Ntvnews.id, Jakarta -Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko Infra) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan pentingnya penguatan daya saing nasional di tengah meningkatnya ketajaman perang ekonomi global.
Menurutnya, Indonesia harus mampu membaca situasi untuk mengubah tekanan global menjadi peluang strategis. Penguatan hilirisasi, industrialisasi, penguasaan teknologi, serta diversifikasi kemitraan dinilai krusial agar negara ini memiliki posisi tawar yang semakin kuat.
"Indonesia harus mampu mengubah tekanan global menjadi peluang strategis. Kita perlu memperkuat hilirisasi, industrialisasi, penguasaan teknologi dan diversifikasi kemitraan agar memiliki daya saing dan posisi tawar yang semakin kuat," ujar AHY dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (14/10).
Ia mengingatkan bahwa arena persaingan kekuatan besar kini telah bergeser dari geopolitik menuju konfrontasi geoekonomi. Instrumen negara dalam mendemonstrasikan kekuatan pun bertransformasi, mulai dari penggunaan tarif perdagangan, sanksi ekonomi, pembatasan teknologi, hingga penguasaan rantai pasok.
Baca Juga: Menko AHY: Kedaulatan Bangsa Harus Ditopang Infrastruktur dan Ketahanan Nasional yang Kuat
Merujuk pada Global Risks Report 2026 dari World Economic Forum, AHY memaparkan bahwa konfrontasi geoekonomi menduduki posisi puncak risiko global jangka pendek. Sebanyak 18 persen responden menempatkannya sebagai risiko utama, disusul oleh konflik bersenjata antarnegara sebesar 14 persen. Faktor pendorong utama ketidakpastian ini bersumber dari rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok.
"Kita sedang menyaksikan perubahan mendasar. Perdagangan, teknologi, energi dan rantai pasok tidak lagi semata-mata menjadi instrumen ekonomi, tetapi juga alat tekanan dan perebutan pengaruh geopolitik," kata AHY.
Meskipun fragmentasi geoekonomi membawa ancaman terhadap stabilitas perdagangan, investasi, dan pertumbuhan, situasi tersebut juga membuka celah bagi Indonesia untuk mengambil peran yang lebih besar dalam mendiversifikasi rantai pasok global. Tantangan terbesarnya adalah memastikan Indonesia bertransformasi dari sekadar pemasok bahan mentah atau pasar konsumsi menjadi pusat produksi dan inovasi bernilai tambah.
Lebih lanjut, kesiapan domestik menjadi faktor penentu utama bagi ketahanan Indonesia menghadapi dinamika ekonomi global. Hal ini mencakup pembangunan infrastruktur, peningkatan efisiensi logistik, penguatan ketahanan energi, hingga pengembangan sumber daya manusia.
Dalam kesempatan yang sama, AHY juga mendorong Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) untuk aktif menghasilkan kajian geoekonomi. Riset tersebut diharapkan mampu membantu pemerintah mengantisipasi berbagai risiko sekaligus memetakan peluang investasi serta kerja sama strategis.
"Daya saing bangsa tidak cukup ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam. Kita harus mampu mengubah sumber daya tersebut menjadi produktivitas, inovasi, lapangan kerja berkualitas dan kesejahteraan rakyat," pungkas AHY.
(Sumber: Antara)
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko Infra) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) (Antara)