China Bangun Pusat Pelatihan Militer dan Akademi Penerbangan di ASEAN

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Okt 2026, 09:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Bendera China Bendera China (Istimewa)

Ntvnews.id, Vientiane - China meresmikan pusat pelatihan dan akademi penerbangan di Asia Tenggara ketika Beijing terus memperluas aktivitas militernya di kawasan tersebut.

Dilansir dari Reuters, Kamis, 1 Oktober 2026, Kementerian Pertahanan Nasional China menyatakan Pusat Dukungan dan Pelatihan Gabungan China-Laos serta Akademi Penerbangan Persahabatan China-Laos mulai beroperasi pada Selasa, 29 September 2026 Kedua fasilitas itu berada di sebuah bandara di Ban Keun, Laos.

Sejumlah analis menilai keberadaan fasilitas tersebut dapat menjadi bagian dari upaya China memperkuat posisi militernya di Asia Tenggara.

"Fakta bahwa ini merupakan pusat dukungan dan pelatihan gabungan menunjukkan bahwa (Tentara Pembebasan Rakyat China/PLA) mungkin berupaya mendapatkan akses tetap ke pusat logistik yang dapat mendukung pasukan yang bergiliran bertugas di Laos," kata analis senior di Australian Strategic Policy Institute, Rachel Vandenbrink, kepada Reuters.

Pembangunan fasilitas tersebut menjadi perkembangan terbaru dalam ekspansi militer China di kawasan ASEAN. Proyek pembangunan pusat pelatihan dan akademi tersebut diketahui telah dimulai sejak akhir 2025.

Sejumlah catatan menunjukkan lokasi tersebut sebelumnya pernah digunakan Amerika Serikat (AS) ketika terlibat dalam perang di Laos serta negara-negara tetangganya, Vietnam dan Kamboja, pada dekade 1960-an dan 1970-an.

Namun, berdasarkan jejak fasilitas yang terlihat pada citra satelit hingga tahun lalu, kompleks yang dibangun China tersebut memiliki ukuran jauh lebih besar dibandingkan pangkalan yang pernah digunakan AS di lokasi itu.

Baca Juga: Ponsel China Siapkan Baterai 10.000mAh dengan Teknologi Sel Bertumpuk

China juga memiliki fasilitas pelatihan dan dukungan di Pangkalan Angkatan Laut Ream, Kamboja. Selain itu, Beijing mengoperasikan pangkalan logistik di Djibouti.

Pemerintah Kamboja menyatakan tidak terdapat personel maupun kapal perang China yang ditempatkan secara permanen di Ream.

"Tidak seperti Pangkalan Angkatan Laut Ream, pangkalan logistik militer di Laos ini tampak lebih mirip dengan yang ada di Djibouti," tulis Collin Koh, pakar keamanan dari S. Rajaratnam School of International Studies, Singapura, dalam unggahan di media sosial X.

"Mungkin tidak salah untuk menyimpulkan bahwa ini adalah pangkalan luar negeri PLA pertama yang beroperasi penuh di Asia Tenggara."

Laos merupakan negara satu partai yang berada di bawah pemerintahan Partai Revolusioner Rakyat Laos. Negara tersebut memiliki hubungan historis yang panjang dan kompleks dengan dua negara tetangganya yang juga menganut sistem pemerintahan komunis, yakni China dan Vietnam.

Kekuatan udara Laos relatif kecil dan mengoperasikan sejumlah pesawat buatan China serta Rusia.

Bendera China <b>(Istimewa)</b> Bendera China (Istimewa)

Selama ini, personel militer Laos umumnya harus bepergian ke Vietnam, Rusia, dan China untuk mengikuti pelatihan lanjutan. Namun, seorang diplomat Asia Tenggara mengatakan sebagian pelatihan tersebut kini dapat dilakukan di dalam negeri.

Diplomat itu juga menyebut China dalam beberapa waktu terakhir semakin memperluas kehadiran militernya di negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia. Indonesia disebut akan membangun fasilitas produksi amunisi bersama Beijing.

Para atase militer dan analis kawasan telah lama menilai China membutuhkan jaringan pangkalan militer yang lebih luas seiring modernisasi militernya. Jaringan tersebut juga dinilai dibutuhkan Beijing untuk memperluas kemampuan proyeksi kekuatan dalam menghadapi persaingan dengan Amerika Serikat.

Vandenbrink mengatakan dirinya belum dapat memastikan jenis kekuatan militer yang berpotensi diproyeksikan China dari Laos.

"Di Ban Keun, signifikansi yang lebih mendesak mungkin adalah kemampuan China untuk membangun kehadiran militer yang berkelanjutan dan memperdalam hubungan kelembagaannya dengan angkatan bersenjata Laos," katanya.

Kementerian Pertahanan China telah memberikan tanggapan mengenai keberadaan fasilitas tersebut.

Menurut kementerian, kompleks tersebut akan digunakan sebagai fasilitas pelatihan bagi pilot angkatan udara dan "tidak ditujukan terhadap pihak ketiga mana pun."

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Laos belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait fasilitas tersebut.

x|close