MUI Kukuh Tolak Rencana Konser Andrea Bocelli di Indonesia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 22 Okt 2026, 17:30
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara tegas kembali menyatakan sikap penolakannya terhadap rencana penyelenggaraan konser penyanyi tenor kenamaan asal Italia, Andrea Bocelli, yang dijadwalkan bakal manggung di kompleks Candi Borobudur serta JIExpo Kemayoran, Jakarta. Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara tegas kembali menyatakan sikap penolakannya terhadap rencana penyelenggaraan konser penyanyi tenor kenamaan asal Italia, Andrea Bocelli, yang dijadwalkan bakal manggung di kompleks Candi Borobudur serta JIExpo Kemayoran, Jakarta. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara tegas kembali menyatakan sikap penolakannya terhadap rencana penyelenggaraan konser penyanyi tenor kenamaan asal Italia, Andrea Bocelli, yang dijadwalkan bakal manggung di kompleks Candi Borobudur serta JIExpo Kemayoran, Jakarta.

“(MUI) sudah jelas menolak. Nah nanti kalau memang pemerintah tetap (mengizinkan), ya, itu urusan pemerintah,” ujar Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri, Sudarnoto Abdul Hakim, saat memberikan keterangan di Jakarta, pada Kamis (22/10).

Pernyataan penegasan tersebut disampaikan oleh Sudarnoto seusai menggelar pertemuan tertutup dan dialog bersama sejumlah perwakilan organisasi serta tokoh-tokoh lintas agama di Gedung MUI, Jakarta, guna menyikapi polemik rencana kedatangan musisi dunia tersebut ke tanah air.

Sudarnoto memaparkan bahwa penolakan ini didasari oleh rekam jejak Andrea Bocelli yang dinilai memiliki keterkaitan kuat, simpati, serta riwayat dukungan terhadap militer Israel. Ia mencontohkan beberapa catatan penampilan kontroversial sang penyanyi, di antaranya keterlibatannya dalam konser penggalangan dana The Friends of Israel Defence Force (FIDF) di Los Angeles pada tahun 2010 silam.
 

Selain itu, Bocelli juga tercatat pernah menggelar konser akbar di Tel Aviv yang disaksikan secara langsung oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pada tahun 2022, di mana ia tetap melanjutkan agenda tersebut meskipun telah mendapat seruan boikot secara luas dari para aktivis kemanusiaan pro-Palestina.

“Dan IDF kita tahu reputasinya adalah pembunuh terbesar dalam sejarah abad 20 dan abad 21. Andrea Bocelli dalam catatan data-data yang kami peroleh itu tidak menolak untuk hadir menggali dana (bagi IDF),” tegas Sudarnoto.

Dalam forum dialog lintas agama tersebut, Sudarnoto mengungkapkan bahwa terdapat dinamika serta perbedaan pandangan di antara para tokoh yang hadir. Sebagian peserta rapat sepakat menyatakan penolakan, sementara sebagian lainnya memberikan dukungan agar konser Andrea Bocelli tetap diizinkan untuk digelar di Indonesia.

Menurutnya, pihak-pihak yang mendukung penyelenggaraan konser umumnya mendasarkan argumen mereka pada aspek potensi ekonomi, pariwisata, serta daya tarik destinasi seperti Candi Borobudur. Kendati demikian, MUI berpandangan bahwa kalkulasi keuntungan ekonomi tersebut tidak sebanding dengan tragedi kemanusiaan yang terjadi di Palestina serta prinsip penegakan kedaulatan negara berdasarkan konstitusi UUD 1945.

“Nah tentu saja tadi sejumlah pembicara baik dari Islam maupun non-Islam sudah menyampaikan dan ada perspektif-perspektif yang memang berbeda tapi itu wajar saja,” kata dia.
 

“Seperti yang jelas sekali menyampaikan dukungan agar Bocelli tetap tampil digelar ya dari Walubi. Kita mengertilah mengapa dia mendukung, alasan-alasannya tadi sudah disampaikan. Ada soal Borobudur, ada soal macam-macam yah,” imbuhnya.

Menyikapi polemik yang terus bergulir di tengah masyarakat, MUI mendesak pemerintah pusat untuk segera bersikap tegas. Pihaknya berharap rekam jejak serta berbagai fakta terkait profil Andrea Bocelli dapat dijadikan bahan pertimbangan yang matang bagi pemerintah dalam mengambil keputusan untuk menolak izin penyelenggaraan konser tersebut.

“Jangan sampai nanti berlarut, nanti ada ketidakpastian, itu bisa bergejolak,” pungkas Sudarnoto.
 
(Sumber: Antara)
 
x|close