Ntvnews.id, Moskow - Presiden Rusia Vladimir Putin mengakui bahwa negaranya saat ini menghadapi kekurangan pasokan bahan bakar sebagai dampak dari serangan berulang yang dilancarkan Ukraina dalam empat tahun terakhir.
Sementara itu, Ukraina menyatakan bahwa serangan-serangan tersebut merupakan bentuk "pembalasan yang adil" atas operasi militer Rusia yang sejak Februari 2022 terus menyasar warga sipil serta infrastruktur energi Ukraina.
"Mengenai serangan terhadap infrastruktur penting secara umum, dan infrastruktur energi khususnya, tentu saja serangan terhadap fasilitas ini menimbulkan masalah, itu jelas," kata Putin dalam sebuah wawancara.
Meski demikian, Putin menegaskan bahwa situasi tersebut masih berada dalam batas yang dapat dikendalikan. "Saat ini kami mengamati kekurangan tertentu, namun tidak kritis," imbuhnya, seperti dikutip dari AFP, Senin, 29 Juni 2026.
Dalam kesempatan itu, Putin menjelaskan bahwa prioritas utama pemerintah Rusia saat ini adalah memperkuat kemampuan pertahanan udara serta memastikan distribusi bahan bakar tetap berjalan, terutama untuk wilayah Krimea.
Baca Juga: Putin Tegaskan Keamanan Rusia Tetap Terjaga di Tengah Intensitas Serangan Ukraina
Selain membahas kondisi pasokan energi, Putin juga mengungkapkan harapannya agar delegasi Amerika Serikat dapat kembali mengunjungi Moskow untuk melanjutkan pembahasan mengenai penyelesaian konflik Rusia-Ukraina. Menurutnya, peluang tersebut terbuka setelah perhatian Washington terhadap konflik Iran dan Timur Tengah mulai berkurang.
"Kami berhadap bahwa setelah semua peristiwa berakhir, setelah fase aktif di jalur Iran berlalu, kami akan melihat kedatangan perwakilan AS yang telah berulang kali kami temui di Moskow," ungkap Putin.
Ia menegaskan bahwa Rusia tetap membuka pintu diplomasi untuk mencari jalan keluar dari perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun tersebut.
"Kami siap untuk melanjutkan negosiasi dan siap untuk membahas semua detailnya," tambahnya.
Pernyataan Putin tersebut muncul setelah otoritas di Krimea, wilayah yang dianeksasi Rusia pada 2014, menetapkan status darurat akibat kelangkaan bahan bakar dan gangguan pasokan listrik. Kondisi itu dipicu oleh serangan Ukraina yang menargetkan rantai logistik dan fasilitas penyimpanan minyak di kawasan tersebut.
Aneksasi Krimea oleh Rusia sendiri hingga kini masih belum diakui oleh sebagian besar negara di dunia.
Dalam perkembangan terbaru, serangan Ukraina juga dilaporkan memicu kebakaran besar di sebuah kilang minyak di wilayah tenggara Moskow pada pekan lalu. Insiden itu menyebabkan kepulan asap hitam tebal menyelimuti sebagian wilayah pinggiran ibu kota Rusia.
Pengakuan Putin mengenai gangguan pasokan bahan bakar ini menjadi salah satu indikasi bahwa serangan terhadap infrastruktur energi dan logistik mulai memberikan dampak nyata terhadap kondisi domestik Rusia, meskipun Kremlin menegaskan bahwa situasinya belum mencapai tingkat krisis.
Photo file: Presiden Rusia Vladimir Putin berpidato di hadapan peserta KTT ASEAN melalui tautan video di kediamannya di luar Moskow, Rusia, Kamis (28/10/2021). ANTARA FOTO/Sputnik/Evgeniy Paulin/Kremlin via REUTERS/AWW/djo. (Antara)