A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Invalid argument supplied for foreach()

Filename: libraries/General.php

Line Number: 87

Backtrace:

File: /www/ntvweb/application/libraries/General.php
Line: 87
Function: _error_handler

File: /www/ntvweb/application/controllers/Read.php
Line: 64
Function: popular

File: /www/ntvweb/index.php
Line: 326
Function: require_once

Mengenal Influenza A: Gejala, Tingkat Bahaya, dan Langkah Penanganannya - Ntvnews.id

Mengenal Influenza A: Gejala, Tingkat Bahaya, dan Langkah Penanganannya

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 22 Sep 2026, 14:39
thumbnail-author
Muhammad Ridha
Penulis
thumbnail-author
Dedi
Editor
Bagikan
Ilustrasi sampel influenza A(H3N2) subclade K. Ilustrasi sampel influenza A(H3N2) subclade K. (ANTARA)

Ntvnews.id, Jakarta - Isu mengenai penyebaran Influenza A tengah menjadi sorotan publik seiring dengan adanya laporan peningkatan temuan kasus virus tersebut di berbagai wilayah Indonesia.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) turut memberikan perhatian khusus terhadap situasi ini dengan mendorong dilakukannya pemetaan wilayah serta analisis pola penyebarannya, mengingat sebagian besar kasus yang terdeteksi ternyata menyerang kelompok usia anak-anak.

Berdasarkan pembaruan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) hingga 19 September 2026, tercatat adanya peningkatan proporsi kasus positif influenza pada surveilans minggu ke-36 yang mencapai angka 46 persen, meningkat dari 35 persen pada minggu sebelumnya.

Dari total 185 spesimen yang melalui proses pemeriksaan, ditemukan 86 kasus positif influenza yang didominasi oleh 76 kasus influenza A(H1N1)pdm09, disusul delapan kasus A(H3N2), dan dua kasus influenza B varian Victoria. Secara demografis, sebanyak 42 persen dari total temuan kasus tersebut berasal dari rentang usia 0 hingga 4 tahun.

Meskipun terdapat peningkatan persentase temuan, pihak Kemenkes menegaskan bahwa tingkat aktivitas penyebaran influenza secara umum masih berada pada level yang rendah dan situasi secara nasional dipastikan tetap terkendali.

Oleh sebab itu, informasi terkait peningkatan penyebaran Influenza A ini memang patut untuk diwaspadai oleh masyarakat, namun tidak serta-merta mengindikasikan adanya kondisi darurat kesehatan publik maupun wabah berskala besar.

Menurut panduan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), influenza musiman pada manusia mayoritas dipicu oleh infeksi virus influenza tipe A dan B. Secara lebih spesifik, Influenza A, yang menyerang sistem pernapasan manusia, diklasifikasikan kembali menjadi berbagai subtipe berdasarkan dua protein utama yang terdapat pada permukaan virus, yaitu protein hemaglutinin (H) dan neuraminidase (N).

Adapun subtipe dari Influenza A yang saat ini diketahui beredar luas di kalangan manusia mencakup varian A(H1N1)pdm09 serta varian A(H3N2).

Perlu diketahui bahwa varian A(H1N1)pdm09 merupakan varian virus yang sebelumnya menjadi penyebab utama pandemi global influenza pada tahun 2009 silam. Pascaberakhirnya masa pandemi tersebut, virus ini mengalami transisi menjadi salah satu patogen influenza musiman yang terus bersirkulasi di lingkungan.

Dengan demikian, kemunculan nama H1N1 dalam laporan kesehatan terkini bukan berarti menandakan kembalinya pandemi 2009, melainkan menegaskan posisinya sebagai bagian dari virus influenza musiman biasa.

Baca Juga: Jepang Temukan Virus PMK pada Muatan Daging Kambing Mentah dari China

Terkait penularannya, virus Influenza A memiliki karakteristik penyebaran yang relatif mudah dan cepat antarmanusia. Proses transmisi ini utamanya terjadi melalui percikan atau partikel pernapasan yang terlepas ke udara pada saat individu yang terinfeksi sedang batuk, bersin, atau bahkan sekadar berbicara.

Risiko terpapar virus ini akan melonjak secara signifikan apabila seseorang berada di keramaian atau melakukan kontak jarak dekat dengan penderita. Faktor inilah yang memicu penyebaran virus secara masif di area-area publik seperti institusi pendidikan, area perkantoran, hingga ruangan tertutup, terlebih saat memasuki musim hujan di Indonesia.

Dari segi klinis, gejala yang ditimbulkan oleh infeksi Influenza A pada dasarnya tidak memiliki perbedaan yang signifikan bila disandingkan dengan jenis influenza lainnya. WHO menguraikan bahwa gejala infeksi umumnya muncul secara mendadak dengan keluhan yang meliputi demam, batuk, nyeri tenggorokan, pilek, sakit kepala, nyeri pada area otot dan persendian, serta rasa lelah yang cukup ekstrem.

Gejala batuk bahkan dapat bertahan dalam durasi yang lebih panjang, yakni mencapai dua minggu atau lebih, meskipun pada sebagian penderita gejalanya hanya menyerupai “flu biasa” dan mereda secara mandiri dalam kurun waktu sekitar sepekan.

Namun, menyepelekan influenza sebagai “flu biasa” merupakan sebuah kekeliruan, karena infeksi ini dapat memicu komplikasi mematikan pada kelompok berisiko tinggi. WHO mengategorikan anak-anak balita, populasi lanjut usia, wanita hamil, serta individu dengan riwayat penyakit penyerta seperti penyakit jantung, paru-paru, ginjal, fungsi hati, dan gangguan sistem imun, sebagai kelompok yang rentan mengalami influenza berat.

Komplikasi fatal yang timbul dapat berupa infeksi paru-paru (pneumonia), dan pada kasus yang lebih parah, dapat berujung pada kondisi sepsis yang merusak fungsi organ tubuh, hingga memperburuk asma.

Baca Juga: Kasus Super Flu Ditemukan di NTB, Anak Perempuan 12 Tahun Positif Influenza A H3N2 Subclade K

Publik belakangan ini juga dihebohkan dengan perbincangan seputar varian influenza A(H3N2) subclade K yang ramai sepanjang tahun 2026. Kementerian Kesehatan sebelumnya telah mengeluarkan surat edaran khusus mengenai penanggulangan varian ini, mengingat subclade K telah terdeteksi di Indonesia sejak September 2025 dan menyebar di 13 provinsi dengan 74 kasus temuan hingga Januari 2026.

Meskipun data surveilans terbaru hingga minggu ke-36 bulan September 2026 masih mencatat keberadaannya, laporan menunjukkan tidak adanya pasien positif influenza yang dirawat di ICU. Hal ini membuktikan bahwa paparan subclade K tidak otomatis memicu penyakit berat, melainkan sangat bergantung pada ketahanan dan faktor kondisi penyerta pasien.

Sebagai pedoman penanganan mandiri, flu biasanya dapat membaik dengan istirahat yang maksimal dan menjaga asupan cairan tubuh. Namun, Kemenkes sangat mengimbau masyarakat untuk segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat apabila gejala tak kunjung membaik setelah tiga hari.

Bantuan medis darurat diwajibkan apabila pasien mulai mengalami kesulitan bernapas, sesak, nyeri dada, kebingungan, pusing hebat, tubuh sangat lemas, hingga dehidrasi. Kelompok masyarakat dengan risiko tinggi juga sangat disarankan untuk segera berkonsultasi ke dokter tanpa perlu menunggu hingga gejala berubah menjadi parah.

(Sumber: ANTARA)

x|close