Indonesia Dorong Kemitraan ASEAN-China Jadi Penguat Stabilitas Kawasan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Jul 2026, 21:00
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN-China di Manila, Filipina, Rabu, 22 Juli 2026. Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN-China di Manila, Filipina, Rabu, 22 Juli 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Luar Negeri RI Sugiono menekankan pentingnya kemitraan ekonomi ASEAN-China untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan kawasan di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian.

“Besarnya skala hubungan ASEAN-China harus diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat, ketangguhan rantai pasok, dan kemampuan menghadapi berbagai guncangan,” kata Sugiono di Manila, Rabu, 22 Juli 2026.

Kementerian Luar Negeri RI mencatat nilai perdagangan ASEAN-China mencapai 772,4 miliar dolar AS pada 2024. Angka tersebut menyumbang sekitar seperlima dari total perdagangan ASEAN.

“Ini bukan sekadar angka. Di baliknya ada lapangan kerja, pasar, rantai pasok, dan kesejahteraan masyarakat,” kata Sugiono.

Baca JugaMenlu Sugiono Ajak ASEAN Perkuat Persatuan Hadapi Dinamika Geopolitik Global

Indonesia mendorong pemanfaatan optimal Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) dan ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) 3.0 untuk membangun integrasi ekonomi yang lebih inklusif, praktis, serta mampu menjawab tantangan ke depan.

“Kekuatan ekonomi kawasan tidak hanya diukur dari nilai perdagangan, tetapi juga dari sejauh mana manfaatnya menjangkau masyarakat dan pelaku usaha di luar pusat pertumbuhan,” katanya.

Menurut Sugiono, kerja sama ASEAN-China perlu terus diperkuat agar kawasan memiliki kemampuan menghadapi berbagai tekanan akibat ketidakpastian global.

Ia menegaskan prinsip sentralitas ASEAN dan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) harus tetap menjadi dasar dalam menjaga stabilitas kawasan.

Baca JugaSugiono Dorong Penguatan Kerja Sama Maritim ASEAN-India untuk Perkuat Ketahanan Kawasan

Sugiono menyebut kerja sama yang dibangun juga perlu mengedepankan prinsip inklusif, transparan, dan berbasis aturan, terutama di tengah meningkatnya persaingan antarnegara.

Selain sektor ekonomi, pendekatan tersebut juga perlu diterapkan dalam kerja sama maritim. Hal ini mengingat wilayah perairan kawasan menjadi jalur penting bagi perdagangan, konektivitas, serta ketahanan energi dan pangan.

Indonesia kembali mendorong penyelesaian Code of Conduct (COC) Laut China Selatan yang efektif, substantif, dan sesuai dengan hukum internasional, khususnya Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982.

Sugiono menilai keberadaan COC yang kuat akan menunjukkan kemampuan negara-negara di kawasan dalam menjaga stabilitas serta menentukan arah masa depan bersama.

“Kemitraan ASEAN-China harus menjadi bukan hanya penggerak pertumbuhan, tetapi juga penopang perdamaian kawasan,” katanya.

Tahun 2026 menjadi penanda 35 tahun hubungan kemitraan dialog ASEAN-China serta lima tahun sejak kedua pihak membangun kemitraan strategis komprehensif.

Pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan, termasuk pernyataan bersama mengenai perkembangan situasi di Timur Tengah serta penguatan kerja sama energi kawasan, termasuk upaya respons bersama dan peningkatan ketahanan energi.

(Sumber: Antara)
 
x|close