IMF Peringatkan Risiko AI, Negara Berkembang dan Pekerja Muda Terancam Tertinggal

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 25 Okt 2026, 13:31
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Zaki Islami
Editor
Bagikan
Kalimat Kalimat

Ntvnews.id, Jakarta - Dana Moneter Internasional (IMF) bersama Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) mengingatkan bahwa pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berpotensi memperbesar kesenjangan ekonomi antara negara maju dan negara berkembang.

Di satu sisi, pemanfaatan AI dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi global. Namun, keuntungan dari teknologi tersebut dikhawatirkan hanya terkonsentrasi pada negara yang memiliki sumber daya memadai, perusahaan besar, serta kelompok pekerja dengan keterampilan yang sesuai.

Risiko ketertinggalan dapat semakin besar apabila negara berkembang belum memiliki akses memadai terhadap listrik, infrastruktur digital, dan kemampuan sumber daya manusia untuk memanfaatkan AI secara optimal.

Baca Juga: Trump Sebut Pengguna Istilah Artificial Intelligence sebagai Musuh

Dilansir dari Reuters, Minggu, 25 Oktober 2026, peringatan tersebut muncul di tengah derasnya investasi global untuk pengembangan cip dan infrastruktur AI. Belanja besar di sektor ini turut menopang pertumbuhan ekonomi dunia dan mendorong sejumlah indeks saham mencapai rekor tertinggi.

Meski demikian, besarnya investasi juga menimbulkan pertanyaan mengenai kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan yang sebanding, khususnya ketika biaya pinjaman mengalami kenaikan.

IMF Soroti Kesiapan Negara Berkembang

Wakil Direktur Departemen Urusan Fiskal IMF, Era Dabla-Norris, menilai persoalan yang dihadapi negara berkembang bukan hanya soal ketersediaan akses terhadap teknologi AI, tetapi juga kemampuan untuk mengadopsi dan memperluas penggunaannya.

"Bagi banyak negara berkembang, pertanyaan terpenting adalah apakah mereka mampu mengadopsi dan menyebarluaskan penggunaan AI," kata Dabla-Norris dalam forum Reuters Global Markets Forum.

IMF memperkirakan penggunaan AI secara efektif dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dunia hingga 0,5 persen setiap tahun dalam jangka menengah. Namun, kontribusi teknologi tersebut terhadap peningkatan produktivitas secara keseluruhan hingga kini dinilai belum signifikan.

"Namun, bukti peningkatan produktivitas secara keseluruhan sejauh ini masih jauh lebih kecil," ujar Dabla-Norris.

Ilustrasi chip memori untuk pusat data kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) <b>(Antara)</b> Ilustrasi chip memori untuk pusat data kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) (Antara)

Sementara itu, OECD memperkirakan penerapan AI berpotensi meningkatkan pertumbuhan produktivitas tahunan negara-negara anggotanya sebesar 0,4 hingga 1,2 persen.

Kepala Ekonom OECD Stefano Scarpetta mengatakan pemanfaatan AI di lingkungan kerja belum berkembang secepat penggunaannya oleh masyarakat umum. Penerapan teknologi tersebut dalam fungsi utama perusahaan juga masih terbatas.

"Ada kesenjangan besar antara potensi penggunaan AI dan penerapannya secara nyata," kata Scarpetta.

Sekitar 40 Persen Pekerjaan Dunia Berpotensi Terdampak AI

Selain kesenjangan ekonomi antarnegara, IMF turut menyoroti kemungkinan perubahan besar pada pasar tenaga kerja akibat kemajuan AI.

Lembaga tersebut memperkirakan sekitar 40 persen pekerjaan di seluruh dunia berpotensi terdampak oleh perkembangan teknologi tersebut. Kekhawatiran ini menguat seiring sejumlah perusahaan besar mulai melakukan pengurangan karyawan di tengah upaya meningkatkan efisiensi operasional.

Bank asal Inggris, Barclays, misalnya, mengumumkan rencana memangkas sekitar 5.000 pekerjaan sepanjang 2026. Kebijakan tersebut berkaitan dengan langkah perusahaan memanfaatkan teknologi, termasuk AI, untuk mengurangi biaya dan meningkatkan keuntungan.

Perusahaan perdagangan elektronik eBay juga dilaporkan berencana mengurangi sekitar sembilan persen tenaga kerjanya. Sementara itu, produsen cip Qualcomm diperkirakan melakukan pengurangan karyawan secara global melalui kebijakan yang berorientasi pada evaluasi kinerja.

Meski demikian, laporan tersebut tidak menyebutkan bahwa seluruh rencana pengurangan karyawan di ketiga perusahaan itu secara langsung disebabkan oleh penggunaan AI.

Pekerja Muda Menghadapi Risiko Lebih Besar

IMF turut memperingatkan bahwa pekerja muda, terutama mereka yang baru memulai karier, berpotensi menghadapi dampak lebih besar dari perkembangan AI.

Dabla-Norris menjelaskan, risiko tersebut dapat muncul ketika teknologi AI mulai mengambil alih tugas-tugas dasar yang selama ini menjadi kesempatan bagi karyawan baru untuk belajar dan memperoleh pengalaman kerja.

Pekerjaan pada tingkat pemula umumnya menjadi sarana bagi pekerja untuk mengembangkan keterampilan, memahami alur pekerjaan, serta membangun pengalaman sebelum beralih ke tanggung jawab yang lebih besar.

Apabila sebagian tugas tersebut digantikan oleh AI, kesempatan pekerja muda untuk belajar langsung di lingkungan kerja dikhawatirkan semakin terbatas. Kondisi ini berpotensi menyulitkan mereka dalam membangun pengalaman yang dibutuhkan untuk mengembangkan karier.

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, IMF dan OECD menekankan pentingnya peningkatan keterampilan tenaga kerja, pemerataan akses terhadap teknologi digital, serta penguatan infrastruktur pendukung.

Tanpa langkah tersebut, manfaat AI berisiko lebih banyak dinikmati negara dan perusahaan yang telah memiliki sumber daya serta kemampuan teknologi yang memadai. Sementara itu, negara berkembang dan kelompok pekerja yang belum siap menghadapi perubahan dapat semakin tertinggal dalam persaingan ekonomi global.

x|close