Ntvnews.id, Paris - Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu menilai peningkatan eskalasi dalam aksi unjuk rasa di sekolah menengah atas (SMA) merupakan tindakan yang tidak bertanggung jawab. Pernyataan tersebut disampaikan setelah aksi protes pelajar meluas ke sejumlah kota di luar Paris.
Dilansir dari AFP, Selasa, 29 September 2026, para pelajar telah melakukan pemblokiran sekolah dan menggelar demonstrasi sejak pekan lalu. Aksi tersebut dipicu sejumlah persoalan, di antaranya jumlah siswa dalam kelas yang terlalu banyak, beban belajar yang berat, serta kekurangan tenaga pengajar.
Aksi protes di sejumlah lycée atau SMA Prancis awalnya berlangsung di wilayah Île-de-France yang berada di sekitar Paris. Dalam aksi tersebut, dilaporkan terjadi vandalisme hingga penggunaan kembang api yang diarahkan kepada polisi.
Pada Senin, gerakan tersebut kemudian menyebar ke sejumlah wilayah lainnya. Empat SMA di kawasan selatan Alpes-Maritimes dan Var dilaporkan diblokade. Aksi demonstrasi juga terjadi di Marseille, wilayah utara Lille, serta Sedan di Ardennes, Prancis timur laut.
"Kembang api, kebakaran, kekerasan di dekat sekolah menengah atas: tidak ada hal yang membenarkan bahaya bagi para siswa, staf, maupun petugas kepolisian," kata Perdana Menteri Sébastien Lecornu melalui platform X.
Baca Juga: Aktris Pemenang Oscar Ditahan Saat Demo Menentang Netanyahu
Lecornu juga mengkritik seruan partai sayap kiri France Unbowed (LFI) yang mendorong perluasan aksi protes tersebut.
"Eskalasi ini tidak bertanggung jawab," ujarnya.
Meski demikian, Lecornu mengatakan berbagai persoalan yang dihadapi sekolah menengah atas tetap perlu mendapatkan perhatian dan penyelesaian.
Sementara itu, Union Syndicale Lycéeenne, serikat yang memperjuangkan hak dan kepentingan pelajar SMA di Prancis, berencana menyerukan aksi pemblokiran sekolah secara nasional pada Selasa.
Seruan tersebut bertepatan dengan ajakan sejumlah serikat pekerja untuk menggelar mogok kerja secara massal yang melibatkan para pegawai negeri.
Serikat guru sekolah dasar terbesar di Prancis memperkirakan sekitar 40 persen guru akan tidak masuk kerja pada Selasa.
Ilustrasi demo (Istimewa)