Singapura Aktifkan Subsidi Pengobatan bagi Warga Terdampak Kabut Asap Karhutla

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 14 Okt 2026, 09:25
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Covid Singapura Covid Singapura (Istimewa)

Ntvnews.id, Singapura - Pemerintah Singapura kembali memberlakukan subsidi biaya pengobatan bagi warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bantuan tersebut dapat digunakan untuk memperoleh perawatan di klinik dokter umum dan poliklinik.

Dilansir dari CNA, Rabu, 14 Oktober 2026, Menteri Kesehatan Singapura Ong Ye Kung mengumumkan pengaktifan kembali program subsidi itu pada Minggu, 11 Oktober 2026. Kebijakan ini ditujukan untuk memudahkan masyarakat mendapatkan layanan kesehatan tingkat pertama sekaligus mengurangi kepadatan pasien di unit gawat darurat (UGD) rumah sakit.

Seluruh warga negara Singapura berhak memperoleh subsidi ketika berobat di poliklinik. Adapun bantuan untuk Klinik Kesiapsiagaan Kesehatan Masyarakat atau Public Health Preparedness Clinics (PHPC) hanya diberikan kepada kelompok masyarakat yang memenuhi kriteria, termasuk anak-anak dan lansia.

Penerima Bantuan Publik berhak mendapatkan layanan kesehatan dengan subsidi penuh. Sementara itu, lansia yang termasuk dalam program Generasi Perintis dan Generasi Merdeka hanya perlu membayar maksimal S$5 atau sekitar Rp69 ribu. Warga Singapura lainnya yang memenuhi persyaratan dikenakan biaya perawatan paling tinggi S$10 atau sekitar Rp140 ribu.

Untuk klinik PHPC yang berpartisipasi, subsidi berlaku bagi warga Singapura berusia maksimal 18 tahun atau berusia 65 tahun ke atas. Penerima bantuan lainnya mencakup pemegang kartu CHAS Biru dan Oranye, penerima Bantuan Publik, anggota Generasi Perintis dan Generasi Merdeka, serta pemegang Kartu Pembebasan Biaya Medis.

Program ini mencakup sejumlah gangguan kesehatan yang berkaitan dengan kabut asap, antara lain rinitis alergi, asma, bronkitis, konjungtivitis, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), infeksi saluran pernapasan atas, serta komplikasi yang ditimbulkannya.

Dokter akan terlebih dahulu mengevaluasi kondisi pasien untuk memastikan apakah penyakit yang dialami berkaitan dengan kabut asap. Pemeriksaan dan pengobatan terhadap penyakit yang tidak berhubungan dengan kabut asap tidak termasuk dalam skema subsidi tersebut.

Pemberian obat juga disesuaikan dengan kebutuhan pasien selama menjalani perawatan.

Baca Juga: Foto Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud di Singapura Viral saat Karhutla

Masyarakat dapat melihat daftar klinik PHPC peserta program melalui situs resmi Kementerian Kesehatan Singapura. Klinik yang mengikuti program ini dapat dikenali melalui stiker PHPC atau poster informasi subsidi pengobatan akibat kabut asap.

Ong menyebutkan, jaringan PHPC memiliki sekitar 1.370 klinik. Dari jumlah tersebut, hampir 1.000 klinik telah menyatakan kesediaannya untuk ikut serta dalam program subsidi tersebut.

Program serupa terakhir kali diberlakukan pada 2015, ketika Singapura dilanda salah satu episode kabut asap terburuk akibat kebakaran hutan di Indonesia. Saat itu, kabut asap menyelimuti kawasan tersebut selama berminggu-minggu.

Ong mengungkapkan bahwa jumlah pasien dengan gangguan pernapasan yang mendatangi UGD mengalami peningkatan dari minggu ke minggu. Poliklinik juga mencatat bertambahnya pasien yang mengeluhkan masalah kesehatan serupa.

Ia mengimbau masyarakat dengan gangguan pernapasan yang masih dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama agar mendatangi klinik terlebih dahulu, alih-alih langsung menuju UGD. Namun, pasien dengan kondisi serius tetap diminta segera mencari pertolongan di UGD.

"Jika tidak ada masalah besar, Anda tidak perlu mengunjungi unit gawat darurat. Pergilah ke klinik PHPC; mereka seharusnya dapat menangani Anda," kata Ong kepada wartawan dalam sebuah acara di Bukit Canberra pada Minggu, seperti dilaporkan Channel News Asia.

Menurut Ong, pemerintah berupaya menjaga kapasitas UGD agar tetap tersedia bagi pasien yang menghadapi kondisi darurat dan mengancam nyawa. Pemerintah juga ingin meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan dokter keluarga dalam menangani gangguan kesehatan yang tidak membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Selain memberikan subsidi pengobatan, sejumlah rumah sakit di Singapura telah menerapkan langkah antisipasi untuk mengurangi dampak kabut asap. Upaya tersebut meliputi penggunaan ventilator dan alat pembersih udara serta penutupan jendela di bangsal rumah sakit.

Di tengah penerapan kebijakan tersebut, kualitas udara Singapura masih berada dalam kategori tidak sehat pada Minggu, 11 Oktober 2026.

Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura (NEA) sebelumnya memperkirakan Indeks Standar Polutan (PSI) dalam rentang 24 jam akan berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat selama sehari berikutnya.

PSI 24 jam di wilayah tengah Singapura mencapai 192 pada pukul 17.00 waktu setempat. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang musim kabut asap tahun ini.

Satuan Tugas Kabut Asap Singapura yang melibatkan 28 lembaga menyatakan kesiapannya menerapkan langkah tambahan apabila PSI 24 jam melampaui angka 200.

Langkah antisipasi tersebut mencakup pembagian masker N95 kepada warga yang memenuhi persyaratan serta penyediaan tempat perlindungan kabut asap dengan pendingin udara di sejumlah fasilitas komunitas.

Fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit umum, poliklinik, dan panti jompo, juga telah mengaktifkan prosedur kesiapsiagaan. Selain menggunakan alat pembersih udara dan menutup jendela di bangsal serta koridor, fasilitas tersebut dapat memanfaatkan pendingin udara portabel untuk menurunkan suhu ruangan apabila diperlukan.

x|close