Ntvnews.id, Jakarta - Penguatan industri berbasis komoditas dalam negeri melalui hilirisasi dinilai menjadi salah satu langkah strategis untuk menjaga ketahanan ekonomi Indonesia. Kebijakan ini memungkinkan berbagai sumber daya alam diolah menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasar bahan mentah di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Peran agroindustri dalam mendorong kinerja perdagangan Indonesia terlihat dari perkembangan ekspor sejumlah komoditas unggulan. Kementerian Perdagangan mencatat nilai ekspor Indonesia pada April 2026 mencapai US$25,30 miliar. Ekspor nonmigas, termasuk produk agroindustri, menjadi salah satu penopang utama capaian tersebut.
Sejumlah komoditas bahkan mencatatkan pertumbuhan ekspor yang cukup signifikan. Kopi, teh, dan rempah-rempah mengalami kenaikan sebesar 54,44 persen. Sementara itu, ekspor tembakau dan rokok tumbuh 43,49 persen.
Potensi tersebut menjadi modal bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya dalam persaingan industri global. Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menilai kekayaan sumber daya hayati yang dimiliki Indonesia dapat menjadi landasan untuk mengembangkan industri agro yang berdaya saing tinggi, termasuk di antara negara-negara anggota BRICS.
Baca Juga: Syarat Jadi Negara Maju, BRIN Tekankan Pentingnya Hilirisasi Riset
Sejumlah capaian di pasar internasional turut menunjukkan perkembangan industri pengolahan komoditas nasional. Berdasarkan catatan Kementerian Perindustrian, Indonesia menempati posisi keenam sebagai eksportir produk hasil tembakau terbesar di dunia. Di sektor lainnya, Indonesia berada di peringkat keempat sebagai produsen kopi dunia sekaligus produsen produk olahan kakao terbesar keempat secara global.
“Salah satu produk hasil tembakau unggulan adalah cerutu premium berbasis tembakau Deli dan Besuki yang telah diakui pasar global," ungkap Faisol baru-baru ini.
Selain memberikan dampak terhadap perdagangan, pengembangan industri strategis juga berkaitan dengan upaya memperkuat ketahanan negara.
Kris Wijoyo Soepandji, Staf Khusus Menteri Pertahanan Bidang Tata Negara, dalam tulisannya berjudul Mengurai Tantangan Geopolitik dan Pertahanan Negara, menguraikan pentingnya membangun kekuatan ekonomi melalui sektor-sektor strategis.
Baca Juga: Hilirisasi Indonesia Kian Meluas, Ekspor Diproyeksikan Capai US$50 Miliar pada 2026
Ia menyoroti bahwa sistem pertahanan negara tidak hanya bertumpu pada kekuatan militer, tetapi juga membutuhkan dukungan sektor nonmiliter. Dalam kerangka tersebut, peningkatan nilai tambah serta daya saing industri nasional menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan ekonomi.
Pandangan tersebut sejalan dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto. Melalui Asta Cita poin kedua yang mengedepankan konsep Defence Supporting Economy, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara.
Pengembangan industri yang mampu menghasilkan produk bernilai tambah, membuka kesempatan kerja, serta memperluas jangkauan ekspor menjadi salah satu faktor pendukung kemandirian ekonomi. Dengan demikian, penguatan sektor industri strategis juga dapat memberikan kontribusi terhadap daya tahan nasional dalam menghadapi berbagai tekanan eksternal.
Dalam implementasinya, percepatan hilirisasi agroindustri perlu diarahkan pada komoditas potensial seperti kelapa, cokelat, dan tembakau. Pengembangan sektor tersebut berpeluang mengoptimalkan pemanfaatan bahan baku domestik, memperkuat rantai pasok, serta memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi petani dan pelaku industri pendukung.
Baca Juga: Pemerintah Jaga Pasokan Energi dan Dorong Penguatan Hilirisasi Nasional
Dukungan pemerintah melalui kebijakan yang tepat dan penyederhanaan regulasi juga dibutuhkan agar investasi serta aktivitas manufaktur dapat berkembang. Langkah ini diharapkan mampu memperluas penyerapan tenaga kerja, meningkatkan penerimaan negara, dan memperbesar perolehan devisa melalui kegiatan ekspor.
Untuk mencapai target tersebut, penyusunan peta jalan hilirisasi agroindustri yang menyeluruh menjadi salah satu langkah penting. Perencanaan yang terarah diperlukan agar kebijakan pengembangan industri dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi seluruh mata rantai produksi.
Indonesia memiliki keunggulan sebagai salah satu negara penghasil utama berbagai komoditas tropis di dunia. Potensi ini dapat menjadi kekuatan untuk meningkatkan daya saing industri pengolahan sekaligus memperkokoh fondasi ekonomi nasional. Penguatan agroindustri pun tidak hanya berkaitan dengan pencapaian pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari strategi menjaga ketahanan dan keberlanjutan pembangunan Indonesia.
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza