Pakar IPB Ungkap Penyebab Fenomena Penurunan Gaya Hidup di Kalangan Kelas Menengah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Nov 2026, 15:04
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Pakar perilaku konsumen IPB University Prof Megawati Simanjuntak Pakar perilaku konsumen IPB University Prof Megawati Simanjuntak (Antara)

Ntvnews.id, Bogor – Fenomena downgrade lifestyle atau penurunan gaya hidup semakin banyak terjadi di kalangan masyarakat kelas menengah. Kondisi ini terlihat dari kebiasaan mengurangi pengeluaran, beralih ke produk dengan harga lebih terjangkau, hingga menunda pemenuhan kebutuhan yang dinilai belum mendesak.

Pakar perilaku konsumen IPB University, Prof. Megawati Simanjuntak, menjelaskan bahwa dalam ilmu keluarga dan konsumen, perilaku tersebut dikenal sebagai strategi koping, yakni cara keluarga beradaptasi untuk mempertahankan kondisi keuangan. Upaya itu dilakukan melalui penghematan, pemilihan produk yang lebih murah, serta mencari sumber penghasilan tambahan.

"Dalam kajian ilmu keluarga dan konsumen, ini disebut strategi koping, yaitu cara keluarga menyesuaikan diri agar tetap bertahan. Berhemat dan mengganti produk dengan yang lebih murah merupakan bagian dari upaya tersebut, selain mencari tambahan penghasilan,” kata Prof Megawati Simanjuntak dalam keterangannya di Bogor, Jawa Barat, Rabu, 4 November 2026.

Fenomena penurunan gaya hidup tersebut belakangan menjadi perbincangan di media sosial. Megawati melihat terdapat dua hal yang menarik, yakni semakin banyaknya kelompok kelas menengah yang menerapkan pola hidup hemat, serta keterbukaan masyarakat dalam membagikan pengalaman tersebut melalui berbagai konten di media sosial.

Baca Juga: Gaya Hidup Hemat Energi Kian Menguat di Tengah Dinamika Kehidupan Modern

Ia mencontohkan perubahan kebiasaan konsumsi yang sebelumnya mungkin dilakukan secara pribadi, tetapi kini justru menjadi hal yang dibagikan kepada publik.

"Dulu, mengganti kopi kafe dengan kopi saset mungkin cukup disimpan sendiri. Sekarang, justru diceritakan,” katanya.

Menurut Megawati, sebagian besar perubahan gaya hidup yang terjadi pada kelompok kelas menengah saat ini lebih banyak dilatarbelakangi oleh keterbatasan ekonomi. Hal tersebut dipengaruhi oleh pendapatan yang tidak mengalami peningkatan signifikan, sementara harga kebutuhan sehari-hari terus naik. Di sisi lain, kewajiban membayar cicilan turut mempersempit ruang keuangan rumah tangga.

Ia menjelaskan bahwa tindakan berhemat dapat memiliki makna berbeda. Apabila dilakukan sebagai bagian dari pengelolaan keuangan yang terencana, kebiasaan tersebut dapat memberikan dampak positif karena membantu masyarakat mengurangi tekanan untuk memenuhi tuntutan gaya hidup.

"Namun, jika karena daya tahan keuangan keluarga menipis, kondisi itu menjadi sinyal yang perlu diwaspadai,” tuturnya.

Megawati juga menyoroti posisi kelompok kelas menengah yang umumnya tidak banyak menerima bantuan sosial. Akibatnya, sebagian masyarakat dalam kelompok tersebut berisiko mengalami penurunan kondisi ekonomi dan masuk ke kelompok yang lebih rentan.

Selain faktor keuangan, kondisi psikologis turut memengaruhi keputusan masyarakat untuk membatasi pengeluaran. Informasi mengenai pemutusan hubungan kerja (PHK) dan sulitnya mendapatkan pekerjaan membuat banyak orang lebih berhati-hati dalam menggunakan uang demi menyiapkan dana cadangan.

Baca Juga: Bukan Gaya Hidup, Kepepet Jadi Penyebab Utama Orang Pakai Pinjol

Lebih jauh, Megawati mengingatkan bahwa fenomena downgrade lifestyle dapat memberikan dampak berantai terhadap perekonomian. Penurunan konsumsi masyarakat berpotensi memengaruhi berbagai sektor usaha, mulai dari restoran, kafe, pusat perbelanjaan, fesyen, pariwisata, hiburan, otomotif, hingga properti.

Dampak tersebut tidak hanya dirasakan perusahaan besar, tetapi juga pelaku usaha kecil dan menengah yang turut menyerap banyak tenaga kerja.

“Kondisi ini berisiko membentuk lingkaran yang saling memperlemah. Penurunan belanja dapat menekan pendapatan pekerja di sektor terkait. Ketika pendapatan mereka ikut menurun, pengeluaran rumah tangga kembali dikurangi sehingga konsumsi semakin melemah,” kata dia.

Meski demikian, Megawati menilai perubahan pola konsumsi tersebut juga dapat membawa sejumlah manfaat dalam jangka pendek. Masyarakat berpeluang beralih ke produk lokal dengan harga yang lebih terjangkau. Selain itu, pengurangan pengeluaran dapat membantu rumah tangga memperbaiki kondisi tabungan.

Namun, apabila berlangsung dalam waktu panjang dan lebih banyak disebabkan oleh keterpaksaan ekonomi, fenomena ini berpotensi menjadi persoalan serius karena dapat melemahkan fondasi konsumsi nasional.

Ia menegaskan bahwa hal utama yang perlu diperhatikan bukan sekadar menerima penurunan gaya hidup sebagai kondisi yang tidak terhindarkan. Perubahan pola konsumsi seharusnya didasarkan pada keputusan yang matang dan kesadaran dalam mengelola keuangan, bukan semata-mata akibat tekanan ekonomi.

"Untuk itu, daya beli dan kesempatan kerja yang baik tetap menjadi kunci,” pungkasnya.

(Sumber: Antara)