Survei Sebut Kepala Staf Militer Ungguli Netanyahu dalam Persaingan Kursi PM Israel

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 14 Okt 2026, 10:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) ke-81 di Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat, pada 24 September 2026. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) ke-81 di Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat, pada 24 September 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Tel Aviv - Mantan Kepala Staf Militer Israel Gadi Eisenkot mengungguli Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam survei elektabilitas calon perdana menteri yang dilakukan Channel 12 Israel.

Survei yang digelar pada 12 Oktober tersebut bertujuan mengukur tingkat dukungan terhadap partai-partai politik di Israel sekaligus melihat peluang para kandidat yang berpotensi menduduki jabatan perdana menteri.

Jajak pendapat itu melibatkan 509 responden berusia 18 tahun ke atas, dengan margin kesalahan maksimum sebesar 4,4 poin persentase.

Hasil survei menunjukkan Eisenkot memperoleh dukungan 45 persen dalam hal kelayakan menjadi perdana menteri, sedangkan Netanyahu meraih 35 persen. Angka dukungan terhadap Eisenkot meningkat 10 poin persentase dibandingkan hasil survei Channel 12 sebelumnya.

Mantan Perdana Menteri Naftali Bennett juga tercatat unggul tipis apabila berhadapan dengan Netanyahu. Bennett memperoleh dukungan 37 persen, sementara Netanyahu mengantongi 36 persen.

Channel 12 turut memproyeksikan perolehan kursi partai-partai politik dalam pemilihan parlemen Israel atau Knesset mendatang.

Partai Yashar yang dipimpin Eisenkot menempati posisi teratas dengan proyeksi 23 kursi. Sementara itu, Partai Likud pimpinan Netanyahu berada di urutan berikutnya dengan 20 kursi, berkurang satu kursi dibandingkan survei sebelumnya.

Partai Beyachad yang dipimpin Bennett diperkirakan mempertahankan 13 kursi.

Selanjutnya, Partai Demokrat pimpinan Yair Golan dan Partai Yisrael Beiteinu yang dipimpin mantan Menteri Luar Negeri Avigdor Lieberman masing-masing diproyeksikan memperoleh sembilan kursi.

Baca Juga: Netanyahu Diam-diam Bertemu MBZ di UEA, Apa yang Dibicarakan?

The Joint List yang dipimpin Yousef Jabareen diperkirakan meraih delapan kursi. Jumlah tersebut sama dengan proyeksi untuk Partai Shas yang dipimpin Aryeh Deri dan Partai Jewish Power pimpinan Menteri Sayap Kanan Itamar Ben-Gvir.

Adapun United Torah Judaism di bawah kepemimpinan Yaakov Asher diproyeksikan mendapatkan tujuh kursi. Sementara itu, aliansi Religious Zionism-Zehut yang dipimpin Menteri Keuangan Bezalel Smotrich bersama politikus Moshe Feiglin diperkirakan memperoleh enam kursi.

United Arab List pimpinan Mansour Abbas diproyeksikan meraih lima kursi. Dengan demikian, total perolehan kursi dari seluruh partai Arab diperkirakan mencapai 13 kursi.

Sementara itu, partai gabungan Reservists-Economic yang dipimpin Yoaz Hendel dan Yaron Zelekha diperkirakan mendapatkan empat kursi.

Untuk membentuk pemerintahan, sebuah partai atau koalisi di Israel membutuhkan sedikitnya 61 dari total 120 kursi di Knesset.

Netanyahu telah memimpin pemerintahan Israel sejak akhir Desember 2022. Pemerintahannya secara luas dinilai sebagai koalisi paling kanan dalam sejarah Israel, sebagaimana dikutip dari Anadolu Agency.

Popularitas Netanyahu belakangan mengalami tekanan di tengah kasus korupsi yang menjeratnya serta kegagalan Israel mengantisipasi serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Selain itu, Netanyahu menghadapi kritik terkait kebijakan pengecualian bagi pria ultra-Ortodoks dari kewajiban wajib militer. Kebijakan tersebut menjadi sorotan ketika Israel membutuhkan lebih banyak personel untuk menghadapi perang.

x|close