Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Ditutup hingga AS Penuhi Tujuh Syarat Perdamaian

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 12 Okt 2026, 09:52
thumbnail-author
Amanda Putri Utomo
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Arsip foto - Kapal-kapal komersial dan tanker minyak yang bersiap melintasi Selat Hormuz - salah satu jalur perairan strategis paling krusial bagi arus perdagangan global - masih menunggu di Teluk Oman pada 17 Juni 2026 Arsip foto - Kapal-kapal komersial dan tanker minyak yang bersiap melintasi Selat Hormuz - salah satu jalur perairan strategis paling krusial bagi arus perdagangan global - masih menunggu di Teluk Oman pada 17 Juni 2026 (Antara)

Ntvnews.id, Teheran - Iran menegaskan belum akan membuka kembali Selat Hormuz sebelum Amerika Serikat menyetujui tujuh syarat yang diajukan Teheran untuk mengakhiri konflik kedua negara. Persyaratan tersebut merupakan bagian dari proposal perdamaian yang sebelumnya disampaikan melalui Qatar pada September lalu.

Pernyataan itu disampaikan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, yang menyebut pembukaan jalur pelayaran strategis tersebut bergantung pada pemenuhan seluruh tuntutan Iran. Ia juga mengungkapkan bahwa Washington telah berupaya menjalin komunikasi dengan Teheran melalui sejumlah negara perantara.

"Selat Hormuz tidak akan dibuka sampai tujuh syarat Iran dipenuhi. Pihak Amerika mencoba berkomunikasi dengan kami melalui tiga jalur, yakni Irak, Pakistan, dan Qatar," kata Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, kepada saluran televisi Iran Press TV, Minggu 11 Oktober 2026.

Menurut Rezaei, pemerintah Amerika Serikat telah memberikan tanggapan terhadap proposal tersebut dan menyetujui sebagian tuntutan yang diajukan Iran. Meski demikian, Teheran menilai belum ada kejelasan mengenai sikap Washington terhadap sejumlah persyaratan lainnya.

Baca Juga: Menko Polkam Dudung Ungkap Cairan Bantuan Brasil Diuji untuk Padamkan Karhutla dari Udara

"Namun, tanggapan mereka terhadap syarat-syarat lainnya masih samar," kata Rezaei. Dia juga menuding setiap kali Iran kembali duduk di meja perundingan dengan AS, Pentagon kembali melancarkan serangan ke Iran.

Rezaei menilai pola tersebut menunjukkan ketidakkonsistenan Washington dalam menjalankan proses diplomasi. Ia pun memandang serangan yang kembali terjadi ketika perundingan berlangsung sebagai tindakan yang merusak kepercayaan antara kedua pihak.
Sehingga hal itu dianggap sebagai bentuk pengkhianatan yang jelas dari AS, tambah Rezaei.

Ketegangan Iran dan Amerika Serikat bersama Israel meningkat setelah serangan terhadap sejumlah sasaran di wilayah Iran dimulai pada 28 Februari lalu. Teheran kemudian merespons serangan tersebut dengan melancarkan aksi balasan.

Konflik berlanjut pada Maret ketika Amerika Serikat dan Israel menyerang fasilitas di ladang gas South Pars serta kawasan industri Assaluyeh, Iran bagian selatan. Pada pertengahan Juni, Iran dan Amerika Serikat sempat menandatangani memorandum untuk menghentikan permusuhan. Namun, kesepakatan tersebut tidak bertahan lama karena kedua pihak kembali melancarkan serangan.

Baca Juga: Israel-AS Disebut Bakal Serang Iran Sebelum Pemilu 27 Oktober

Hingga kini, upaya mengakhiri konflik belum menghasilkan penyelesaian yang bertahan. Ketegangan tersebut turut mengancam kelancaran pelayaran di Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi salah satu lintasan utama perdagangan minyak, produk minyak, dan gas alam cair dunia.

Terhambatnya aktivitas pelayaran di kawasan tersebut juga menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Gangguan distribusi melalui Selat Hormuz dilaporkan ikut mendorong kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara, sehingga perkembangan konflik Iran dan Amerika Serikat terus menjadi perhatian pasar energi internasional.

(Sumber: ANTARA) 

x|close