Hampir 147 Ribu Warga Mengungsi di Yaman Akibat Eskalasi Konflik

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 21 Sep 2026, 10:02
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Zaki Islami
Editor
Bagikan
Foto ini memperlihatkan peluncuran sebuah pesawat nirawak (drone) yang diduga diarahkan ke Mocha, Yaman, pada 9 Agustus 2026 Foto ini memperlihatkan peluncuran sebuah pesawat nirawak (drone) yang diduga diarahkan ke Mocha, Yaman, pada 9 Agustus 2026 (Antara)

Ntvnews.id, Yaman - Hampir 147.000 warga terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka di Yaman sepanjang September 2026. Gelombang pengungsian ini dipicu memburuknya situasi keamanan di tengah peningkatan eskalasi militer di sejumlah wilayah negara tersebut.

Unit Eksekutif Pengelolaan Kamp Pengungsi Yaman mencatat sebanyak 21.583 keluarga atau sekitar 146.943 orang mengungsi selama periode 1 hingga 18 September 2026 akibat kondisi keamanan yang semakin memburuk.

Dilansir dari Anadolu Agency, Senin, 21 September 2026, para pengungsi tersebar di delapan provinsi. Wilayah tersebut meliputi Taiz dan Lahj di bagian barat daya, Aden, Abyan, dan Shabwa di selatan, Al-Hudaydah di barat, serta Hadhramout dan Al Mahrah di wilayah timur.

Taiz menjadi wilayah yang menerima pengungsi paling banyak. Tercatat 11.534 keluarga atau 80.792 orang tiba di wilayah tersebut dan tersebar di 15 distrik.

Lahj menempati posisi berikutnya dengan 5.472 keluarga atau 38.304 orang yang tersebar di sembilan distrik.

Sementara di Aden, lembaga pemerintah mencatat sebanyak 1.622 keluarga atau 7.162 orang tiba di wilayah tersebut. Mayoritas pengungsi kemudian ditampung oleh keluarga setempat yang berada di sejumlah distrik.

Baca Juga: LRT Jakarta Rute Velodrome–Manggarai Siap Beroperasi, Hadirkan Fasilitas yang Lebih Nyaman

Di Al-Hudaydah, sebanyak 1.471 keluarga atau 10.297 orang mengungsi ke distrik Hays dan Al Khawkhah. Sedangkan Abyan menerima 1.278 keluarga atau sekitar 8.946 orang.

Selain itu, laporan tersebut mencatat sebanyak 110 keluarga mengungsi ke Hadhramout, 70 keluarga menuju Al Mahrah, dan 26 keluarga lainnya ke Shabwa.

Unit Eksekutif Pengelolaan Kamp Pengungsi Yaman meminta organisasi internasional maupun lokal segera memberikan “bantuan mendesak dan penyelamatan jiwa” kepada masyarakat yang terdampak. Lembaga tersebut juga mengingatkan bahwa keterlambatan penyaluran bantuan dapat “memperburuk krisis dan meningkatkan tekanan terhadap masyarakat yang menampung pengungsi."

Eskalasi Konflik Yaman

Lonjakan jumlah pengungsi terjadi ketika aktivitas militer meningkat di sepanjang pesisir barat Yaman serta beberapa wilayah di Provinsi Taiz. Berdasarkan laporan tersebut, kelompok Houthi disebut telah bergerak maju dan merebut sejumlah posisi yang sebelumnya berada di bawah kendali pasukan pemerintah.

Pertempuran kembali pecah di sejumlah garis depan, termasuk di Taiz, Marib, dan Al Jawf di wilayah utara, serta Al Bayda di bagian tengah Yaman. Peningkatan konflik ini telah berlangsung sejak awal Juli dan disebut menjadi eskalasi terburuk sejak gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada April 2022.

Intensitas pertempuran semakin meningkat sepanjang September. Houthi dilaporkan berhasil mengambil alih sejumlah posisi strategis di Provinsi Al-Hudaydah dan Taiz, termasuk kota penting Mokha. Pergerakan tersebut kemudian meluas hingga ke Pulau Mayun yang berada di Selat Bab al-Mandab.

Konflik berkepanjangan telah melanda Yaman sejak Houthi merebut ibu kota Sanaa beserta sejumlah provinsi pada September 2014. Setahun kemudian, tepatnya pada Maret 2015, koalisi yang dipimpin Arab Saudi melakukan intervensi militer untuk mendukung pemerintah Yaman yang mendapat pengakuan internasional.

TERKINI

Load More
x|close