Ntvnews.id, Brussel - Meski sebagian besar kendaraan pribadi tidak menggunakan solar sebagai bahan bakar, harga komoditas tersebut tetap memiliki pengaruh besar terhadap aktivitas sehari-hari dan perekonomian.
Pasalnya, berbagai kegiatan ekonomi, seperti distribusi barang ke supermarket, pengangkutan hasil pertanian, pembangunan, hingga industri manufaktur, masih sangat bergantung pada kendaraan dan mesin berbahan bakar diesel. Truk dan alat berat menjadi contoh utama pengguna solar.
Karena itu, kelangkaan maupun kenaikan harga solar berpotensi memberikan dampak ekonomi yang lebih luas dibandingkan kenaikan harga bensin. Kondisi tersebut dapat meningkatkan ongkos distribusi barang serta biaya pengoperasian berbagai mesin berat.
Tekanan terhadap dunia usaha pada akhirnya dapat diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga barang dan jasa. Situasi ini berisiko memperburuk tekanan biaya hidup sekaligus mendorong inflasi. Lantas, apa yang membuat harga solar dunia mengalami kenaikan tajam?
AS Soroti Serangan Ukraina terhadap Kilang Rusia
Dilansir dari DW, Kamis, 1 Oktober 2026, Amerika Serikat dan Tiongkok tercatat sebagai dua produsen solar terbesar di dunia. Namun, sebagian besar produksi Tiongkok digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, sehingga Amerika Serikat menjadi salah satu eksportir solar terbesar secara global.
Berdasarkan data Badan Informasi Energi AS (EIA), harga rata-rata mingguan solar di Amerika Serikat kini mencapai US$6,52 atau sekitar Rp117 ribu per galon. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan rata-rata tahun sebelumnya yang berada di kisaran US$3,74 atau Rp67 ribu per galon. Dua tahun sebelumnya, harga rata-rata tercatat sekitar US$3,53 atau Rp63.300 per galon.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya meminta Presiden Ukraina menghentikan serangan terhadap kilang minyak Rusia "karena menyebabkan kelangkaan solar."
Rusia sendiri merupakan salah satu pemasok solar terbesar dunia. Namun, menurut Badan Energi Internasional (IEA), sejumlah kilang minyak di negara tersebut telah menjadi sasaran serangan hingga 15 kali sejak 2022.
Baca Juga: Shell Naikkan Harga Solar Jadi Rp25.420 per Liter Mulai 1 September 2026
IEA memperkirakan produksi solar Rusia turun hampir 30 persen dibandingkan tingkat produksinya pada 2025. Untuk menjaga ketersediaan pasokan di dalam negeri, pemerintah Rusia kini memberlakukan pembatasan ekspor solar.
Penurunan produksi Rusia membuat Amerika Serikat berupaya memperbesar pasokannya untuk menutup kekurangan di pasar global. Namun, langkah tersebut dinilai belum mampu sepenuhnya mengatasi defisit. Pada 22 September, Trump juga mengungkapkan bahwa pemerintah AS tengah mempertimbangkan larangan ekspor solar.
Kebijakan tersebut kemungkinan berkaitan dengan upaya menekan harga energi domestik menjelang pemilu paruh waktu pada November. Harga energi dan keterjangkauannya menjadi salah satu isu penting dalam kampanye politik di AS.
Rencana itu mendapat penolakan dari sejumlah kelompok lobi energi. Sejumlah pakar industri juga menilai kebijakan larangan ekspor belum tentu dapat segera menekan harga. Bahkan, kebijakan tersebut berpotensi berdampak sebaliknya apabila membuat kilang di AS mengurangi produksi sehingga harga justru meningkat.
Eropa Menghadapi Risiko Lebih Besar
Bendera-bendera Uni Eropa berkibar di markas di Brussel, Belgia, pada 23 Mei 2025 (Antara)
Kenaikan harga solar berpotensi memberikan dampak besar bagi negara-negara Eropa yang memiliki tingkat ketergantungan tinggi terhadap bahan bakar tersebut.
"Kebijakan insentif selama berdekade-dekade, seperti keuntungan pajak, membuat armada kendaraan Eropa jauh lebih didominasi oleh solar dibandingkan wilayah seperti AS," ujar Georg Zachmann, peneliti senior di lembaga pemikir Bruegel yang berbasis di Brussel.
"Akibatnya, Uni Eropa secara struktural mengalami surplus bensin yang kemudian diekspor, tetapi mengalami defisit solar yang harus diimpor," tambah Zachmann, yang mengkhususkan diri dalam kebijakan energi dan iklim.
Data Transport & Environment menunjukkan sedikit lebih dari 38 persen mobil penumpang di Uni Eropa menggunakan solar. Sementara itu, transportasi darat, termasuk angkutan barang, menyerap sekitar 77 persen dari total konsumsi solar dan minyak gas.
Ketergantungan tersebut membuat sektor transportasi Eropa cukup sensitif terhadap perubahan harga bahan bakar.
Ketergantungan pada transportasi berbahan bakar solar ini "membuat para pengemudi dan dunia usaha sangat rentan terhadap guncangan harga minyak dan bahan bakar," tulis Juliette Egal, penulis utama laporan tersebut.
Organisasi nonpemerintah itu memperkirakan pengemudi di Uni Eropa harus membayar tambahan sekitar €30 atau Rp613.500 untuk mengisi tangki solar berkapasitas 50 liter sejak awal perang di Iran. Sementara itu, sopir truk jarak jauh asal Jerman rata-rata menghadapi tambahan biaya sekitar €236 atau Rp4,83 juta setiap pekan.
Laporan tersebut juga menyebut kenaikan biaya bahan bakar transportasi darat di Uni Eropa mencapai €270 juta per hari. Dari jumlah itu, sekitar €203 juta atau Rp4,15 triliun berasal dari solar.
Secara keseluruhan, ekonomi Uni Eropa disebut telah menanggung tambahan biaya sekitar €40 miliar atau Rp817,96 triliun akibat kenaikan harga solar untuk transportasi darat sejak awal perang.
Kapasitas Kilang Jadi Persoalan Utama
Peneliti nonresiden Center for Energy Studies di Rice University, Houston, Texas, Skip York, mengatakan perubahan volume pengolahan minyak mentah Rusia menjadi salah satu faktor yang paling cepat memengaruhi harga solar dalam jangka pendek.
"Setiap gelombang baru serangan Ukraina langsung berdampak pada harga solar dalam hitungan hari, tidak seperti Selat Hormuz yang arus alirannya berada di tingkat rendah namun relatif stabil selama berbulan-bulan," tambahnya.
Menurut York, persoalan utama saat ini bukan terletak pada produksi minyak mentah. Padahal, minyak mentah merupakan bahan baku utama untuk menghasilkan solar dan bensin. Kondisi tersebut menjelaskan mengapa harga minyak mentah hanya bergerak secara moderat, sementara harga solar mengalami lonjakan lebih tinggi.
"Kemacetan (bottleneck) minyak telah bergeser dari 'kurangnya minyak mentah' pada bulan Maret/April menjadi 'kurangnya kapasitas kilang' sejak bulan Agustus," ujar sang pakar kepada DW.
Ia menilai gangguan terhadap kilang minyak kini menjadi faktor yang sangat menentukan. Kondisi tersebut terjadi karena "kampanye serangan pesawat tanpa pandang bulu oleh Ukraina maupun konflik Hormuz sama-sama melumpuhkan kapasitas kilang yang beroperasi lebih cepat daripada kemampuan siapa pun untuk menggantinya."
Meski demikian, Selat Hormuz masih dianggap sebagai "risiko struktural yang lebih besar" terhadap harga solar dalam jangka panjang.
Zachmann menambahkan bahwa kapasitas kilang dunia telah "anjlok secara substansial, dan solar sangat terdampak," tandas Zachmann.
Prospek Harga Solar ke Depan
Berlanjutnya konflik di Timur Tengah maupun Rusia berpotensi menambah tekanan terhadap pasokan solar, khususnya bagi Eropa. Kondisi tersebut dapat semakin berat apabila Amerika Serikat benar-benar membatasi ekspor solar.
Menurut York, ekspor solar AS ke Eropa meningkat sekitar 37 persen dibandingkan tahun lalu. Pasokan tersebut kini memenuhi sekitar 8 persen kebutuhan solar Eropa.
Dengan kondisi tersebut, Amerika Serikat menjadi salah satu sumber alternatif penting bagi Eropa untuk menggantikan pasokan dari Rusia dan kawasan Teluk Persia.
Jika AS menghentikan ekspor solar, Zachmann menilai langkah tersebut dapat menimbulkan guncangan besar dan mendorong harga solar semakin tinggi. Situasi itu juga dapat memunculkan respons dari Uni Eropa dengan mengurangi ekspor bensin ke AS.
Langkah saling membatasi perdagangan tersebut berpotensi "membuat kedua belah pihak merugi" karena dapat menaikkan harga bensin di Amerika Serikat sekaligus meningkatkan harga solar di Uni Eropa.
Tekanan pasokan juga dapat bertambah karena musim dingin segera tiba di belahan Bumi Utara. Kilang minyak harus memenuhi kebutuhan minyak pemanas sekaligus solar, sehingga persaingan penggunaan produk olahan minyak diperkirakan semakin ketat.
Selain itu, penutupan sejumlah kilang di Eropa dan Amerika Serikat sejak 2019 membuat pasar solar semakin rentan terhadap gangguan pasokan. York menyebut kondisi tersebut telah mengurangi kapasitas kilang cadangan yang sebelumnya berfungsi sebagai penyangga ketika terjadi guncangan pasar.
"Pada intinya, pasar kini memiliki lebih sedikit 'stok barel cadangan' yang siap siaga," tegasnya. "Oleh karena itu, hilangnya satu barel saja berdampak pada pasokan secara jauh lebih langsung dibanding sebelumnya."
Ilustrsi Solar BBM (Istimewa)