Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto memberikan arahan tegas untuk mengoptimalkan dan melanjutkan riset serta kajian mengenai lahan gambut. Langkah ini diambil sebagai upaya strategis pemerintah dalam memperkuat pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap terjadi di area gambut.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menyampaikan bahwa Presiden menaruh perhatian besar pada penanganan gambut yang berbasis pada ilmu pengetahuan.
"Bapak Presiden meminta agar penelitian-penelitian terus dilanjutkan, sehingga kajian-kajian tentang gambut, penanganan gambut itu bisa dioptimalkan," ungkap Brian, 25 September 2026.
Baca Juga: Prabowo Ingin Pencegahan Karhutla Dimulai di Tingkat Desa
Sebagai bentuk keseriusan, Presiden Prabowo secara khusus mengundang para ilmuwan dan akademisi yang fokus pada penelitian gambut ke Istana Kepresidenan. Pertemuan ini bertujuan untuk membahas dan merumuskan langkah konkret penanganan persoalan gambut yang dilandasi oleh hasil penelitian yang komprehensif.
Dalam pembahasan tersebut, salah satu wacana utama yang ditekankan adalah pentingnya pemetaan lahan gambut. Pemetaan ini krusial untuk mengklasifikasikan lahan berdasarkan tingkat kesesuaiannya, guna mendukung berbagai aktivitas pemanfaatan secara berkelanjutan.
"Disampaikan juga bagaimana pemetaan lahan-lahan gambut itu akan dilakukan, akan dikelompokkan mana lahan-lahan yang cocok untuk pengembangan, apakah itu budi daya tanaman, perikanan, dan lain-lainnya. Jadi, pemetaan-pemetaan itu perlu segera dilakukan," jelas Brian.
Lebih dari sekadar pemetaan teknis, Presiden juga menekankan pentingnya mengintegrasikan praktik baik (best practices) dan kearifan lokal dalam pengelolaan gambut. Keduanya dinilai perlu diakomodasi sebagai referensi penting agar penanganan gambut tidak hanya berdasar pada pendekatan ilmiah, tetapi juga berakar pada kebiasaan masyarakat setempat yang terbukti menjaga kelestarian lingkungan.
Terkait dengan langkah antisipatif pencegahan karhutla, Presiden menginstruksikan pengaktifan kembali Masyarakat Peduli Api (MPA). Keberadaan kelompok masyarakat di tingkat tapak ini dinilai vital karena mereka berada paling dekat dengan sumber potensi api.
"Bapak Presiden menyampaikan juga penanganan berbasis desa, MPA itu dihidupkan kembali dengan dukungan tertentu, karena berdasarkan analisis, kajian dari para ahli, memang yang lebih efektif, lebih efisien, lebih cepat untuk penanganan kebakaran itu justru berasal dari masyarakat yang ada di lokasi terdekat," papar Brian.
Di samping upaya penanganan dan partisipasi masyarakat, Presiden Prabowo juga menggarisbawahi pentingnya aspek edukasi. Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga gambut dan mencegah karhutla harus digalakkan, termasuk dengan memasukkannya ke dalam kurikulum sekolah.
Menindaklanjuti arahan tersebut, Kemdiktisaintek berkomitmen untuk memfasilitasi dan mendorong keberlanjutan riset para ilmuwan di bidang gambut. Keterlibatan aktif akademisi diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata yang berbasis pada kepakaran mereka masing-masing.
Hal ini, tambah Brian, juga sejalan dengan upaya pemerintah untuk terus memperkuat sinergi dan keterhubungan antara perguruan tinggi, perkembangan sains dan teknologi, dengan kebutuhan riil pembangunan nasional, khususnya dalam pelestarian lingkungan dan mitigasi bencana.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto (NTVnews)