Ntvnews.id, Tel Aviv - Israel tengah mempersiapkan berbagai kemungkinan untuk kembali melancarkan operasi militer terhadap Iran, baik dengan dukungan Amerika Serikat maupun secara mandiri.
Dilansir dari Middle East Monitor, Rabu, 7 Oktober 2026, persiapan tersebut dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan serta belum adanya kemajuan dalam upaya diplomasi antara Washington dan Teheran.
Menurut laporan Israel Hayom, militer Israel tengah menyusun sejumlah skenario untuk menghadapi kemungkinan serangan terhadap Iran.
Di sisi lain, Israel tetap menjaga koordinasi intelijen dan operasional yang erat dengan militer Amerika Serikat.
Militer Israel juga mempersiapkan kemungkinan melancarkan serangan pencegahan maupun melakukan tindakan balasan apabila Iran terlebih dahulu menyerang.
Meski demikian, laporan tersebut menyebut peluang Israel atau Amerika Serikat melancarkan serangan baru sebelum pemilihan paruh waktu AS pada November masih relatif kecil.
Israel tetap menempatkan program nuklir Iran sebagai salah satu ancaman utama.
Dalam situasi tersebut, Walla melaporkan Amerika Serikat berencana menambah jumlah pasukan dan pesawat militernya di Israel dalam beberapa pekan mendatang untuk mengantisipasi potensi eskalasi di Timur Tengah.
Menurut laporan Walla, saat ini sekitar 3.000 personel militer AS berada di sejumlah wilayah Israel.
Baca Juga: Cap Zionis sebagai Rasisme, Israel Larang Pemimpin Green Party Inggris Masuk
Mereka bertugas mengoperasikan sistem pertahanan udara, termasuk pilot, kru pendukung, personel logistik, serta pasukan yang ditempatkan di berbagai pangkalan militer.
Tambahan personel dan pesawat diperkirakan akan tiba dalam beberapa minggu ke depan seiring Washington memperkuat kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, militer Israel terus meningkatkan kesiapan untuk menghadapi kemungkinan konflik baru dengan Iran maupun lonjakan ketegangan regional secara tiba-tiba. Dalam persiapan tersebut, Israel disebut tetap berkoordinasi secara intensif dengan Komando Pusat AS (CENTCOM).
Persiapan militer itu berlangsung ketika Iran masih berupaya mempertahankan jalur diplomasi dengan Washington.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya menyatakan Teheran masih terbuka untuk melanjutkan perundingan demi mencapai "solusi yang adil".
Dalam pembicaraan tidak langsung yang digelar melalui Qatar di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada September, Iran mengajukan tujuh persyaratan terkait rencana pembukaan kembali Selat Hormuz.
Namun, Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington tidak menyetujui persyaratan yang diajukan Iran, seperti dilaporkan Middle East Monitor.
Ilustrasi - Bendera Amerika Serikat dengan bendera Iran. (ANTARA)