Ntvnews.id,
Pemerintah Rusia mengklaim hampir 5.000 tes tidak menemukan patogen berbahaya dan seluruh pemantauan medis terhadap orang-orang yang pernah melakukan kontak dengan korban telah berakhir.
Pemerintah Rusia akhirnya mengakhiri langkah pemantauan medis terhadap seluruh kontak seorang pekerja laboratorium yang kematiannya sempat memicu kekhawatiran akan kemungkinan wabah penyakit pes di Siberia. Keputusan diambil setelah serangkaian pemeriksaan kesehatan tidak menemukan bukti keberadaan patogen berbahaya.
Gubernur Irkutsk, Igor Kobzev menyampaikan bahwa seluruh prosedur pemantauan medis telah diselesaikan tanpa ditemukan gangguan kesehatan yang berkaitan dengan penyakit menular.
"Pemantauan medis terhadap semua kontak telah selesai. Tidak ditemukan masalah kesehatan terkait penyakit menular," kata Kobzev dalam pernyataan yang diunggah melalui Telegram, sebagaimana dikutip dari Turkiyetoday, Minggu, 11 Oktober 2026.
Ia juga mengatakan bahwa kondisi kesehatan masyarakat di wilayah tersebut tetap terkendali. Meski demikian, kasus kematian pekerja laboratorium itu telah menarik perhatian, terutama karena muncul laporan yang mengaitkannya dengan wabah pneumonia, salah satu bentuk penyakit pes yang paling berbahaya dan dapat menular melalui udara.
Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya mendesak Rusia untuk memberikan penjelasan yang transparan mengenai insiden tersebut.
Kematian Pekerja Laboratorium Disebut karena Pneumonia
Pemerintah Rusia hingga kini belum mengonfirmasi bahwa pekerja laboratorium tersebut meninggal akibat penyakit pes. Kobzev menyatakan bahwa perempuan itu mengalami community-acquired pneumonia atau pneumonia yang didapat dari komunitas.
Menurut laporan Bloomberg, korban juga disebut telah menerima vaksinasi terhadap infeksi berbahaya yang menjadi bagian dari pekerjaannya. Kobzev mengatakan bahwa situasi sanitasi dan epidemiologi di Kota Irkutsk maupun Shelekhov, lokasi yang dikaitkan dengan kematian perempuan tersebut, berada dalam kondisi stabil.
Pernyataan serupa disampaikan Rospotrebnadzor, lembaga pengawas kesehatan konsumen Rusia. Lembaga itu menyatakan tidak menemukan insiden yang melibatkan mikroorganisme patogen di Institut Anti-Wabah Irkutsk. Selain itu, prosedur keselamatan di fasilitas tersebut disebut telah dijalankan sesuai ketentuan.
"Tidak ada risiko epidemi bagi penduduk kota Irkutsk dan wilayah Irkutsk," demikian pernyataan tersebut.
Pemerintah Rusia juga menyebut hampir 5.000 pemeriksaan telah dilakukan sebagai bagian dari upaya memastikan keamanan kesehatan masyarakat. Hasil pemeriksaan tersebut dilaporkan tidak menunjukkan keberadaan patogen berbahaya yang memicu kekhawatiran.
Meski demikian, perbedaan antara keterangan resmi pemerintah dan laporan sejumlah media membuat kasus ini tetap menjadi perhatian publik.
Laporan Dugaan Wabah Pes Picu Kekhawatiran Internasional
Melansir dari Turkiyetoday, kekhawatiran mengenai kemungkinan wabah penyakit pes bermula dari laporan media independen People of Baikal, yang beroperasi di luar Rusia.
Media tersebut sebelumnya melaporkan bahwa pekerja laboratorium bernama Darya Shipilova meninggal akibat penyakit pes. Salah satu dugaan yang beredar menyebutkan bahwa infeksi itu mungkin terjadi setelah korban memecahkan sebuah tabung reaksi di tempat kerjanya.
Namun, informasi tersebut belum dikonfirmasi oleh pemerintah Rusia. Otoritas kesehatan setempat justru menyatakan bahwa penyebab kematian yang dilaporkan adalah pneumonia yang didapat dari komunitas.
Penyakit pes merupakan infeksi bakteri yang disebabkan oleh Yersinia pestis. Penyakit ini memiliki beberapa bentuk, termasuk pes bubonik dan pes pneumonia. Bentuk pneumonia menjadi perhatian khusus karena dapat menyebar melalui droplet pernapasan dari orang yang terinfeksi dan berkembang dengan cepat apabila tidak segera ditangani.
Kendati demikian, dugaan keterkaitan kematian pekerja laboratorium dengan penyakit pes belum dapat dianggap sebagai fakta yang terkonfirmasi berdasarkan keterangan resmi yang tersedia dalam laporan tersebut.
Pemberitaan Wabah Disebut Informasi Palsu
Kremlin turut merespons pemberitaan mengenai dugaan wabah penyakit pes di Siberia. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov menepis sebagian besar laporan media yang beredar mengenai kasus tersebut.
"Sebagian besar pemberitaan media mengenai situasi ini adalah informasi palsu," kata Peskov ketika ditanya mengenai laporan dugaan kasus kedua.
Rospotrebnadzor juga membantah kabar yang beredar di media sosial mengenai adanya pasien kedua yang diduga terinfeksi penyakit pes. Lembaga tersebut menyebut informasi itu tidak benar.
Di sisi lain, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus meminta pemerintah Rusia memberikan klarifikasi mengenai laporan tentang seorang pekerja lain yang mengalami pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui.
WHO sebelumnya menilai risiko yang berkaitan dengan insiden tersebut berada pada tingkat sedang hingga rendah untuk wilayah Irkutsk, serta sangat rendah bagi kawasan Eropa.
Penilaian tersebut menunjukkan bahwa perhatian terhadap kasus ini tidak hanya berkaitan dengan penyebab kematian pekerja laboratorium, tetapi juga kemungkinan penyebaran penyakit apabila dugaan infeksi berbahaya terbukti benar.
AS dan Mongolia Ikut Memantau Perkembangan Kasus
Isu dugaan wabah penyakit pes di Siberia juga mendapat perhatian dari Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pihaknya tidak meyakini insiden tersebut berkaitan dengan senjata biologis. Namun, ia mengatakan bahwa informasi lebih lanjut akan diketahui seiring perkembangan penyelidikan.
"Kami rasa tidak. Kami akan segera mengetahuinya, tetapi kami rasa tidak," ujar Trump ketika ditanya mengenai kemungkinan keterlibatan senjata biologis.
Sementara itu, Mongolia dilaporkan meningkatkan pengawasan kesehatan di wilayah perbatasannya dengan Rusia. Langkah tersebut menjadi bagian dari kewaspadaan terhadap kemungkinan risiko kesehatan lintas batas.
Warga Shelekhov Masih Cemas meski Rusia Nyatakan Situasi Aman
Di tengah pernyataan pemerintah bahwa kondisi telah terkendali, kekhawatiran masih dirasakan sebagian warga di Shelekhov.
Sejumlah warga mengatakan kepada Agence France-Presse (AFP) bahwa minimnya informasi resmi mengenai kematian pekerja laboratorium tersebut telah memunculkan berbagai rumor dan membuat masyarakat kesulitan menentukan informasi mana yang dapat dipercaya.
Oksana, seorang perempuan berusia 35 tahun, mengaku mengalami kebingungan akibat banyaknya informasi yang beredar. Ia mengatakan dirinya menghabiskan empat hari dalam karantina di ruang bersalin.
"Ada begitu banyak informasi sehingga saya tidak tahu lagi apa yang harus dipercaya atau siapa yang harus saya dengarkan," kata Oksana, 35 tahun, yang menghabiskan empat hari dikarantina di ruang bersalin.
"Pada kenyataannya, tidak ada yang memberi tahu kami apa yang sebenarnya terjadi," kata Tatyana, 66 tahun, ketika pengumuman Rusia bahwa situasi sudah aman gagal sepenuhnya meredakan kekhawatiran akan wabah penyakit pes.
WHO Desak Rusia Transparan soal Kematian Teknisi di Pusat Riset Pes Siberia
Diberitakan sebelumnya, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus meminta Rusia memberikan informasi secara terbuka terkait kematian seorang teknisi laboratorium di pusat penelitian penyakit pes di Siberia. Peristiwa tersebut menimbulkan kekhawatiran terkait kemungkinan wabah pes hingga menyebabkan ratusan orang menjalani karantina.
"Berbagi informasi yang tepat waktu, lengkap, dan transparan sesuai dengan Peraturan Kesehatan Internasional sangatlah penting untuk mengklarifikasi laporan yang saling bertentangan, dan memungkinkan penilaian yang akurat mengenai potensi risiko kesehatan masyarakat," tegas Tedros dalam pernyataan via media sosial X, seperti dilansir dari AFP, Kamis, 8 Oktober 2026.
Tedros juga menyatakan WHO siap memberikan bantuan teknis kepada pemerintah Rusia apabila dukungan tersebut dibutuhkan.
"WHO telah secara aktif menindaklanjuti laporan kematian seorang pekerja laboratorium di Institut Penelitian Anti-Pes Irkutsk," kata Tedros.
ilustrasi - Dokter memegang botol ampul kaca yang mengandung sel molekul virus corona. (Antara)