Ntvnews.id, Taheran - Qatar mengungkapkan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran masih menjalankan pembicaraan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan. Namun, Doha mengakui proses perundingan tersebut kini menghadapi kebuntuan setelah konflik berjalan selama tujuh bulan.
Dilansir dari AFP, Kamis, 8 Oktober 2026, Pejabat Kementerian Luar Negeri Qatar Ibrahim Al-Hashimi mengatakan negosiasi tidak langsung antara Washington dan Teheran turut membahas kekhawatiran berbagai pihak.
"Saya dapat mengonfirmasi bahwa pembicaraan terus berlanjut dan pertukaran pesan antar berbagai pihak masih berlangsung melalui Qatar dan mitra-mitra regionalnya," kata Al-Hashimi dalam pernyataannya.
Ia menilai besarnya dampak konflik membuat berbagai pihak perlu terus mendorong penyelesaian melalui jalur diplomasi.
"Sebagaimana Anda ketahui, skala konflik ini dan besarnya harga yang harus dibayar oleh seluruh dunia, menuntut kita untuk mengerahkan upaya terbaik guna mengakhiri ini segera melalui solusi yang dapat disepakati di meja perundingan," ucapnya.
Baca Juga: Rusia Siapkan Pinjaman Rp17,9 Triliun untuk Iran
Sementara itu, Kerajaan Qatar dalam pernyataan terpisah menyebut Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani bertemu dengan Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni di Doha pada Selasa, 6 Oktober 2026 waktu setempat. Tidak ada keterangan lebih lanjut mengenai agenda pembicaraan dalam pertemuan tersebut.
Konflik antara AS dan Israel melawan Iran yang pecah sejak 28 Februari lalu belum sepenuhnya berakhir. Kedua pihak sebelumnya menyepakati gencatan senjata pada April, yang kemudian diikuti penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada Juni.
Namun, pertempuran kembali terjadi setelah AS dan Iran terlibat perselisihan mengenai kendali atas Selat Hormuz. Jalur perairan tersebut merupakan salah satu rute strategis bagi distribusi minyak dan gas dunia.
Berbagai upaya diplomasi terus dilakukan, termasuk perundingan terbaru yang berlangsung bulan lalu di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York. Namun, rangkaian pertemuan tersebut belum menghasilkan kesepakatan baru.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya menyatakan pada Senin, 5 Oktober 2026 bahwa pembicaraan dengan AS "tidak ada gunanya" dan justru berakhir dengan serangkaian serangan baru.
Ilustrasi - Bendera Amerika Serikat dengan bendera Iran. (ANTARA)