Ntvnews.id, Taheran - Sebanyak delapan personel Korps Marinir Amerika Serikat (AS) mengalami luka setelah sebuah rudal jelajah antikapal milik Iran menghantam kapal yang mereka operasikan di Selat Hormuz pada 14 September 2026 lalu.
Dilansir dari NBC News, Selasa, 29 September 2026, tiga pejabat AS, menyebut bahwa tidak ada satu pun dari delapan Marinir tersebut yang mengalami luka serius.
Meski demikian, mereka dilaporkan mengalami gangguan akibat menghirup asap serta kemungkinan cedera otak traumatis. Kondisi tersebut ditandai dengan gejala menyerupai gegar otak, termasuk sakit kepala.
“Tujuh dari delapan Marinir merupakan personel tamtama, sementara satu lainnya adalah perwira. Seluruh korban kembali bertugas tidak lama setelah serangan,” kata pejabat AS tersebut, dikutip dari Anadolu.
Kedelapan Marinir itu sedang menjalankan tugas sebagai bagian dari tim pendarat batalion ketika rudal Iran menghantam kapal yang mereka operasikan.
Baca Juga: Macron Dorong Jalur Alternatif Selat Hormuz untuk Tekan Harga BBM
Para pejabat AS menyebut kapal tersebut bukan merupakan bagian dari armada Angkatan Laut AS. Namun, mereka tidak menjelaskan jenis kapal yang terkena serangan dan hanya menyebutnya sebagai kapal maritim.
Sejak perang antara AS-Israel dan Iran pecah pada Februari, Pentagon menghadapi sorotan terkait data korban di kalangan personel militernya. Jumlah personel yang terluka maupun tewas dapat mengalami perubahan seiring adanya pembaruan dalam proses pelaporan dan klasifikasi.
Hingga Rabu, Defense Casualty Analysis System (DCAS) milik Pentagon mencatat sebanyak 861 personel militer AS mengalami luka dalam konflik tersebut.
Delapan Marinir yang menjadi korban dalam serangan pada 14 September baru tercatat dalam basis data tersebut hampir 10 hari setelah insiden berlangsung.
Seorang pejabat AS menjelaskan bahwa keterlambatan pencatatan kemungkinan berkaitan dengan gejala yang baru muncul setelah beberapa waktu. Selain itu, sistem tersebut memang tidak menyediakan pembaruan data secara real-time.
Foto arsip ini menunjukkan Selat Hormuz, Iran, Rabu (19/2/2025 (Antara)