Basarnas Kaji Pengoperasian KRI Sriwijaya-100 untuk Misi SAR

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Okt 2026, 19:40
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Upacara pemberian nama dan pengibaran bendera merah putih di atas KRI Sriwjaya-100 yang bersandar di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis, 24 September 2-26. Upacara pemberian nama dan pengibaran bendera merah putih di atas KRI Sriwjaya-100 yang bersandar di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis, 24 September 2-26. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Basarnas belum membahas secara rinci mekanisme teknis penggunaan KRI Sriwijaya-100 dalam operasi pencarian dan pertolongan (SAR), baik untuk penanganan bencana alam maupun kejadian nonbencana seperti kecelakaan transportasi.

Deputi Operasi Basarnas Edy Prakoso mengatakan pemanfaatan kapal tersebut sebagai pangkalan logistik dan operasi kemanusiaan, terutama untuk kegiatan SAR, masih memerlukan kajian serta pertimbangan operasional sebelum digunakan dalam penanganan di lapangan.

"Belum ke arah sana," kata Edy di Jakarta, Kamis, 1 Oktober 2026, saat ditanya mengenai koordinasi teknis penyiapan perlengkapan operasi pencarian bersama pihak militer.

Menurut Edy, penggunaan kapal berukuran besar untuk mendukung operasi SAR memiliki sejumlah aspek teknis yang harus diperhitungkan. Karena itu, rencana pemanfaatan KRI Sriwijaya-100 sebagai pendukung operasi laut dan udara masih perlu dikaji lebih lanjut.

Baca Juga: Qodari: Kapal Induk KRI Sriwijaya-100 Tak Hanya Perkuat Pertahanan, Tapi Juga Penanganan Bencana

Hal tersebut berkaitan dengan kebutuhan operasi di wilayah terpencil, termasuk pengalaman Basarnas dalam penanganan pencarian dan pertolongan setelah bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Barat, serta Sumatera Utara.

Edy menyebut kemampuan armada utama SAR beserta sarana dan prasarana yang saat ini dimiliki Basarnas, TNI, dan Polri masih dapat digunakan untuk menjangkau sejumlah lokasi bencana di berbagai pulau Indonesia.

"Masalah di Sumatera kemarin, misalnya, masih bisa dilaksanakan dengan alat utama (alut) yang ada sekarang ini. Mendatangkan kapal sebesar itu tidak mudah, banyak pertimbangan, baik kedalaman di wilayah saat mendekati lokasi, kemampuan dermaga, dan lain-lain," jelasnya.

Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah kondisi perairan serta infrastruktur pelabuhan. Kedalaman perairan pantai atau draft kapal dan kemampuan dermaga setempat menjadi pertimbangan karena tidak semua pelabuhan mampu menerima kapal berukuran dan berbobot besar.

Baca Juga: Panglima TNI Resmikan KRI SRIWIJAYA-100, Perkuat Pertahanan Maritim

Meski demikian, Basarnas tetap memperkuat koordinasi antarlembaga, khususnya dalam mengintegrasikan dukungan operasi udara dan laut. Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan efektivitas penanganan kecelakaan pelayaran maupun bencana alam di wilayah yang sulit dijangkau.

KRI Sriwijaya-100 sebelumnya merupakan kapal eks-ITS Giuseppe Garibaldi buatan Italia. Kapal tersebut resmi menggunakan nama KRI Sriwijaya-100 melalui upacara penurunan bendera yang berlangsung di Dermaga 107 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis, 24 September 2026.

Kapal tersebut memiliki panjang 180 meter dan lebar 33 meter dengan bobot penuh mencapai 13.850 ton. KRI Sriwijaya-100 juga memiliki daya jelajah hingga 7.000 mil laut dengan kecepatan maksimum 30 knot.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali sebelumnya menyampaikan bahwa KRI Sriwijaya-100 diprioritaskan untuk mendukung Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Kapal itu diproyeksikan menjadi pangkalan terapung atau floating base untuk mempercepat penanganan tanggap darurat bencana di wilayah kepulauan Indonesia.

Kapal tersebut juga memiliki kapasitas hingga 550 awak. Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan KRI Brawijaya-320 yang disebut hanya dapat menampung sekitar 203 personel awak kapal.

(Sumber: Antara)

x|close