Ntvnews.id, Jakarta - Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia (JAI) menegaskan kembali komitmennya terhadap kemanusiaan dan perdamaian dalam momentum satu abad kehadirannya di Indonesia. Pesan tersebut disampaikan dalam Bedah Buku Akademik Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagamaan & Kerja Kemanusiaan di Auditorium UIN Salatiga, Rabu, 30 September 2026.
Kegiatan yang digelar JAI Salatiga bersama Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora (FUADAH) UIN Salatiga itu diikuti sekitar 160 peserta. Mereka terdiri atas civitas academica UIN Salatiga, pengurus FKUB, pegiat komunitas, hingga tokoh lintas agama yang membahas perjalanan sejarah serta kontribusi sosial warga Ahmadiyah di Indonesia.
Dalam forum tersebut, JAI juga memperpanjang Nota Kesepahaman (MoA) dengan FUADAH UIN Salatiga. Penandatanganan dilakukan Dekan FUADAH UIN Salatiga bersama perwakilan Pengurus Besar JAI, Mohammad Sunarto, sebagai bagian dari penguatan kerja sama penelitian, pendidikan moderasi beragama, dan toleransi di ruang publik.
JAI turut menyerahkan secara simbolis antologi Muslim Ahmadiyah dan Indonesia Jilid 1 dan 2 kepada Perpustakaan UIN Salatiga. Buku terbitan Rajawali Pers tahun 2025 tersebut diharapkan dapat menjadi bahan rujukan bagi dosen dan mahasiswa dalam melihat dinamika sosial serta kerja kemanusiaan JAI.
Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan dan Kejaksaan Perkuat Sinergi Tingkatkan Kepatuhan di Sumbarriau-Kepri
Muballigh Daerah Jawa Tengah 3, Mln. Basyarat Ahmad Sanusi, yang hadir mewakili Amir Nasional JAI, menyampaikan bahwa perjalanan Ahmadiyah di Indonesia dimulai sejak kehadirannya di Tapak Tuan, Aceh, pada 1925. Menurutnya, warga Ahmadiyah turut mengambil bagian dalam berbagai fase perjalanan bangsa.
Salah satu catatan yang disampaikan dalam pesan tertulis Amir Nasional JAI adalah keterlibatan anggota jemaat dalam perjuangan kemerdekaan. Raden Muhammad Muhyiddin, yang disebut pernah ditunjuk Presiden Soekarno sebagai Sekretaris Peringatan Kemerdekaan RI pertama, tercatat gugur dalam perjuangan menghadapi pendudukan Belanda.
Selain perjuangan di dalam negeri, JAI juga menyoroti dukungan diplomasi internasional terhadap kemerdekaan Indonesia pada 1946. Pemimpin Tertinggi JAI kala itu, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, disebut menginstruksikan mubaligh Ahmadiyah di Palestina, Mesir, Eropa, dan Amerika Serikat untuk menyuarakan perjuangan kemerdekaan Indonesia melalui media setempat.
Kontribusi kemanusiaan juga menjadi bagian yang ditekankan dalam forum tersebut. Melalui Humanity First, JAI menyebut aktif terlibat dalam penanganan berbagai bencana, program donor kornea mata, serta penanaman pohon secara berkelanjutan.
“Stigma negatif yang beredar di masyarakat umumnya bersumber dari keterbatasan informasi dan prasangka. Misi utama Ahmadiyah adalah menghadirkan Islam rahmatan lil 'alamin lewat kerja damai yang menjunjung tinggi kesetaraan, keadilan, dan prinsip Love for All, Hatred for None,” tegas Mln. Basyarat.
Bedah buku tersebut kemudian ditutup dengan pembacaan Rumusan Salatiga sebagai komitmen bersama menjaga kerukunan berbasis kemanusiaan. Antologi yang disunting Ismatu Ropi dan Dedy Ibmar itu menghimpun tulisan 100 tokoh non-Ahmadiyah dari kalangan akademisi, jurnalis, aktivis HAM, hingga pejabat publik mengenai interaksi dan kerja kemanusiaan bersama JAI selama satu abad di Indonesia.
Bedah Buku Akademik Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagamaan & Kerja Kemanusiaan di Auditorium UIN Salatiga (Istimewa)