IDAI Ingatkan Risiko Infeksi Salmonella pada Bayi yang Diberi Telur Mentah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 12 Okt 2026, 12:33
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Arsip foto - Petugas menimbang berat badan anak balita di Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) Matabubu, Kendari, Sulawesi Tenggara Arsip foto - Petugas menimbang berat badan anak balita di Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) Matabubu, Kendari, Sulawesi Tenggara (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau masyarakat agar tidak memberikan telur mentah maupun setengah matang kepada bayi dan anak. Telur yang tidak dimasak hingga matang berisiko mengandung bakteri Salmonella penyebab infeksi saluran pencernaan.

"Telur mentah atau setengah matang tidak dianjurkan untuk diberikan kepada bayi dan anak, terutama karena risiko keamanan pangan," ujar Ketua Pengurus Pusat IDAI Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio(K), dalam pernyataan tertulis yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin, 12 Oktober 2026.

Imbauan tersebut disampaikan di tengah perhatian masyarakat terhadap kasus seorang bayi di Surabaya, Jawa Timur, yang dilaporkan meninggal dunia setelah diduga diberi telur mentah oleh anggota keluarganya. Informasi mengenai kejadian itu turut menjadi perbincangan di media sosial dalam beberapa hari terakhir.

Infeksi Salmonella atau salmonelosis dapat menyebabkan sejumlah gejala, seperti diare, demam, sakit perut, muntah, hingga dehidrasi. Kondisi tersebut berisiko lebih berat pada bayi dan anak kecil serta dapat memicu komplikasi serius.

Piprim menekankan bahwa pemberian makanan kepada bayi perlu disesuaikan dengan usia, kebutuhan gizi, tahap perkembangan, dan aspek keamanan pangan.

Baca Juga: Bayi 24 Hari di Surabaya Meninggal Usai Diberi Telur Mentah Sama Neneknya

"ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi," ujar dia.

IDAI juga mendukung rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menganjurkan pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. Setelah itu, makanan pendamping ASI (MPASI) umumnya mulai diberikan saat bayi berusia enam bulan, sembari tetap melanjutkan pemberian ASI hingga usia dua tahun atau lebih.

Meski demikian, dalam situasi tertentu, pemberian MPASI dapat dipertimbangkan mulai usia empat bulan berdasarkan penilaian dokter dan kesiapan perkembangan bayi. Sementara itu, MPASI tidak dianjurkan diberikan sebelum bayi berusia empat bulan.

IDAI menjelaskan bahwa telur yang dimasak sampai matang bisa menjadi sumber protein berkualitas tinggi sekaligus menyediakan berbagai zat gizi penting untuk mendukung pertumbuhan anak. Bahan pangan tersebut dapat diperkenalkan sebagai bagian dari MPASI dengan mempertimbangkan usia dan kesiapan bayi.

"Pastikan telur dimasak hingga putih dan kuning telurnya matang," kata Piprim.

Selain memastikan telur matang sempurna, orang tua dan pengasuh perlu menjaga kebersihan selama menyiapkan makanan. Langkah yang dianjurkan meliputi mencuci tangan dan peralatan memasak, mencegah kontaminasi silang, serta tidak menggunakan telur yang retak atau rusak.

Baca Juga: Mie Instan Rasa Ayam Disebut Sebabkan Salmonela di 14 Negara hingga 106 Orang Terinfeksi

IDAI mengimbau masyarakat untuk berkonsultasi dengan dokter jika memiliki pertanyaan mengenai kecukupan ASI, waktu yang tepat untuk memulai MPASI, kesiapan bayi menerima makanan, maupun pemilihan makanan yang aman bagi bayi.

(Sumber: Antara)

x|close