Bahlil Ungkap Subsidi LPG Hampir Rp100 Triliun Imbas Kenaikan Harga Minyak Dunia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 16 Okt 2026, 12:20
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia setelah peresmian Kilang LPG Cilamaya di Karawang, Jawa Barat, Kamis, 15 Oktober 2026. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia setelah peresmian Kilang LPG Cilamaya di Karawang, Jawa Barat, Kamis, 15 Oktober 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Karawang - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menyebut subsidi untuk liquefied petroleum gas (LPG) mencapai hampir Rp100 triliun seiring kenaikan harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) akibat gejolak geopolitik global.

"Saat ICP-nya masih di 70 dolar AS per barel, itu subsidi kita mencapai Rp87 triliun. Tetapi begitu ICP-nya rata-rata sekarang di angka 90 sampai 100 dolar AS per barel, subsidi kita di atas hampir Rp100 triliun,” ucap Bahlil dalam peresmian Kilang LPG Cilamaya di Karawang, Jawa Barat, Kamis, 15 Oktober 2026.

Bahlil, yang juga menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menjelaskan bahwa kenaikan tersebut dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik. Kondisi itu antara lain dipicu konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, perang Rusia-Ukraina, serta konflik yang meluas hingga Arab Saudi.

Menurut Bahlil, berbagai konflik tersebut menimbulkan ketidakpastian di sektor energi global.

"Hampir semua dunia sekarang berpikir tentang bagaimana bisa mengamankan sektor energi mereka dari dalam negeri mereka masing-masing. Ini tantangan kita," ucap Bahlil.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, pemerintah tengah menyiapkan gas alam terkompresi atau compressed natural gas (CNG) sebagai alternatif penggunaan LPG.

Baca Juga: Tekan Impor LPG, Danantara Minta Pertagas Perkuat Jaringan Gas Nasional

Bahlil menjelaskan bahwa CNG bukan merupakan sumber energi baru di Indonesia. Pasalnya, sejumlah restoran dan hotel telah memanfaatkan gas tersebut untuk memenuhi kebutuhan energi mereka.

"Dan harganya lebih murah 30 sampai 40 persen. Itu memakai gasnya yang jenis C1, C2. Itu melimpah di negara kita," ucap Bahlil.

Ia meyakini pemanfaatan CNG dapat menjadi solusi untuk menggantikan sebagian impor LPG. Namun, pemerintah masih perlu memastikan kelancaran pengujian tabung CNG berkapasitas 3 kilogram sebelum penerapannya lebih luas.

"Ini sebagai strategi untuk bagaimana kita melahirkan substitusi impor, namun tabungnya yang 3 kg ini lagi diuji. Kalau tabung yang 12 kg itu sudah dipakai," kata Bahlil.

Sementara itu, Kementerian ESDM menetapkan rata-rata ICP pada September 2026 sebesar 112,81 dolar AS per barel. Angka tersebut meningkat 23,38 dolar AS dibandingkan dengan Agustus 2026 yang tercatat sebesar 89,43 dolar AS per barel.

Penetapan harga tersebut tercantum dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 395.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Indonesia Bulan September 2026.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman mengatakan kenaikan ICP tersebut mencerminkan kondisi pasar minyak global yang dipengaruhi ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya risiko gangguan pasokan.

Baca Juga: Danantara Buka Jalan Kurangi Impor LPG Lewat Jargas Nasional

"Rata-rata ICP bulan September 2026 yang melonjak naik menjadi 112,81 dolar AS per barel merupakan cerminan dari dinamika pasar minyak global yang dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya risiko gangguan pasokan (supply disruption risk). Kenaikan ini terjadi secara menyeluruh pada seluruh benchmark internasional," ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman.

Laode menjelaskan bahwa meningkatnya konflik militer dan kebuntuan diplomasi di kawasan Timur Tengah, terutama ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, turut meningkatkan risiko keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute penting bagi ekspor minyak dunia.

Selain itu, penundaan kuota produksi oleh OPEC+ serta serangan berkelanjutan terhadap infrastruktur kilang dan terminal ekspor minyak di Rusia dan kawasan Laut Merah turut memperketat pasokan minyak mentah global.

(Sumber: Antara)

x|close