Pemukim Israel Bentrok dengan Pasukan Israel di Tepi Barat

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 30 Sep 2026, 05:05
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip - Ekskavator Israel membongkar rumah warga Palestina di desa Deirat, timur Masafer Yatta, di kota Hebron, Tepi Barat selatan Senin, 4 Mei 2026. Arsip - Ekskavator Israel membongkar rumah warga Palestina di desa Deirat, timur Masafer Yatta, di kota Hebron, Tepi Barat selatan Senin, 4 Mei 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Tepi Barat - Lebih dari 100 pemukim Israel terlibat bentrokan dengan pasukan Israel di sekitar desa Palestina Jalud, Tepi Barat, Selasa, 29 September 2026

Dilansir dari DW, Rabu, 30 September 2026, kerusuhan pecah saat otoritas Israel berupaya mengembalikan sebuah keluarga Palestina ke rumah mereka setelah sebelumnya terusir akibat serangan yang dilakukan pemukim.

Menurut Pasukan Pertahanan Israel (IDF), para pemukim memblokade jalan, membakar ban, dan melempari tentara serta anggota Polisi Perbatasan Israel dengan batu.

Sejumlah bangunan, kendaraan, dan properti milik warga Palestina di sekitar lokasi juga dilaporkan dibakar.

Bentrokan tersebut menyebabkan tiga anggota Polisi Perbatasan mengalami luka ringan. Satu kendaraan yang digunakan pasukan keamanan Israel turut mengalami kerusakan.

IDF menyebut rencana pemulangan keluarga Palestina telah dikoordinasikan sebelumnya. Namun, proses tersebut tidak dapat dilanjutkan karena kerusuhan yang dilakukan para pemukim.

Baca Juga: Banyak Tokoh Israel Dukung Sanksi Inggris ke Pemukiman Ilegal di Tepi Barat

Pemulangan tersebut merupakan tindak lanjut putusan Mahkamah Agung Israel pada 6 September. Dalam keputusan itu, pemerintah diperintahkan mengatur kepulangan tiga pemohon Palestina beserta keluarga mereka ke rumah di Jalud dalam waktu 14 hari.

Pengadilan juga memerintahkan IDF dan polisi Israel memberikan pengamanan selama proses kepulangan. Keluarga Palestina tersebut diperbolehkan membawa perlengkapan yang diperlukan untuk memperbaiki rumah sekaligus memulihkan akses air dan listrik.

Para hakim turut meminta pemerintah menjelaskan alasan warga Palestina belum dapat kembali ke rumah mereka serta alasan penghalang jalan menuju kawasan tersebut masih dipertahankan. Pemerintah Israel diwajibkan memberikan jawaban resmi pada 8 Oktober.

Kasus Pos Pemukiman Ilegal di Jalud

Perkara tersebut berkaitan dengan pos pemukiman Givat Hatzmabarim yang tidak memiliki izin dan didirikan di dekat Jalud pada April lalu.

Dua keluarga yang menjadi pemohon meninggalkan rumah mereka pada Juli setelah mengalami tekanan dan pengepungan. Pengadilan menyebut kondisi tersebut sebagai pengepungan de facto yang berlangsung dalam waktu lama.

Mahkamah Agung Israel menilai tindakan pemerintah belum menghasilkan penegakan hukum yang efektif. Padahal, otoritas disebut telah memiliki informasi mengenai identitas pelaku, data kendaraan, serta bukti foto terkait insiden tersebut.

Pasukan Israel kemudian membubarkan kerumunan pemukim menggunakan tindakan pengendalian massa.

Dua orang ditangkap dan selanjutnya diserahkan kepada Kepolisian Distrik Yudea dan Samaria untuk menjalani pemeriksaan.

Polisi bersama penyidik forensik dijadwalkan mendatangi lokasi dengan pengamanan dari IDF guna mengumpulkan bukti dan keterangan untuk kepentingan penyelidikan.

"Lembaga keamanan mengutuk keras segala bentuk bahaya terhadap personel keamanan saat menjalankan tugas mereka, serta tindakan vandalisme dan perusakan properti," kata IDF, seperti dilaporkan The Jerusalem Post.

IDF menyatakan tindakan tersebut berpotensi mengganggu stabilitas keamanan serta menghambat operasi pertahanan dan pemberantasan terorisme.

"Insiden semacam itu mengalihkan perhatian, merusak stabilitas, dan menghambat kegiatan pertahanan dan kontra-terorisme pasukan keamanan," kata IDF.

Ketegangan di Tepi Barat Meningkat

Anggota pasukan Israel terlihat selama operasi militer di Ramallah, Tepi Barat tengah, 16 September 2025. (ANTARA/Ayman Nobani/Xinhua.) <b>(Antara)</b> Anggota pasukan Israel terlihat selama operasi militer di Ramallah, Tepi Barat tengah, 16 September 2025. (ANTARA/Ayman Nobani/Xinhua.) (Antara)

Bentrokan di Jalud terjadi ketika situasi keamanan di Tepi Barat dilaporkan semakin tegang dalam beberapa waktu terakhir.

IDF meningkatkan kehadirannya di kawasan tersebut di tengah kekhawatiran mengenai potensi peningkatan kekerasan antara warga Israel dan Palestina.

Jumlah pasukan di Divisi Yudea dan Samaria kemudian ditambah menjadi sekitar 25 batalion untuk menghadapi kemungkinan serangan maupun kerusuhan.

Seorang sumber militer di Komando Pusat Israel mengatakan pasukan IDF, Polisi Perbatasan, dan kepolisian memperketat pengamanan di sejumlah lokasi yang dianggap rawan, termasuk jalan utama, kawasan pendakian, titik konflik, dan permukiman.

"Pasukan IDF, Polisi Perbatasan, dan Polisi Israel memperkuat jalan-jalan, area pendakian, titik-titik gesekan yang diketahui, dan permukiman," kata seorang sumber militer di Komando Pusat.

"Ketegangan jelas terasa di lapangan. Beberapa evaluasi situasi telah dilakukan sepanjang hari dengan pembaruan terus-menerus dari lapangan ke markas besar," tambah sumber tersebut.

Para pejabat militer memperingatkan kondisi di Tepi Barat masih sangat tidak stabil.

Salah satu pejabat militer mengkhawatirkan satu insiden besar yang melibatkan warga Palestina dan Israel, terutama apabila kejadian tersebut direkam dan tersebar luas, dapat memicu kerusuhan yang lebih besar.

"Yang kurang hanyalah insiden gesekan antara Palestina dan Israel yang membesar, terekam dalam video, dan memicu kerusuhan di daerah tersebut," ujarnya.

Serangkaian Kekerasan oleh Pemukim

Selain bentrokan di Jalud, sejumlah aksi kekerasan yang melibatkan pemukim Israel juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Tepi Barat dalam beberapa hari terakhir.

Di desa Palestina al-Mughayyir, sekelompok pemukim bertopeng dilaporkan memasuki wilayah tersebut dengan alasan menggembalakan domba. Setelah itu, warga melaporkan adanya perusakan terhadap kendaraan dan rumah.

Warga Palestina juga melaporkan kelompok pemukim membakar rumah tahanan Fikri Musa Abu Aliya dan sejumlah kendaraan ketika pasukan IDF tengah menjalankan operasi di wilayah tersebut.

Insiden lainnya terjadi di sektor Brigade Regional Ephraim. Bentrokan antara warga Palestina dan Israel dilaporkan berlangsung di sekitar pos pemukiman Ammurya. Sebuah kendaraan disebut masuk ke parit akibat kejadian tersebut.

Di sektor Binyamin, sebuah kendaraan Palestina dilaporkan dibakar. Selain itu, grafiti berbahasa Ibrani ditemukan di desa Attara.

Sebanyak 14 pemukim juga dilaporkan memasuki halaman rumah warga Palestina di Abu Falah dan merusak kaca kendaraan.

Seorang perempuan Palestina turut melaporkan dirinya diserang ketika terjebak kemacetan di Persimpangan Rimonim. Menurut pengakuannya, seorang pemukim melemparkan batu ke arahnya. Perempuan tersebut merekam kejadian itu dan mengunggahnya ke media sosial.

Pada Minggu, warga Palestina melaporkan adanya serangan terhadap komunitas Naif al-Ka'abneh di dekat Ramallah. Mereka menyebut sejumlah rumah dan kendaraan mengalami kerusakan. Uang tunai sebesar NIS 3.000 juga dilaporkan hilang.

Pada malam berikutnya, sekelompok warga Israel dilaporkan mendatangi dua lokasi di Deir Abu Mash'al. Mereka disebut membakar kendaraan, menyemprotkan grafiti, dan merusak sejumlah properti.

TERKINI

Load More
x|close