalam konferensi pers Srikandi Merdeka Cup 2026 di Jakarta, Rabu, 29 Juli 2026.

Ia mengatakan antusiasme terhadap sepak bola putri terus mengalami peningkatan, terutama setelah prestasi tim nasional Indonesia menunjukkan perkembangan positif.

Baca JugaPSSI Siapkan Pusat Pembinaan Timnas Usia Dini di Sejumlah Daerah

Vivin mengakui pembinaan sepak bola putri nasional masih membutuhkan proses panjang. Namun, ia menilai pencapaian Indonesia mampu bersaing dengan negara lain.

"Kalau dari sisi prestasi, kita enggak kalah. Kita kemarin juara AFF. Karena konsistensi dan fokus, itu yang bisa membuktikan bahwa kita bisa berprestasi," katanya.

Vivin menjelaskan, asosiasi provinsi (Asprov) PSSI juga menghadapi kendala dalam menjalankan berbagai agenda kompetisi. Saat ini, Asprov harus mengelola sejumlah turnamen seperti Piala Soeratin hingga Liga 4.

Banyaknya program kompetisi tersebut membuat pelaksanaan kompetisi sepak bola putri di daerah menjadi tantangan tersendiri.

Baca JugaPSSI Sebut Indonesia Bersiap Jadi Tuan Rumah FIFA ASEAN Cup 2026

"Sudah sebegitu banyaknya Piala Soeratin, ada Liga 4, Piala Soeratin dari U13, 15, 17 dan lain-lain, kemudian dibebankan lagi wajib menyelenggarakan kompetisi putri, Asosiasi Provinsinya enggak mampu," katanya.

Di tengah keterbatasan anggaran tersebut, Vivin mengapresiasi dukungan dari pihak swasta, salah satunya Yayasan Bakti Olahraga Djarum Foundation yang konsisten menjalankan program pembinaan sepak bola putri usia muda.

Ia menyebut program tersebut membantu menciptakan jalur pembinaan pemain melalui berbagai jenjang usia, mulai dari MilkLife Soccer Challenge (MLSC) untuk kategori U10 dan U12, Hydroplus Soccer League (HSL) untuk U15-U18, hingga Srikandi Merdeka Cup untuk U16.

"Trilogi yang sudah dijalankan Yayasan Bakti Olahraga Djarum sudah menjawab tantangan yang selama ini bertahun-tahun tidak ada solusi di PSSI. Saya berharap konsistensi dan support ini bisa continue," katanya.

(Sumber: Antara)

x|close