Inflasi AS Lebih Tinggi dari Perkiraan, BI Terus Jaga Rupiah Sesuai Fundamental

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 15 Okt 2026, 12:20
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Arsip foto - Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) Erwin G. Hutapea memaparkan materi dalam Taklimat Media di Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta Arsip foto - Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) Erwin G. Hutapea memaparkan materi dalam Taklimat Media di Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus melakukan langkah stabilisasi di pasar untuk menjaga nilai tukar rupiah agar tetap bergerak sesuai fundamentalnya. Upaya tersebut dilakukan di tengah sentimen inflasi Amerika Serikat (AS) yang tercatat lebih tinggi dari perkiraan pasar.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G. Hutapea mengatakan, bank sentral secara konsisten melakukan intervensi melalui berbagai instrumen, baik di pasar domestik maupun luar negeri.

“Intervensi terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder,” kata Erwin dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, 15 Oktober 2026.

Selain intervensi, BI juga mengatur struktur suku bunga di pasar uang dengan menjaga kecukupan likuiditas. Koordinasi dan komunikasi dengan perusahaan serta pelaku pasar turut dilakukan secara intensif.

Erwin menjelaskan, data inflasi AS yang melampaui perkiraan dan meningkat dibandingkan periode sebelumnya memicu ekspektasi bahwa bank sentral AS atau The Fed akan menerapkan kebijakan kenaikan suku bunga yang lebih agresif.

Baca Juga: IHSG Dibuka Menguat ke Posisi 7.391 di Tengah Wait and See Data Inflasi AS

Berdasarkan data September 2026, inflasi tahunan AS yang diukur melalui Consumer Price Index (CPI) mencapai 3,7 persen (year on year/yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar sebesar 3,6 persen (yoy).

Sementara itu, inflasi inti tahunan AS juga naik menjadi 2,6 persen (yoy), melampaui ekspektasi pasar yang berada di angka 2,5 persen (yoy).

Erwin menambahkan, ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah turut membuat harga minyak bertahan di atas 105 dolar AS per barel. Kondisi tersebut juga meningkatkan risiko fiskal ke depan.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) sempat melonjak ke posisi tertinggi sejak Mei 2025. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS atau US Treasury bertenor dua tahun juga sempat meningkat 12 basis poin (bps) hingga mencapai 4,90 persen.

Baca Juga: Kendalikan Inflasi, Kementerian ESDM Pastikan Harga BBM Subsidi Tidak Naik

“Memburuknya sentimen risk off tersebut mendorong penguatan dolar AS serta tekanan arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi,” kata Erwin.

Meski menghadapi tekanan eksternal, Erwin menyebut pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang negara-negara di kawasan. Pelemahan rupiah secara quarter-to-date (QTD) tercatat terbatas sebesar 0,17 persen.

Adapun posisi cadangan devisa Indonesia tetap terjaga sebesar 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026.

Pada pembukaan perdagangan Kamis, 15 Oktober 2026, rupiah melemah 45 poin atau 0,25 persen menjadi Rp17.948 per dolar AS. Angka tersebut dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan sebelumnya sebesar Rp17.903 per dolar AS.

(Sumber: Antara)

x|close