Bandara Ibu Kota Arab Saudi Kembali Ditutup Usai Serangan Rudal

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 12 Okt 2026, 08:45
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Bendera Arab Saudi Bendera Arab Saudi (Arab News)

Ntvnews.id, Riyadh - Pemerintah Arab Saudi memperpanjang penutupan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menyusul serangan rudal yang diduga dilakukan kelompok Houthi pada Sabtu, 10 Oktober 2026 Serangan tersebut dilaporkan menewaskan 12 orang dan menyebabkan lebih dari 300 lainnya terluka.

Penutupan bandara diperpanjang hingga setidaknya pukul 21.00 waktu setempat pada Minggu, 11 Oktober 2026.

Dilansir dari AFP, Senin, 12 Oktober 2026, Korban tewas dalam serangan itu berasal dari sejumlah negara. Otoritas Arab Saudi melaporkan empat warga negara Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing satu warga Palestina, Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, dan Sudan meninggal dunia.

Sejumlah rumah sakit di wilayah tersebut masih memberikan perawatan kepada para korban yang mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.

Koalisi pimpinan Arab Saudi yang beroperasi di Yaman menuding kelompok Houthi sebagai pihak yang bertanggung jawab. Insiden itu disebut sebagai serangan paling mematikan di negara-negara Arab Teluk sejak perang Iran dimulai.

Serangan tersebut juga menambah daftar insiden yang menyasar Bandara Internasional King Khalid selama sepekan terakhir.

Setelah kejadian itu, kelompok Houthi kembali mengancam akan meningkatkan intensitas serangan. Juru bicara militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, bahkan menyebut sejumlah bandara di Arab Saudi sebagai sasaran berikutnya.

Baca Juga: Dubes Yaman di PBB Sebut Houthi Perluas Serangan ke Target Sipil dan Ekonomi Arab Saudi

Saree turut memperingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan ancaman yang disampaikan kelompoknya.

"Setiap orang harus menanggapi peringatan kami dengan serius," kata Saree, seperti dilansir AP News.

Serangan terhadap bandara Riyadh tersebut mendapat kecaman dari berbagai pihak, termasuk Irak, Lebanon, dan Suriah. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres serta Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen juga menyampaikan kecaman atas insiden tersebut.

Von der Leyen menilai serangan yang dilakukan kelompok-kelompok yang didukung Iran berpotensi memperparah konflik di kawasan Timur Tengah.

"Serangan oleh proksi Iran mendorong kawasan ini ke dalam pusaran kekerasan," tulis Von der Leyen melalui media sosial X pada Minggu, 11 Oktober 2026.

Ia juga menyoroti dampak serangan tersebut terhadap pusat transportasi dan energi global yang memiliki peran penting bagi perekonomian dunia.

Asap tebal naik di dekat Bandara Internasional King Khalid di timur laut Riyadh, Arab Saudi <b>(Antara)</b> Asap tebal naik di dekat Bandara Internasional King Khalid di timur laut Riyadh, Arab Saudi (Antara)

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tengah mempertimbangkan kemungkinan untuk bergabung dalam operasi militer Arab Saudi melawan kelompok pemberontak Houthi.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan yang dikelola Houthi melaporkan bahwa serangan koalisi pimpinan Arab Saudi selama lima pekan terakhir telah menewaskan 91 warga Yaman dan melukai 168 orang lainnya.

Menurut laporan kementerian tersebut, sekitar 60 persen korban meninggal dunia merupakan perempuan dan anak-anak.

Serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid turut meningkatkan kekhawatiran mengenai keamanan kawasan serta dampaknya terhadap pasar global. Arab Saudi merupakan eksportir minyak mentah terbesar di dunia, sehingga eskalasi konflik di negara tersebut berpotensi mengganggu pasokan energi dan memperburuk gejolak harga minyak internasional.

x|close