UEA dan Israel Diam-diam Gelar Pertemuan Rahasia, Ini yang Dibahas

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 30 Jul 2026, 08:55
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi negara Uni Emirat Arab (UAE)./ANTARA/Anadolu/py Ilustrasi negara Uni Emirat Arab (UAE)./ANTARA/Anadolu/py (Antara)

Ntvnews.id, Tel Aviv - Sejumlah pejabat senior Uni Emirat Arab (UEA) dan Israel dilaporkan mengadakan serangkaian pertemuan tertutup dalam beberapa pekan terakhir untuk membahas langkah bersama terkait Iran.

Dilansir dari Channel 12 Israel yang dikutip Palestine Chronicle , Kamis, 30 Juli 2026, pertemuan tersebut berlangsung di sebuah negara ketiga yang hingga kini belum diungkap identitasnya.

Pertemuan rahasia itu digelar di tengah kembali memanasnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat, setelah kedua negara sempat menyepakati gencatan senjata dan memulai perundingan untuk mengakhiri perang.

Menurut laporan tersebut, para pejabat tinggi UEA menyampaikan keberatan terhadap nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani Amerika Serikat dan Iran pada Juni lalu sebagai bagian dari upaya mengakhiri konflik.

Mereka menilai kesepakatan itu justru memberi ruang bagi Iran untuk menunda berbagai konsesi, sehingga memberikan waktu bagi Teheran memulihkan kondisi ekonominya.

Salah seorang diplomat bahkan menyebut posisi UEA berbeda dengan sejumlah negara Teluk lainnya.

"Uni Emirat Arab sangat memahami bahwa tidak ada ampunan bagi Iran," katanya.

Baca Juga: Irak Selidiki Dugaan Serangan Drone ke Arab Saudi yang Diduga Diluncurkan dari Wilayahnya

UEA juga memandang langkah Iran saat ini bukan merupakan upaya sungguh-sungguh untuk menyelesaikan konflik, melainkan sekadar strategi untuk mengulur waktu.

Selain membahas sikap terhadap MoU AS-Iran, laporan media Israel itu juga menyebut delegasi kedua negara mendiskusikan kemungkinan meluncurkan inisiatif diplomatik bersama untuk menghadapi Iran di berbagai forum internasional.

Meski demikian, kedua pihak sepakat bahwa setiap langkah tersebut hanya dapat dijalankan melalui koordinasi dengan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Pada fase awal konflik, Amerika Serikat menggunakan pangkalan-pangkalan militernya di Timur Tengah untuk melancarkan serangan besar-besaran ke Iran. Sebagai balasan, Teheran meluncurkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer dan logistik milik Washington yang berada di negara-negara kawasan Teluk.

x|close