Dari China hingga Singapura, Transaksi Mata Uang Lokal RI Tembus USD42,07 Miliar

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 29 Sep 2026, 08:49
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Adiantoro
Editor
Bagikan
Bank Indonesia Bank Indonesia

Ntvnews.id, Jakarta - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Thomas A. M. Djiwandono menyampaikan bahwa peran bank sentral yang tidak hanya menjaga stabilitas harga dan nilai tukar.

Ia menyebut peran BI juga stabilitas keuangan, keandalan sistem pembayaran, serta pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. 

“Kredibilitas kebijakan perlu didukung oleh kredibilitas operasional," ujar Thomas pada pembukaan Central Banking Services Festival (CB Fest) 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta 28 September 2026.

Lebih lanjut, Thomas menyampaikan bahwa pengembangan aktivitas ekonomi dan keuangan lintas negara perlu didukung oleh layanan kebanksentralan yang andal, efisien, dan aman. 

Layanan tersebut mencakup penyelesaian transaksi operasi moneter, pengelolaan cadangan devisa, kerja sama keuangan internasional, dan pengelolaan cadangan emas, serta layanan kepada Pemerintah dan industri keuangan. 

Baca juga: Bank Indonesia Tahan BI-Rate di Level 5,75 Persen pada September 2026

Dalam konteks ini, Bank Indonesia memberikan layanan kepada Pemerintah, berupa penatausahaan rekening pemerintah, transfer dana dan penyelesaian transaksi, serta penatausahaan utang luar negeri Pemerintah. 

Sementara itu, bagi industri keuangan, Bank Indonesia melakukan penyelesaian transaksi surat berharga dalam Rupiah dan valuta asing.

Perluasan konektivitas ekonomi dan keuangan lintas negara tercermin antara lain dari kerja sama Local Currency Transaction (LCT) yang terus meluas. 

LCT mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral, sehingga mendukung ketahanan eksternal dan stabilitas nilai tukar serta memfasilitasi perdagangan dan investasi dengan negara mitra. 

Saat ini, Indonesia telah mengimplementasikan kerja sama LCT dengan tujuh negara mitra, yaitu Malaysia, Thailand, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, dan Singapura. Pada semester I 2026, nilai transaksi LCT mencapai USD42,07 miliar.

Adapun angka tersebut tumbuh 259 persen (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar USD11,72 miliar, dan telah melampaui capaian sepanjang 2025 sebesar USD25,74 miliar. 

Baca juga: Bank Indonesia Ungkap Pelemahan Rupiah Dipicu Kekhawatiran Tensi Geopolitik

Ketahanan Harus Dibangun Sebelum Krisis

Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan bahwa ketahanan tidak hanya berarti kemampuan menghadapi krisis, tetapi juga kemampuan beradaptasi dan menjaga kepercayaan publik. 

Juda menyampaikan bahwa ketahanan perlu dibangun sebelum krisis melalui kebijakan yang kredibel, institusi yang kuat, tata kelola yang baik, adaptasi berkelanjutan, dan kerja sama. 

Untuk itu, sinergi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan diperlukan untuk merespons perubahan ekonomi dan perkembangan teknologi.

CB Fest merupakan forum tahunan yang mempertemukan bank sentral, otoritas di sektor keuangan, kementerian/lembaga, industri perbankan, dan asosiasi internasional. 

Forum ini juga menjadi ruang memperkuat posisi strategis Bank Indonesia dalam lanskap keuangan global. Melalui pertemuan ini, seluruh pihak memperkuat sinergi menghadapi dinamika ekonomi global dan perkembangan transaksi lintas negara di era digital.

CB Fest 2026 mengusung tema “Strengthening Financial Services Resilience Amid Escalating Geopolitical Risk to Support Economic Growth". 

Baca juga: Destry Ungkap Arah Kebijakan Bank Indonesia, Pegang Prinsip 3I Plus S

Sejalan dengan tema tersebut, pembahasan CB Fest mencakup dampak perubahan geopolitik terhadap ekonomi dan stabilitas keuangan serta respons yang perlu disiapkan oleh otoritas dan industri. 

Pembahasan menggarisbawahi bahwa ketidakpastian global membutuhkan respons kebijakan yang adaptif, penguatan manajemen risiko, dan pemanfaatan teknologi untuk memperkuat ketahanan sektor keuangan. 

Selain itu, diskusi menyoroti pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) dan generative AI dapat meningkatkan efisiensi sekaligus mendorong transformasi menuju intelligent reporting, dengan tetap memperhatikan transparansi, akuntabilitas, dan penguatan kompetensi fungsi keuangan.

x|close