Ntvnews.id, Seoul - Korea Selatan berhasil menuntaskan uji coba pelayaran kapal kontainer menuju Eropa melalui kawasan Arktik. Jalur alternatif ini dijajaki untuk mengantisipasi gangguan pelayaran internasional akibat konflik di Timur Tengah.
Kapal kontainer PanStar Acro tiba kembali di Pelabuhan Busan pada Minggu, 11 Oktober 2026, setelah menyelesaikan perjalanan pulang-pergi melalui rute tersebut. Kementerian Kelautan dan Perikanan Korea Selatan menyatakan kapal yang memulai pelayaran pada 22 Agustus itu telah bersandar di Dermaga Jaseongdae, Pelabuhan Busan.
Dalam perjalanan menuju Eropa, PanStar Acro melintasi Jalur Laut Utara di kawasan Arktik. Kapal tersebut kemudian singgah di Felixstowe, Inggris, Rotterdam, Belanda, dan Gdansk, Polandia, sebelum kembali ke Korea Selatan melalui rute yang sama.
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menyambut positif keberhasilan uji coba tersebut. Menurutnya, jalur Arktik dapat memangkas waktu pelayaran satu arah hingga 10 hari dibandingkan rute konvensional yang melewati Terusan Suez.
"Pelayaran ini juga memungkinkan kami memperoleh pengalaman berharga dalam mengoperasikan kapal kontainer Korea Selatan di perairan kutub dan mengumpulkan data navigasi," kata Lee melalui akun X, dikutip dari AFP, Senin, 12 Oktober 2026.
Baca Juga: Iran Siap Buka Selat Hormuz dalam 7 Hari, Ada Syaratnya
Penjajakan rute alternatif ini dilakukan di tengah terganggunya pelayaran global akibat konflik Timur Tengah yang dipicu serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada Februari 2026. Situasi tersebut mendorong pemerintah dan perusahaan pelayaran mencari jalur lain untuk menjaga kelancaran distribusi barang.
Di sisi lain, mencairnya es laut di kawasan Arktik membuka peluang bagi kapal untuk melintasi wilayah tersebut. Namun, peningkatan aktivitas pelayaran komersial turut menimbulkan kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap lingkungan.
Para pegiat lingkungan memperingatkan bahwa peningkatan lalu lintas kapal di Jalur Laut Utara dapat mengancam ekosistem Arktik yang rentan sekaligus mempercepat penyusutan lapisan es. Sejumlah perusahaan pelayaran besar, seperti CMA CGM, MSC, dan Hapag-Lloyd, bahkan telah berkomitmen untuk tidak menggunakan rute tersebut dengan pertimbangan lingkungan.
Jalur Laut Utara yang membentang di sepanjang pesisir utara Rusia umumnya lebih mudah dilalui pada bulan-bulan hangat, ketika tutupan es laut berkurang. Meski demikian, kondisi es di kawasan itu masih sulit diprediksi sehingga sejumlah kapal tetap memerlukan bantuan kapal pemecah es.
Selain persoalan lingkungan dan navigasi, penggunaan jalur yang berada di sepanjang pantai utara Rusia juga berpotensi menimbulkan risiko bagi operator pelayaran terkait penerapan sanksi internasional.
Dalam pernyataannya, Lee tidak membahas kekhawatiran mengenai dampak lingkungan dari pelayaran Arktik. Ia justru menekankan bahwa uji coba tersebut menjadi bekal bagi Korea Selatan untuk menghadapi perkembangan pelayaran di kawasan kutub pada masa mendatang.
Lee juga berencana mengembangkan Busan dan wilayah tenggara Korea Selatan sebagai pusat maritim. Pemanfaatan jalur Arktik diharapkan menjadi salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan sektor maritim negara tersebut.
Arsip foto - Kapal-kapal komersial dan tanker minyak yang bersiap melintasi Selat Hormuz - salah satu jalur perairan strategis paling krusial bagi arus perdagangan global - masih menunggu di Teluk Oman pada 17 Juni 2026 (Antara)