Demonstrasi Pelajar di Prancis Berlanjut, Sekitar 200 Sekolah Ditutup

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 14 Okt 2026, 08:55
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip - Ilustrasi demo Arsip - Ilustrasi demo (Antara)

Ntvnews.id, Paris - Aksi protes nasional yang digelar pelajar di Prancis kembali berlangsung pada Selasa, 13 Oktober 2026. Gelombang demonstrasi yang memasuki putaran kelima ini berdampak pada sekitar 200 sekolah yang terpaksa ditutup.

Aksi tersebut juga diikuti serikat guru yang mendesak pemerintah meningkatkan anggaran pendidikan serta memperbaiki kondisi belajar di sekolah.

Menurut laporan Le Parisien, dikutip Rabu, 14 Oktober 2026, demonstrasi diawali di Lyon dan Nantes. Sementara itu, sejumlah sekolah di Paris, Rennes, dan Strasbourg diblokade oleh para pelajar dalam rangkaian aksi tersebut.

Menteri Pendidikan Prancis Edouard Geffray menyampaikan kepada France Inter bahwa “sekitar 200 lembaga pendidikan ditutup”. Meski demikian, ia menilai jumlah sekolah yang terdampak kali ini lebih sedikit dibandingkan pekan sebelumnya.

Geffray juga mengungkapkan bahwa platform konsultasi yang ditujukan bagi siswa sekolah menengah telah menghimpun 86.000 masukan. Selain itu, pemerintah tengah merekrut hampir 1.000 guru kontrak guna memperkuat ketersediaan tenaga pengajar pengganti.

Di Paris, pelajar bersama orang tua dan guru berkumpul di sekitar Lycée Hélène-Boucher. Aksi pemblokiran juga dilakukan di sebagian area Lycée Turgot dan Lycée Montaigne.

Baca Juga: Prancis Desak Palestina Batalkan Penundaan Pemilu

Massa demonstran dijadwalkan memulai pawai dari Place d’Italie pada pukul 14.00 waktu setempat atau 12.00 GMT, dengan tujuan akhir di kawasan Les Invalides.

Dampak demonstrasi turut dirasakan Universitas Paris-Panthéon-Assas. Pihak kampus memutuskan mengalihkan kegiatan perkuliahan ke sistem daring setelah aksi blokade mengganggu aktivitas di kampus Assas dan Vaugirard.

Seorang sumber kepolisian mengonfirmasi adanya bentrokan antara dua kelompok di luar kampus Assas pada Selasa pagi. Sejumlah mahasiswa juga melaporkan bahwa seorang rekan mereka mengalami luka-luka.

Greta Thunberg Kritik Tindakan Polisi

Dua serikat guru, FSU-SNUIPP dan SNES-FSU, mengajak para anggotanya untuk ikut serta dalam demonstrasi. Mereka mengangkat sejumlah persoalan, mulai dari masa depan pendidikan publik hingga tuntutan perbaikan kondisi kerja dan kenaikan upah.

Aktivis iklim asal Swedia, Greta Thunberg, turut hadir bersama demonstran di depan Lycée Paul-Éluard di Saint-Denis, wilayah utara Paris. Di lokasi yang sama, sekitar 20 pengacara berkumpul untuk membentuk barisan perlindungan bagi para pelajar.

Dalam wawancara dengan BFMTV, Thunberg mengkritik tindakan aparat kepolisian terhadap para demonstran muda. Ia menyebut tindakan tersebut “sangat brutal” terhadap kaum muda yang menyuarakan tuntutan mengenai “hal-hal paling mendasar”.

“Ini menunjukkan segalanya tentang polisi dan siapa yang sebenarnya mereka lindungi. Aparat penegak hukum seharusnya melindungi kaum muda,” katanya.

Para demonstran menuntut pemerintah menambah anggaran pendidikan. Mereka juga menyuarakan penolakan terhadap Parcoursup, sistem platform penerimaan mahasiswa untuk perguruan tinggi di Prancis.

Menanggapi gelombang protes tersebut, Presiden Emmanuel Macron mengimbau para demonstran agar tetap tenang serta menghormati orang lain dan fasilitas umum.

Berdasarkan laporan Le Parisien, lebih dari 6.800 orang telah ditahan sejak gerakan protes itu bermula. Sebagian besar orang yang ditahan dilaporkan masih berusia di bawah 18 tahun.

Di sisi lain, Inspektorat Jenderal Kepolisian Nasional Prancis (IGPN) telah memulai 24 penyelidikan atas dugaan tindak kekerasan yang dilakukan oleh anggota kepolisian selama berlangsungnya aksi demonstrasi.

x|close