Bahlil Evaluasi Perjanjian Ekspor Energi ke Negara yang Dinilai Tak Hargai RI

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 22 Okt 2026, 16:49
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menko Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (tengah) menyampaikan keterangan pers bersama Gubernur Bali Wayan Koster (kiri) dan Dirut Pertamina Simon Aloysius Mantiri (kanan) usai rapat koordinasi (rakor) terkait distribusi BBM di Fuel Terminal (FT) Sanggaran, Denpasar, Bali, Senin (19/10/2026). Menko Bahlil meminta Pertamina untuk meningkatkan cadangan BBM jenis Pertalite di wilayah Bali yang saat ini rata-rata mencapai 11-12 hari menjadi 15 hari serta menambah jumlah armada kapal pengangkut BBM ke Bali untuk mempercepat penanganan gangguan pasokan dan distribusi BBM yang mengakibatkan antrean pembelian BBM di berbagai SPBU di Bali beberapa waktu terakhir. Menko Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (tengah) menyampaikan keterangan pers bersama Gubernur Bali Wayan Koster (kiri) dan Dirut Pertamina Simon Aloysius Mantiri (kanan) usai rapat koordinasi (rakor) terkait distribusi BBM di Fuel Terminal (FT) Sanggaran, Denpasar, Bali, Senin (19/10/2026). Menko Bahlil meminta Pertamina untuk meningkatkan cadangan BBM jenis Pertalite di wilayah Bali yang saat ini rata-rata mencapai 11-12 hari menjadi 15 hari serta menambah jumlah armada kapal pengangkut BBM ke Bali untuk mempercepat penanganan gangguan pasokan dan distribusi BBM yang mengakibatkan antrean pembelian BBM di berbagai SPBU di Bali beberapa waktu terakhir. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta -Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, secara tegas menyatakan akan segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap berbagai kontrak ekspor energi dengan negara-negara lain yang dinilai tidak kooperatif serta tidak menunjukkan sikap saling menghargai terhadap Indonesia.

“Saya akan melakukan evaluasi. Saya tidak segan-segan untuk mempertimbangkan untuk tidak melakukan ekspor kepada negara mereka yang tidak menghargai Indonesia,” ucap Bahlil dalam agenda Peresmian Penerimaan Gas JNE#6 dan Fasilitas Produksi Lapangan Maha - South Hub, yang dipantau secara daring dari Jakarta, pada Kamis, 22 Oktober 2026.

Bahlil menyampaikan bahwa apabila terdapat negara mitra yang memiliki persoalan dengan Indonesia, segala permasalahan tersebut seharusnya dapat didiskusikan dan diselesaikan dengan baik melalui prinsip kesetaraan dan saling menghormati.

“Jangan di saat mereka butuh, baru mereka datang untuk memohon. Di saat ada persoalan lain, yang sesungguhnya itu mampu dibicarakan, seperti saudara yang tidak tahu adat saja. Ini yang kami tidak mau,” ujar Bahlil dengan nada tegas.
 

Ia juga mengingatkan bahwa prinsip kedaulatan negara merupakan harga mati bagi Indonesia, di mana kemerdekaan dan kedaulatan bangsa ini diraih melalui perjuangan panjang yang tidak mudah.

Kendati demikian, bagi negara-negara sahabat yang menjunjung tinggi hubungan kerja sama yang setara, harmonis, serta dilandasi rasa saling menghargai, Bahlil memastikan bahwa Indonesia sangat terbuka dan siap untuk terus menjalin kerja sama ekspor energi.

“Kalau saling menghargai, sekali pun mereka tidak punya kontrak, kita akan membuat kontrak dan kita akan kasih kepada mereka. Itulah asas kesetaraan,” tegas Bahlil.

Sebelumnya, pada Rabu (21/10) usai mengikuti sidang kabinet, Bahlil sempat mengungkapkan rencana kebijakan untuk tidak memperpanjang kontrak ekspor komoditas gas ke negara tetangga.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga memberikan peringatan keras kepada pihak negara tetangga yang kerap melayangkan pandangan atau sikap miring terhadap Indonesia agar berhati-hati dalam bersikap.
 

“Jadi, kalau negara-negara lain mau pandangan lain untuk kita, hati-hati. Saya juga mungkin memikirkan untuk gas saya tidak perpanjang untuk ekspor ke negara tetangga,” pungkas Bahlil.
 
(Sumber: Antara)
 
x|close