Menhut Paparkan 3 Agenda Strategis Indonesia pada Pertemuan FCLP di London

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Jun 2026, 23:01
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Penulis & Editor
Bagikan
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni dalam forum bertajuk “From Glasgow to Addis Ababa: Building Momentum on Forests from COP30 to COP32” pada Ministerial Event Forest and Climate Leaders’ Partnership (FCLP) yang diselenggarakan di Kew Gardens, London, Inggris, Selasa, 23 Juni 2026. Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni dalam forum bertajuk “From Glasgow to Addis Ababa: Building Momentum on Forests from COP30 to COP32” pada Ministerial Event Forest and Climate Leaders’ Partnership (FCLP) yang diselenggarakan di Kew Gardens, London, Inggris, Selasa, 23 Juni 2026. (Kemenhut)

Ntvnews.id, Jakarta - Pemerintah Indonesia menegaskan perannya sebagai salah satu aktor penting dalam upaya global menghadapi krisis iklim dan menjaga keberlanjutan hutan melalui partisipasi aktif dalam Ministerial Event Forest and Climate Leaders’ Partnership (FCLP) yang berlangsung di London, Inggris.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan Indonesia membawa tiga agenda utama yang mencerminkan kontribusi sekaligus kepemimpinan negara dalam tata kelola kehutanan di tingkat internasional.

Dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026, Raja Juli menjelaskan agenda pertama adalah mendorong pengembangan pasar karbon yang memiliki integritas tinggi atau high-integrity carbon market. Menurutnya, instrumen tersebut dapat menjadi sumber pendanaan penting untuk mendukung konservasi, restorasi ekosistem, pengelolaan hutan berkelanjutan, serta pemberdayaan masyarakat yang hidup di sekitar kawasan hutan.

“Pemerintah Indonesia terus memperkuat tata kelola karbon melalui penyempurnaan regulasi nasional yang memberikan kepastian hukum, transparansi, dan kredibilitas lingkungan dalam perdagangan karbon sektor kehutanan,” kata Menhut.

“Indonesia meyakini bahwa pasar karbon yang berintegritas dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk menjembatani kebutuhan pendanaan global bagi perlindungan dan pengelolaan hutan yang berkelanjutan,” imbuhnya.

Agenda kedua yang diusung Indonesia adalah penguatan peran International Tropical Peatland Center (ITPC) sebagai wadah kerja sama internasional dalam bidang pengelolaan lahan gambut tropis. Platform tersebut dikembangkan untuk mendukung kolaborasi, pengembangan ilmu pengetahuan, pertukaran pengalaman, peningkatan kapasitas, hingga inovasi dalam pengelolaan gambut.

Indonesia memiliki sekitar 13 juta hektare ekosistem gambut tropis yang menjadikannya salah satu negara dengan pengalaman dan kapasitas besar dalam mengelola kawasan penyimpan karbon penting dunia sekaligus ekosistem yang berperan bagi ketahanan iklim dan pelestarian keanekaragaman hayati.

“Indonesia mengundang negara-negara anggota FCLP untuk memperluas kolaborasi melalui ITPC guna mempercepat pengembangan solusi berbasis sains dan praktik terbaik dalam pengelolaan gambut tropis di berbagai kawasan dunia,” ujar Menhut.

Selain gambut, Indonesia juga mendorong penguatan World Mangrove Center (WMC) sebagai agenda strategis ketiga. Pusat kolaborasi internasional tersebut dikembangkan untuk memperkuat pertukaran pengetahuan, riset, pengembangan kebijakan, inovasi, dan peningkatan kapasitas dalam pengelolaan ekosistem mangrove.

“Dukungan tersebut akan memperkuat upaya bersama dalam menjadikan mangrove sebagai salah satu solusi berbasis alam yang paling efektif untuk mitigasi perubahan iklim, konservasi keanekaragaman hayati, ketahanan pesisir, dan pembangunan ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Raja Juli Antoni juga menegaskan kesiapan Indonesia untuk memperluas keterlibatan dalam kemitraan FCLP dan memperkuat kerja sama dengan negara-negara anggota maupun mitra pembangunan dalam mewujudkan solusi kehutanan yang ambisius, inklusif, dan dapat diterapkan secara nyata.

Menurutnya, kehadiran Indonesia dalam forum tersebut menunjukkan semakin kuatnya posisi Indonesia sebagai negara dengan hutan tropis terbesar ketiga di dunia yang tidak hanya berfokus menjaga sumber daya hutannya sendiri, tetapi juga berperan aktif menawarkan solusi bagi berbagai tantangan global.

“Kehadiran Indonesia ini menunjukkan semakin kuatnya posisi Indonesia sebagai negara pemilik hutan tropis terbesar ketiga di dunia, yang tidak hanya berkomitmen menjaga sumber daya hutannya, tetapi juga aktif menghadirkan solusi global bagi pencapaian target iklim, konservasi keanekaragaman hayati, dan pembangunan berkelanjutan,” kata dia.

(Sumber: Antara)

x|close