Iran Serukan Warga AS untuk Protes Trump

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Okt 2026, 09:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Bendera Amerika Serikat dengan bendera Iran. Ilustrasi - Bendera Amerika Serikat dengan bendera Iran. (ANTARA)

Ntvnews.id, Taheran - Garda Revolusi Iran menyerukan masyarakat Amerika Serikat (AS) untuk memprotes Presiden Donald Trump. Mereka menilai perang di Timur Tengah telah gagal, sementara dampak tekanan ekonomi akibat blokade dan sanksi AS semakin dirasakan masyarakat Iran, termasuk dengan melonjaknya harga serta sulitnya mendapatkan obat.

Dilansir dari DW, Kamis, 1 Oktober 2026, Juru bicara Garda Revolusi Iran, Jenderal Hossein Mohebbi, menyatakan konflik hanya dapat diakhiri apabila Washington mengakui kekalahan dan menarik diri dari Iran.

Dalam surat kepada rakyat Amerika yang dibacakannya di Teheran pada Selasa (29/9), Mohebbi meminta masyarakat AS mengevaluasi kembali kepemimpinan mereka. Dalam pernyataannya kepada Associated Press, ia juga mengajak warga AS melakukan aksi protes di jalan terhadap kebijakan Trump.

Mohebbi menuding AS menjadikan program nuklir Iran sebagai dalih untuk "menjarah kekayaan Iran" dan mengubah Iran "kembali menjadi sebuah koloni".

AS Jatuhkan Sanksi, Diplomasi Tetap Berjalan

Pada hari yang sama, pemerintah AS memberlakukan sanksi terhadap 10 individu dan entitas yang berada di Iran, Hong Kong, serta Pakistan. Mereka dituduh membantu pengadaan senjata dan berbagai komponennya untuk Iran.

Departemen Keuangan AS menyatakan kebijakan tersebut merupakan bagian dari "Operation Economic Outcast", yang ditujukan untuk memutus "jalur keuangan penting" pemerintah Iran.

Meski sanksi terus diberlakukan, komunikasi diplomatik antara kedua negara masih berlangsung. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi bertemu mediator Qatar di Doha pada Selasa, 29 September 2026. Dalam pertemuan tersebut, ia menerima tanggapan dari AS terkait rancangan rencana pembangunan kepercayaan selama tujuh hari, menurut seorang pejabat yang mengetahui pembicaraan tersebut kepada Reuters.

Baca Juga: China Kirim Dua Panda ke AS Usai Pertemuan Xi Jinping dan Trump

Araqchi dijadwalkan membahas tanggapan AS itu di Teheran pada Rabu (30/9). Pejabat tersebut mengatakan perbedaan utama kedua pihak terletak pada tahapan pelaksanaan rencana untuk membangun kepercayaan dan menghidupkan kembali versi yang diperluas dari nota kesepahaman AS-Iran yang ditandatangani pada Juni.

Harga Obat Melonjak

Tekanan ekonomi akibat kondisi tersebut turut berdampak pada industri farmasi Iran. Harga sejumlah obat dilaporkan melonjak lebih dari tiga kali lipat, sedangkan beberapa jenis obat lainnya semakin sulit diperoleh.

Gholamreza Rahmani, warga Teheran, mengaku bersama istrinya menghabiskan waktu dua hari untuk mencari empat jenis obat yang dibutuhkan putrinya yang berusia 12 tahun. Namun, salah satu obat tersebut tidak berhasil mereka dapatkan.

"Penyakit anak saya dan hilangnya pendapatan seperti gunting yang memotong dari dua sisi," katanya.

Presiden AS Donald Trump menggelar konferensi pers di Kompleks Kepresidenan sebagai bagian dari KTT NATO ke-36 para Kepala Negara dan Pemerintahan di Ankara, Turkiye, pada 8 Juli 2026. <b>(Antara)</b> Presiden AS Donald Trump menggelar konferensi pers di Kompleks Kepresidenan sebagai bagian dari KTT NATO ke-36 para Kepala Negara dan Pemerintahan di Ankara, Turkiye, pada 8 Juli 2026. (Antara)

Iran diketahui memproduksi lebih dari 80 persen kebutuhan obat secara mandiri. Namun, sebagian besar proses produksi masih bergantung pada bahan baku yang didatangkan dari luar negeri.

Bahman Sabour dari Asosiasi Apotek Teheran mengatakan blokade laut AS membuat sebagian pengiriman obat melalui jalur laut terhenti. Kondisi tersebut memaksa para importir menggunakan jalur udara yang membutuhkan biaya lebih besar.

Reza Majdzadeh, profesor di University of Essex, mengatakan sanksi di sektor keuangan turut menyulitkan proses transaksi.

"Obat mungkin sepenuhnya legal untuk dijual ke Iran, tetapi bank dapat menolak memproses pembayarannya," katanya. "Transaksinya legal di atas kertas, tetapi tidak terjadi di dunia nyata."

Pejabat pemerintah Mehdi Pirsalehi mengatakan harga sekitar 2.000 jenis obat telah "disesuaikan" selama enam bulan terakhir akibat inflasi dan persoalan nilai tukar.

Harga tablet yang digunakan pasien cuci darah juga mengalami kenaikan hampir 350 persen dalam beberapa bulan terakhir. Mina Mohammadian, seorang pekerja apotek, menyebut sejumlah produk bahkan mengalami kenaikan harga hingga enam kali lipat.

"Harga hampir semuanya naik, dalam beberapa kasus dua kali lipat, empat kali lipat, bahkan enam kali lipat," katanya.

Kondisi serupa juga terjadi di rumah sakit. Seorang pegawai menyebut terdapat kekurangan sejumlah obat yang digunakan untuk menangani pasien gangguan kejiwaan. Di sisi lain, Azita Hassanpour mengatakan ibunya yang mengidap kanker masih menjalani kemoterapi, meskipun jadwal pengobatan terkadang mengalami penundaan.

"Saya khawatir saya akan kehilangan dia karena flu. Saya menangis setiap malam tanpa sepengetahuannya," katanya.

Juru bicara Asosiasi Apoteker Iran mengatakan sekitar 700.000 dosis vaksin flu telah didatangkan dari Cina. Sebanyak 500.000 dosis tambahan diperkirakan akan tiba dalam waktu dekat.

x|close