Malaysia Mulai Pulangkan 1.476 Warga Myanmar

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 30 Sep 2026, 08:15
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Bendera Malaysia Bendera Malaysia (Pixabay)

Ntvnews.id, Kuala Lumpur - Pemerintah Malaysia mulai melakukan pemulangan terhadap sekitar 1.500 warga negara Myanmar. Mereka merupakan kelompok pertama dari total sekitar 5.000 warga Myanmar yang disebut telah menyetujui repatriasi "sukarela" dari sejumlah pusat penahanan di Malaysia.

Kebijakan tersebut dilakukan di tengah meningkatnya sentimen anti-migran di Malaysia. Namun, rencana pemulangan ini mendapat sorotan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan sejumlah organisasi advokasi karena adanya kekhawatiran terhadap keselamatan para pengungsi ketika kembali ke Myanmar.

Dilansir dari AFP, Rabu, 31 September 2026, Myanmar masih dilanda konflik sejak 2021 sehingga kondisi keamanan di negara tersebut dinilai berisiko bagi para pengungsi yang dipulangkan.

Malaysia maupun Myanmar sejauh ini belum memberikan keterangan resmi mengenai jumlah warga Rohingya yang termasuk dalam kelompok pertama. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran mereka dapat dikembalikan ke negara tempat mereka menghadapi persekusi yang oleh sejumlah kelompok hak asasi manusia disebut setara dengan genosida.

AFP melaporkan, pada Selasa sore, tiga kapal Angkatan Laut Myanmar terlihat meninggalkan pangkalan angkatan laut Lumut, Malaysia, sekitar pukul 17.00 waktu setempat atau 09.00 GMT.

Tiga kapal tersebut terdiri atas kapal pendukung, kapal rumah sakit Than Lwin, serta kapal pendarat amfibi Moattama. Kapal-kapal tersebut sebelumnya juga pernah digunakan dalam operasi pemulangan serupa.

Baca Juga: Jelang Hadapi Malaysia, Herdman: Saatnya Lindungi Rumah Kita

Kementerian Dalam Negeri Malaysia mengonfirmasi proses repatriasi tersebut tengah berlangsung melalui sebuah pernyataan resmi.

"Hari ini, 1.476 individu telah memulai Tahap Pertama program repatriasi, berdasarkan daftar yang diserahkan oleh Pemerintah Myanmar melalui Nota Diplomatik resmi," demikian bunyi pernyataan tersebut.

Kementerian Dalam Negeri Malaysia menyebut program tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah menyelesaikan "masalah warisan" yang berkaitan dengan keberadaan pencari suaka asing di Malaysia. Sekitar 95 persen dari kelompok tersebut disebut berasal dari Myanmar.

"Masalah yang telah berlangsung lama ini telah membebani keuangan negara secara signifikan, memicu krisis sosial yang serius, dan menciptakan ancaman keamanan nyata bagi rakyat Malaysia," sebut pernyataan tersebut.

Di sisi lain, badan pengungsi PBB menyatakan keprihatinan terhadap rencana pemulangan warga Myanmar tersebut. Juru bicara badan pengungsi PBB, Matthew Saltmarsh, mengatakan para pengungsi berpotensi menghadapi ancaman keselamatan setelah kembali ke Myanmar.

"Kami prihatin dengan laporan mengenai rencana pemulangan sekitar 1.500 individu asal Myanmar ke negara tersebut dalam waktu dekat." "Berdasarkan hukum internasional, tidak seorang pun boleh dikirim ke negara tempat mereka mungkin menghadapi persekusi, penyiksaan, bahaya serius, atau ancaman lain terhadap nyawa, kebebasan, dan keamanan," ujarnya.

x|close