Dokter Yoga Yuniadi Tegaskan Obat Hipertensi Bukan Penyebab Kerusakan Ginjal

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 30 Sep 2026, 10:05
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Dedi
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Obat-obatan Ilustrasi - Obat-obatan (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Dokter spesialis jantung konsultan aritmia dan kardiologi intervensi Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA, membantah anggapan bahwa penggunaan obat hipertensi dalam jangka panjang dapat memicu kerusakan ginjal.

Guru Besar Kardiologi dan Aritmia Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) tersebut menjelaskan bahwa tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol justru dapat meningkatkan risiko gangguan pada ginjal. Oleh karena itu, pasien hipertensi perlu mengikuti anjuran dokter dalam mengonsumsi obat agar tekanan darah tetap terjaga.

"Orang Indonesia kalau ketahuan hipertensi itu bilang, 'Saya makan obat terus-terusan nanti sakit ginjal'. Padahal yang terus berhenti minum obatnya atau belang-betong (tidak teratur), dia yang sakit ginjal," kata Prof. Yoga saat ditemui setelah konferensi pers peringatan "Hari Jantung Sedunia - Deteksi Dini Aritmia dan Rekomendasi Prosedur untuk Tingkatkan Kualitas Hidup" di Jakarta, Selasa, 29 September 2026.

Ia menilai kekhawatiran terhadap efek obat hipertensi dapat mendorong pasien menghentikan pengobatan atau mengonsumsinya secara tidak teratur. Akibatnya, tekanan darah menjadi sulit dikendalikan.

Yoga kembali menegaskan bahwa kerusakan ginjal dalam kondisi tersebut berhubungan dengan hipertensi yang tidak tertangani dengan baik, bukan obat yang digunakan untuk mengendalikan tekanan darah.

Baca Juga: Dinkes DKI Ingatkan Warga Bahaya Asal Konsumsi Obat yang Bisa Picu Gagal Ginjal

"Yang bikin sakit ginjal, hipertensinya yang tidak terkontrol, bukan karena minum obat yang membuat tensinya jadi terkontrol dan dia jadi tidak sakit ginjal," ujarnya.

Menurut Yoga, pengendalian tekanan darah menjadi hal penting karena hipertensi kerap tidak menunjukkan gejala yang dapat dirasakan oleh penderitanya. Akibatnya, seseorang bisa mengalami tekanan darah tinggi dalam waktu lama tanpa mengetahui kondisinya.

Ia menyebutkan bahwa prevalensi hipertensi di Indonesia berada di angka sekitar 32 persen dari total populasi. Namun, hanya sekitar 27 persen penderita yang telah mendapatkan diagnosis, sedangkan jumlah pasien yang menjalani pengobatan tercatat lebih rendah.

"Dan yang diobati yang kemudian mencapai target pengobatan, di kita cuma 4,2 persen," katanya.

Rendahnya jumlah pasien yang berhasil mencapai target tekanan darah tersebut perlu mendapat perhatian, mengingat hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama atrial fibrilasi (AF).

Yoga menyampaikan bahwa sekitar 50 persen pasien AF di Indonesia juga menderita hipertensi. Ia menambahkan, pengendalian tekanan darah berpotensi mencegah sebagian kasus gangguan irama jantung tersebut.

"Satu dari lima kasus AF itu bisa dicegah sebetulnya dengan cara mengontrol hipertensinya," ujarnya.

Baca Juga: Menkes Pastikan Stok Obat Influenza A Aman

Ia mengimbau masyarakat agar tidak menghentikan konsumsi obat hipertensi tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Pemeriksaan tekanan darah secara berkala juga diperlukan untuk memastikan kondisi tetap terkendali.

Yoga menambahkan, pengelolaan hipertensi secara tepat tidak hanya membantu mencegah kerusakan ginjal, tetapi juga mengurangi risiko atrial fibrilasi serta komplikasi lain, termasuk stroke.

(Sumber: Antara)

TERKINI

Load More
x|close