Waswas, Taiwan Pantau Latihan Tembak China di Lima Wilayah Perairan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Okt 2026, 07:10
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
China Taiwan China Taiwan (Istimewa)

Ntvnews.id, Taipei - Taiwan meningkatkan pemantauan terhadap latihan tembak langsung yang dilakukan militer China di lima wilayah perairan pada pekan ini. Aktivitas militer tersebut berlangsung di tengah ketegangan hubungan Beijing dan Taipei mengenai status Taiwan.

Dilansir dari AFP, Selasa, 13 Oktober 2026, Menteri Pertahanan Taiwan Wellington Koo mengatakan, hasil penilaian awal menunjukkan latihan militer tersebut melibatkan artileri pantai dan sejumlah unit militer terkait. Pernyataan itu disampaikan kepada wartawan di parlemen.

"Kami berpegang pada prinsip 'mengantisipasi musuh seluas mungkin', jadi kami akan terus memantau aktivitas mereka secara cermat, baik itu penembakan maupun latihan militer," kata Koo.

Administrasi Keselamatan Maritim China sebelumnya mengumumkan pembatasan pelayaran di lima wilayah perairan yang mulai berlaku pada Kamis, 8 Oktober 2026. Area latihan tersebut membentang dari Laut China Selatan hingga Provinsi Liaoning di wilayah timur laut China.

Meski mencakup sejumlah kawasan perairan yang luas, pembatasan tersebut tidak meliputi perairan di sekitar Taiwan. Lokasi latihan yang paling dekat dengan pulau itu berada di lepas pantai Provinsi Zhejiang, China timur.

The Straits Times melaporkan bahwa rangkaian latihan militer tersebut direncanakan berlangsung sepanjang pekan ini.

Perkembangan ini terjadi setelah Presiden Taiwan Lai Ching-te menyampaikan pidato dalam peringatan Hari Nasional Taiwan pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Dalam pidatonya, Lai menegaskan komitmen pemerintahannya untuk menjaga perdamaian tanpa mengorbankan kebebasan Taiwan.

Ia juga menekankan bahwa hak masyarakat Taiwan untuk menentukan masa depan mereka sendiri harus dihormati.

Baca Juga: Perluas Akses Layanan Finansial bagi Diaspora Indonesia, BRImo Taiwan Raih Anugerah Inovasi Indonesia 2026

Pernyataan Lai kembali memicu respons keras dari Beijing. Pemerintah China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan menyebut Lai sebagai seorang "separatis". Beijing juga berulang kali menolak tawaran dialog yang disampaikan pemimpin Taiwan tersebut.

Pada Minggu, 11 Oktober 2026, Kementerian Pertahanan China menuduh Lai membesar-besarkan ancaman dari Beijing serta berupaya "mencari kemerdekaan melalui kekerasan".

Dalam pernyataan resminya, kementerian tersebut membela aktivitas militer China di sekitar Taiwan sebagai langkah untuk mencegah gerakan kemerdekaan dan campur tangan pihak luar.

"Latihan dan pengerahan rutin Tentara Pembebasan Rakyat di sekitar Taiwan dimaksudkan untuk mencegah gerakan kemerdekaan Taiwan yang gegabah dan campur tangan pihak luar, serta menjaga keamanan dan kesejahteraan rakyat Taiwan. Hal ini sepenuhnya dapat dibenarkan," demikian pernyataan kementerian tersebut.

Hingga kini, Beijing belum secara terbuka menghubungkan latihan militer pekan ini dengan pidato Lai. Meski demikian, aktivitas militer China di sekitar Taiwan dilaporkan berlangsung hampir setiap hari.

China terakhir kali menggelar latihan perang berskala besar di sekitar Taiwan pada akhir Desember. Manuver tersebut dilakukan sebagai respons terhadap pengumuman penjualan senjata Amerika Serikat kepada Taiwan senilai US$11 miliar, yang disebut sebagai transaksi penjualan senjata terbesar sepanjang sejarah.

Di tengah situasi tersebut, Lai kembali menegaskan bahwa masa depan Taiwan merupakan hak rakyatnya untuk menentukan. Ia juga menyatakan bahwa Beijing tidak memiliki hak untuk mengklaim Taiwan sebagai wilayahnya.

Ketegangan antara kedua pihak masih menjadi perhatian kawasan, terutama karena aktivitas militer dan perbedaan pandangan mengenai status Taiwan terus berlanjut.

x|close