Hashim Ungkap Indonesia Akan Bangun PLTN Berkapasitas 7 Gigawatt

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Okt 2026, 19:10
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Arsip - Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo memberikan pemaparan pada Seminar Nasional Kedaulatan Kesehatan di Gedebage, Bandung, Jawa Barat, Rabu (15/7/2026). Arsip - Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo memberikan pemaparan pada Seminar Nasional Kedaulatan Kesehatan di Gedebage, Bandung, Jawa Barat, Rabu (15/7/2026). (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia akan segera merealisasikan program pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dengan kapasitas total mencapai 7 gigawatt (GW) sebagai bagian dari strategi mewujudkan ketahanan energi nasional.

“Indonesia akan memulai program pengembangan nuklir yang sangat ambisius. Yang terakhir saya dengar dari Pak Darmawan (Direktur Utama PT PLN) adalah target 7 GW masuk dalam master plan energi nasional,” ujar Hashim dalam acara Indonesia International Sustainability Forum yang digelar di Jakarta, Selasa, 6 Oktober 2026.

Selain proyek nuklir tersebut, Hashim memaparkan bahwa Indonesia juga memegang target ambisius lain dalam transisi energi hijau, yakni pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas hingga 100 gigawatt peak (GWp). Berbagai langkah masif ini ditempuh pemerintah guna menjamin keterjangkauan dan keberlangsungan pasokan energi bagi seluruh masyarakat di tanah air.

Ia menegaskan, Indonesia dianugerahi sumber daya alam yang sangat melimpah dan potensial untuk dikonversi menjadi energi baru dan terbarukan (EBT) guna memenuhi kebutuhan listrik nasional.

“Pemerintah harus menyediakan listrik, energi untuk rakyatnya. Sehingga mereka bisa menerangi rumah, sehingga anak-anak bisa belajar pada malam hari, sehingga rumah sakit dan klinik di daerah terpencil teraliri listrik saat mereka membutuhkannya,” ucap Hashim.

Sejalan dengan rencana besar tersebut, pemerintah mentargetkan penetapan tapak (site permit) pembangunan PLTN di Indonesia dapat rampung pada tahun 2026 ini atau paling lambat pada 2027 mendatang.

Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kemenko Perekonomian, Elen Setiadi, menjelaskan bahwa penentuan lokasi tapak ini nantinya akan disesuaikan secara cermat dengan spesifikasi teknologi nuklir yang akan diadopsi oleh Indonesia. Saat ini, pemerintah telah melirik sejumlah opsi teknologi serta membuka peluang kerja sama dengan mitra global dari berbagai negara maju, seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, hingga Rusia.

Elen menilai, kehadiran PLTN merupakan komponen vital dalam memastikan ketersediaan pasokan listrik yang andal, kompetitif, dan berkelanjutan guna menopang akselerasi pertumbuhan ekonomi serta agenda industrialisasi nasional. Terlebih lagi, proyeksi kebutuhan listrik nasional diprediksi akan melonjak hingga mencapai 600 terawatt hour (TWh) dengan tingkat konsumsi mendekati 2.000 kilowatt hour (kWh) per kapita pada tahun 2030 mendatang.

 
(Sumber: Antara)
 
x|close