Bahlil Sebut Stok Pertalite Turun karena Perpindahan dari BBM Nonsubsidi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 16 Okt 2026, 14:43
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia memberi keterangan ketika dijumpai di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat, 16 Oktober 2026. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia memberi keterangan ketika dijumpai di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat, 16 Oktober 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menyebut persediaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite kini berada di kisaran 16 hingga 18 hari, turun dari sebelumnya lebih dari 20 hari. Kondisi ini terjadi karena sebagian konsumen BBM nonsubsidi beralih menggunakan BBM bersubsidi.

“Secara stok nasional kita, BBM itu di 16–18 hari. Yang terjadi pergeseran dari 16–18 hari itu adalah RON 90 (Pertalite),” ucap Bahlil ketika dijumpai di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat, 16 Oktober 2026.

Bahlil menjelaskan, perubahan pola konsumsi tersebut dipicu oleh perbedaan harga antara Pertalite dan Pertamax. Konsumen yang sebelumnya menggunakan Pertamax kini beralih ke Pertalite sehingga meningkatkan kebutuhan terhadap BBM bersubsidi tersebut.

Bahlil, yang juga menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengatakan proses pencampuran atau blending untuk memproduksi Pertalite saat ini masih berlangsung di kilang.

Baca Juga: Pertamax Naik, Mahasiswa KMHDI Minta Stok Pertalite Dijaga

Ia memperkirakan pemulihan stok Pertalite hingga kembali mencapai kisaran 20 hari seperti sebelumnya membutuhkan waktu sekitar satu pekan.

“Mungkin untuk mencapai di angka 20 hari itu ya kita butuh waktu seminggu. Seminggu selesai. Tapi di 16–18 hari itu kan bukan berarti kita kekurangan standar minimal,” kata Bahlil.

Bahlil memastikan persediaan jenis BBM lainnya tidak mengalami masalah. Jenis BBM tersebut meliputi Biosolar, Pertamax dengan RON 92, Pertamax Green dengan RON 95, serta Pertamax Turbo dengan RON 98.

“Untuk Biosolar, RON 92, RON 95, RON 98 itu nggak ada masalah, nggak ada masalah, yang terjadi pergeseran itu RON 90,” ucap Bahlil.

Baca Juga: Bahlil Sebut Antrean BBM di Bali Mulai Terurai, Pemulihan Berlanjut

Sebelumnya, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat peningkatan konsumsi Pertalite hingga 12,92 persen pada Juli 2026. Kenaikan tersebut terjadi sekitar satu bulan setelah harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax naik.

Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menjelaskan, sebelum kenaikan harga Pertamax, rata-rata penyaluran Pertalite mencapai 75.795 kiloliter (KL) per hari. Namun, setelah harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter pada 10 Juni 2026, penyaluran Pertalite mengalami peningkatan.

Pada 10 Juni 2026, rata-rata konsumsi Pertalite tercatat sebanyak 82.760 KL per hari. Angka tersebut meningkat 9,19 persen atau bertambah 6.965 KL per hari dibandingkan rata-rata penyaluran sebelum kenaikan harga Pertamax.

Peningkatan berlanjut pada Juli 2026. Konsumsi Pertalite mencapai rata-rata 85.589 KL per hari, naik 12,92 persen atau bertambah 9.794 KL per hari dibandingkan periode sebelum harga Pertamax naik.

Wahyudi mengatakan konsumsi Pertalite kemudian sedikit menurun pada Agustus 2026. Rata-rata penyalurannya tercatat sebesar 84.368 KL per hari, lebih rendah dibandingkan dengan Juli.

Meski mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, rata-rata konsumsi Pertalite pada Agustus masih berada di atas tingkat penyaluran sebelum kenaikan harga Pertamax.

(Sumber: Antara)

x|close