Ntvnews.id, Jakarta -Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menggelar pertemuan dengan jajaran pimpinan raksasa teknologi global Microsoft guna membahas arah strategi investasi berkelanjutan perusahaan tersebut di Tanah Air.
Langkah ini menindaklanjuti komitmen investasi sebesar 1,7 miliar dolar AS atau setara dengan Rp27,6 triliun pada 2024 yang sebelumnya telah diumumkan oleh Microsoft. Pemerintah menekankan agar penanaman modal berskala besar ini mampu menghadirkan dampak positif berjangka panjang terhadap peningkatan kapasitas teknologi nasional.
"Kami berharap Indonesia dapat semakin menjadi bukan hanya pasar penting bagi Microsoft, tetapi juga pusat strategis infrastruktur digital dan inovasi di kawasan," kata Meutya dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Jumat (25/9).
Perluasan ekonomi digital di dalam negeri menuntut ketersediaan infrastruktur yang tangguh dan inklusif guna memenuhi kebutuhan publik maupun sektor industri. Melalui sinergi ini, pemerintah membuka peluang luas bagi institusi, pelaku usaha, pengembang, serta berbagai perusahaan rintisan lokal untuk menyerap keahlian global.
Cakupan kerja sama tersebut merambah sektor kecerdasan buatan (AI), komputasi awan (cloud), keamanan siber, hingga penerapan tata kelola teknologi yang bertanggung jawab. Di samping itu, pemerintah turut memacu keterpaduan antara program peningkatan kecakapan digital dan kebutuhan riil industri agar tenaga kerja lokal memiliki akses terbuka terhadap kesempatan kerja serta jenjang karier.
"Tujuan kami bukan hanya meningkatkan jumlah masyarakat yang memiliki keterampilan digital, tetapi juga mengembangkan lebih banyak pengembang, inovator, insinyur, dan pemimpin digital Indonesia," tutur Meutya.
Dalam ranah pengembangan kecerdasan buatan, pemerintah memaparkan persiapan kerangka tata kelola nasional yang tertuang dalam rancangan Peraturan Presiden tentang Peta Jalan dan Etika AI. Aturan ini dirancang untuk menghadirkan kepastian hukum sekaligus menjamin pemanfaatan teknologi yang aman, etis, inklusif, serta bertanggung jawab.
"Kami ingin memastikan bahwa regulasi tidak menghambat inovasi, tetapi, justru memberikan perlindungan dan kepastian yang tepat agar AI dapat berkembang secara bertanggung jawab," kata Meutya menjelaskan.
Agenda strategis tersebut turut bersinggungan dengan upaya pelindungan anak di ruang digital, termasuk peninjauan implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS). Pihaknya mengajak Microsoft untuk mempererat kemitraan lewat penerapan prinsip keamanan sejak tahap perancangan teknologi (security by design).
"Ke depan, kami ingin memperdalam komitmen Microsoft terhadap Indonesia melalui investasi infrastruktur digital, transfer teknologi dan pengetahuan, pengembangan talenta digital, serta kolaborasi yang lebih kuat untuk menciptakan lingkungan digital yang lebih aman bagi anak-anak Indonesia," ujar Meutya.
Seluruh rangkaian kemitraan strategis bersama Microsoft ini diharapkan mampu mengakselerasi pencapaian agenda pembangunan nasional menuju visi Indonesia Emas 2045 lewat penguatan daya saing digital.
(Sumber: Antara)
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid dalam pertemuan bilateral dengan President Urusan Global Microsoft Lisa Monaco di New York, Amerika Serikat, Rabu (23/9/2026) mengatakan investasi Microsoft harus berikan manfaat jangka panjang bagi kapasitas teknologi Indonesia (Antara)