Ntvnews.id, Washington D.C - Duta Besar Amerika Serikat untuk China, David Perdue, mengungkapkan bahwa Presiden AS Donald Trump pernah menawarkan penjualan senjata buatan Amerika Serikat kepada Presiden China Xi Jinping.
Menurut Perdue, tawaran tersebut disampaikan Trump secara langsung kepada Xi dalam sebuah pembicaraan.
"Presiden Trump terus mengatakan, 'Hei, kami menjual senjata kepada orang lain di seluruh dunia,'" kata Perdue dalam program Fox News Sunday, seperti dikutip dari The New York Times, Selasa, 29 September 2026.
"Dia bahkan pernah bertanya kepada Presiden Xi apakah beliau ingin membeli beberapa senjata," ujarnya.
Perdue tidak menjelaskan lebih jauh mengenai tawaran tersebut, termasuk tidak mengungkap bagaimana respons Xi terhadap pertanyaan Trump.
Pernyataan tersebut menjadi perhatian mengingat China selama ini dianggap Amerika Serikat sebagai salah satu pesaing utama dalam sektor militer, ekonomi, dan diplomasi.
China diketahui memiliki kekuatan militer yang berkembang pesat. Di sisi lain, AS selama ini menjadi kekuatan militer dominan di kawasan Asia-Pasifik. Namun, posisi tersebut disebut semakin berkurang di tengah meningkatnya kekuatan China, terutama setelah pemerintahan Trump mengalihkan sumber daya dari kawasan tersebut untuk mendukung perang melawan Iran.
Dalam beberapa tahun terakhir, industri pertahanan Amerika Serikat juga menghadapi kendala dalam meningkatkan produksi sistem persenjataan dengan kecepatan yang dinilai para pejabat AS diperlukan untuk memenuhi kebutuhan global.
Baca Juga: Trump Ogah Temui PM Israel Netanyahu di Sela Sidang Umum PBB
Mantan diplomat sekaligus mantan pejabat keamanan nasional Gedung Putih, Ryan Hass, turut menanggapi pernyataan Perdue. Hass kini menjabat sebagai direktur pusat China di Brookings Institution.
"Jika ada keraguan tentang apakah Presiden Trump memandang China sebagai ancaman keamanan, pengungkapan oleh @USAmbChina Perdue ini menepis pertanyaan tersebut," tulis Hass.
"Tawaran Trump untuk menjual senjata ke China akan meresahkan mitra Amerika yang berada di ujung tombak China," tambahnya.
Negara-negara yang dimaksud antara lain Filipina, Jepang, serta Taiwan, yang secara de facto memiliki pemerintahan sendiri dan merupakan negara demokrasi yang diklaim Beijing sebagai bagian dari wilayah China.
Selama bertahun-tahun, Washington telah memperingatkan potensi konflik dengan Beijing, khususnya terkait Taiwan serta aktivitas China di kawasan Laut China Selatan dan Laut China Timur.
Namun, Gedung Putih kemudian menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki rencana untuk menjual senjata kepada China. Kementerian Luar Negeri AS juga menyatakan bahwa hukum di negara tersebut melarang penjualan senjata ke China.
"Hukum AS melarang penjualan senjata ke China dan tidak ada tawaran atau rencana untuk menjual senjata ke China," kata Kementerian Luar Negeri AS dalam pernyataan.
Hingga kini, Kedutaan Besar China di Washington belum memberikan tanggapan terkait pernyataan tersebut.
Sementara itu, pemerintah AS menuduh sejumlah perusahaan pertahanan China memberikan bantuan kepada negara-negara yang menjadi lawan Washington, termasuk Iran dan Rusia.
Pejabat AS menyebut perusahaan-perusahaan tersebut menjual peralatan yang dapat digunakan untuk keperluan sipil maupun militer, menyediakan citra satelit, serta mengatur ekspor senjata secara diam-diam. Washington juga telah menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah perusahaan asal China.
Presiden Xi Jinping (kiri) bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih, Washington D.C., Amerika Serikat, pada Kamis, 24 September 2026. (Antara)