Ntvnews.id, Paris - Sebanyak 400 sekolah di Prancis ditutup pada Jumat, 1 Oktober 2026, setelah aksi demonstrasi pelajar berlangsung selama beberapa hari. Aksi tersebut digelar sebagai bentuk kritik terhadap sistem pendidikan di negara tersebut.
Menteri Pendidikan Prancis Edouard Geffray meminta para orang tua meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak mereka di tengah situasi yang terjadi.
"Anak-anak berada dalam bahaya di jalanan. Orang tua harus bertindak dan memberi tahu anak-anak mereka untuk tak pergi ke lokasi blokade," kata Geffray, dikutip dari RFI, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Kementerian Dalam Negeri Prancis sebelumnya mencatat sebanyak 1.027 sekolah menengah terdampak kekerasan selama demonstrasi pada Kamis. Dari jumlah tersebut, sekitar 100 sekolah dilaporkan mengalami kerusakan serius.
Baca Juga: Mutasi Besar Pejabat Utama Polri, Kabareskrim hingga Irwasum Berganti
Penutupan ratusan sekolah dilakukan setelah para pelajar sekolah menengah di sejumlah wilayah menggelar aksi blokade. Mereka menyuarakan tuntutan agar pemerintah memperbaiki sistem pendidikan.
Para siswa mengeluhkan kondisi ruang kelas yang terlalu padat, keterbatasan jumlah guru, bangunan sekolah yang mengalami kerusakan, serta minimnya investasi dalam sektor pendidikan selama bertahun-tahun.
"Kami tak cukup kursi di ruang kelas. Waktu istirahat satu jam untuk semua orang mendapat makanan terlalu singkat," kata pelajar berusia 15 tahun, Kesia, dikutip Reuters.
Pada awalnya, aksi demonstrasi berlangsung secara damai. Namun, kondisi kemudian memanas ketika polisi menggunakan gas air mata dan peluru karet untuk membubarkan massa.
Dalam rangkaian demonstrasi tersebut, aparat menangkap 1.949 orang, yang sebagian besar di antaranya merupakan pelajar.
Sejumlah kelompok hak asasi manusia menuding aparat kepolisian menggunakan tindakan keras terhadap demonstran yang masih berusia di bawah umur. Tindakan yang disoroti antara lain penggunaan kekerasan, gas air mata, serta peluru karet yang diklaim tidak mematikan.
Pemerintah Prancis telah membuka sejumlah penyelidikan untuk menindaklanjuti dugaan kekerasan yang dilakukan polisi. Salah satu penyelidikan tersebut berkaitan dengan seorang remaja berusia 16 tahun yang mengalami cedera pada mata setelah polisi menembakkan peluru karet ke arah kerumunan demonstran.
Ilustrasi - Bendera Prancis (Antara)