Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengungkapkan bahwa tingkat inflasi tahunan (year-on-year/yoy) pada bulan September 2026 tercatat berada di level 3,28 persen. Angka tersebut dinilai masih berada dalam koridor target sasaran yang ditetapkan pemerintah, sehingga mampu menjaga keseimbangan kepentingan antara pihak produsen, konsumen, serta stabilitas perekonomian nasional.
“Jadi inflasi kita di September untuk year on year (yoy/secara tahunan) itu pada posisi 3,28 persen. Ini masih dalam target, rentang target kita yaitu 2,5 persen plus minus 1,5 persen,” ujar Mendagri dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Pangan yang digelar di kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, pada hari Senin (26/10).
Tito menjelaskan, pemerintah menetapkan sasaran inflasi di angka 2,5 persen dengan rentang toleransi hingga 3,5 persen agar titik keseimbangan antara kesejahteraan produsen dan daya beli konsumen dapat terpelihara secara optimal.
Ia menegaskan bahwa tingkat inflasi yang terlalu rendah justru berisiko menekan pendapatan para petani, nelayan, serta pelaku usaha kecil. Oleh karena itu, kesejahteraan produsen perlu dilindungi melalui kebijakan harga yang seimbang di tingkat nasional.
Sebaliknya, apabila inflasi melonjak terlalu tinggi, hal tersebut dikhawatirkan dapat menggerus daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah. Atas dasar itulah pemerintah berupaya keras menjaga kenaikan harga kebutuhan pokok agar senantiasa berada dalam batasan sasaran nasional yang aman.
Sementara itu, untuk tingkat inflasi bulanan periode Agustus hingga September, pemerintah mencatat adanya kenaikan sebesar 0,30 persen. Komoditas yang menjadi penyumbang utama laju inflasi bulanan tersebut berasal dari kelompok makanan dan minuman, yang didorong oleh kenaikan harga cabai secara nasional.
Menurut Tito, lonjakan harga cabai dipicu oleh faktor cuaca kering yang melanda sejumlah daerah sentra produksi, sehingga volume pasokan sementara belum mampu mencukupi kebutuhan pasar secara optimal.
Sebagai langkah solutif jangka panjang, pemerintah mendorong masifnya program penanaman cabai, baik di tingkat pedesaan maupun di kawasan perkotaan, guna memperkuat ketahanan pasokan sekaligus menjaga kestabilan harga komoditas hortikultura secara berkelanjutan.
“Sebenarnya bisa diatasi dengan menggenjot program tanam cabai yang banyak dilakukan di berbagai daerah, di desa-desa, di kelurahan, di kota,” tutur Tito.
Melalui kebijakan penanaman mandiri dan terpadu ini, ketersediaan cabai diharapkan tetap terjaga ketika produksi di daerah sentra mengalami penurunan, sekaligus memberikan peluang margin keuntungan yang lebih baik bagi para petani di tengah dinamika pasar domestik.
Ke depan, pemerintah berkomitmen untuk terus memantau pergerakan harga pangan secara intensif melalui koordinasi lintas kementerian/lembaga serta pemerintah daerah agar instrumen pengendalian inflasi dapat bekerja secara efektif sesuai target. Tito pun optimistis bahwa konsistensi dalam pengendalian inflasi ini akan mampu menjaga stabilitas ekonomi makro sekaligus memberikan kepastian bagi dunia usaha, petani, dan seluruh masyarakat.
(Sumber: Antara)
Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian (ketiga kanan) dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Pangan di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Senin (26/10/2026). (Antara)