BI Gandeng Kementan Kendalikan Inflasi Pangan yang Tembus 5 Persen

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 19 Okt 2026, 20:50
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti (NTVnews)

Ntvnews.id, Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyiapkan koordinasi dengan Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mengendalikan inflasi pangan yang telah mencapai 5 persen. Langkah ini ditempuh guna menjaga stabilitas harga komoditas pangan dan mengembalikan inflasi harga bergejolak (volatile food) ke kisaran sasaran.

Persoalan tersebut menjadi salah satu hal yang dilaporkan jajaran BI kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat evaluasi ekonomi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 19 Oktober 2026.

"Memang kami juga laporkan yang memang perlu menjadi perhatian adalah inflasi di pangan ya, volatile food inflation yang memang mencapai 5%," ujar Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti dalam konferensi pers.

Untuk merespons kenaikan inflasi tersebut, BI akan berkoordinasi dengan Kementan dalam menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi pangan. Upaya itu diharapkan dapat menekan tekanan harga sekaligus menjaga inflasi tetap berada dalam rentang yang ditetapkan.

Baca Juga: Bahlil Bantah Ada Pemangkasan Kuota BBM di Bali

"Nah ini tadi kami laporkan dan juga koordinasi nanti dengan Kementerian Pertanian bagaimana kita bisa menjaga untuk volatile food inflation agar masuk di dalam koridor Bank Indonesia 2,5 plus minus 1%," jelas Destry.

Di tengah kenaikan inflasi pangan, BI menilai perkembangan ekonomi domestik masih menunjukkan kondisi yang terkendali. Hal tersebut terlihat dari inflasi inti yang masih berada pada level relatif rendah.

"Untuk inflasi kami juga laporkan untuk inflasi inti yang menjadi menggambarkan pergerakan dari perekonomian masih cukup terkendali, di bulan September masih 2,8%," tuturnya.

Selain menjaga stabilitas harga, BI tetap memprioritaskan upaya mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah. Kebijakan tersebut diperlukan untuk menghadapi gejolak pasar keuangan global, termasuk kondisi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama di sejumlah negara maju (higher for longer).

"Dari Bank Indonesia tadi kami melaporkan terkait dengan stabilitas karena tetap Bank Indonesia fokus kita adalah menjaga stabilitas rupiah, baik dalam kaitannya dengan inflasi maupun kaitannya dengan nilai tukar," tambah Destry.

Untuk mengantisipasi tekanan dari luar negeri, BI memastikan akan terus memantau perkembangan pasar keuangan dan melakukan intervensi apabila diperlukan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.

"Intinya Bank Indonesia akan selalu tetap berjaga di pasar," tegasnya.

Destry juga menyampaikan bahwa Presiden Prabowo meminta BI mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan yang tersedia. Instrumen tersebut mencakup intervensi di pasar valuta asing serta pemberian insentif untuk mendorong aktivitas lindung nilai (hedging), sehingga dapat membantu menjaga likuiditas valuta asing dan menarik aliran modal masuk.

"Kami diminta juga oleh Bapak Presiden untuk terus melihat, upayakan kebijakan-kebijakan yang kami miliki apakah itu bentuknya intervensi di spot, DNDF, dan NDF, ataupun juga dalam bentuk insentif biaya hedging yang juga sudah kami berikan sejak akhir bulan Juni yang lalu, dan hingga saat ini sudah bisa mendatangkan inflow baik dalam bentuk FX swap ataupun dalam bentuk DNDF senilai sekitar 8 miliar sampai 9 miliar US dolar," pungkas Destry.

x|close