Ntvnews.id, Jakarta - Korea Selatan (Korsel) menemukan insiden peretasan yang melibatkan 16 perusahaan keuangan, dengan sekitar 100.000 kasus kebocoran data teridentifikasi hingga saat ini.
Seperti dilaporkan Reuters, Rabu (14/10/2026), otoritas keuangan setempat kini memperdalam investigasi untuk mengungkap metode serangan siber tersebut, termasuk kemungkinan keterlibatan kecerdasan buatan (AI).
Komisi Jasa Keuangan Korea Selatan (Financial Services Commission/FSC) menyampaikan bahwa penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan bagaimana peretasan dilakukan dan apakah teknologi AI digunakan dalam serangan tersebut.
Selain mendalami metode peretasan, regulator keuangan Korea Selatan juga akan meningkatkan pengawasan terhadap keamanan sistem di perusahaan-perusahaan keuangan.
Baca Juga: Hacker China Menyamar Jadi Pakar AI AS, Incar Email Ahli dan Pejabat
FSC berencana melakukan inspeksi keamanan serta menyiapkan mekanisme untuk mendeteksi ancaman peretasan sejak dini. Otoritas tersebut juga akan memperkuat koordinasi antarlembaga dalam merespons insiden keamanan siber.
Langkah ini diharapkan dapat membantu mempercepat identifikasi serangan, meningkatkan kesiapan menghadapi ancaman digital, serta memperkuat perlindungan data di sektor keuangan.
Meski demikian, keterlibatan AI dalam insiden tersebut masih dalam tahap penyelidikan. Belum ada kesimpulan resmi mengenai penggunaan teknologi tersebut dalam serangan yang terungkap di 16 perusahaan keuangan itu.
Seorang pria bekerja dengan laptop di bandara Hanoi, Vietnam, 18 Oktober 2017. (Foto: Dok/Kham/Reuters)