Wabah Ebola di Kongo Meluas ke Kenya, Lebih dari 4.200 Orang Meninggal

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 14 Okt 2026, 09:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip foto - Petugas medis mengenakan pakaian dan perlengkapan pelindung lengkap sebelum memeriksa pasien di Pusat Perawatan Ebola yang dikelola oleh Doctors Without Borders (MSF) di distrik Munigi, Goma, Republik Demokratik Kongo, pada 2 Juni 2026. Arsip foto - Petugas medis mengenakan pakaian dan perlengkapan pelindung lengkap sebelum memeriksa pasien di Pusat Perawatan Ebola yang dikelola oleh Doctors Without Borders (MSF) di distrik Munigi, Goma, Republik Demokratik Kongo, pada 2 Juni 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Beni - Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DR Kongo) terus menyebar ke sejumlah wilayah baru di bagian timur negara tersebut. Penyakit ini juga telah menjangkau Kenya, yang mengonfirmasi kasus pertama dari luar negeri dengan satu pasien meninggal dunia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sebanyak 8.728 kasus Ebola terkonfirmasi di Kongo hingga 6 Oktober 2026. Dari total tersebut, 4.205 orang meninggal dunia, sedangkan 2.269 pasien lainnya dinyatakan sembuh.

Dilansir dari Al Jazeera, Rabu, 14 Oktober 2026, wabah kali ini disebabkan oleh virus Bundibugyo, salah satu spesies virus yang dapat memicu penyakit Ebola. WHO melaporkan bahwa kasus infeksi telah ditemukan di 64 zona kesehatan yang tersebar di tujuh provinsi di Kongo.

Provinsi Ituri masih menjadi wilayah dengan jumlah kasus kumulatif tertinggi. Sementara itu, Provinsi North Kivu mencatat peningkatan proporsi kasus baru.

Dalam laporan yang dirilis pada Kamis, 8 Oktober 2026, WHO mengonfirmasi bahwa virus telah menyebar ke zona kesehatan Alimbongo di North Kivu, yang sebelumnya belum melaporkan kasus Ebola. Hingga 6 Oktober, wilayah tersebut mencatat empat kasus terkonfirmasi, termasuk dua kematian.

Secara keseluruhan, tingkat kematian berdasarkan jumlah kasus terkonfirmasi di Kongo mencapai 48,2 persen.

Baca Juga: Kasus Ebola di Kongo Capai 5.514, Sebanyak 2.642 Orang Meninggal

Penyebaran Ebola mulai menjadi perhatian serius negara-negara tetangga Kongo setelah Kenya mengumumkan kasus pertamanya yang berasal dari luar negeri pada Selasa, 6 Oktober 2026. Pasien tersebut merupakan warga negara Kenya yang sebelumnya menetap di Kongo.

WHO menjelaskan bahwa pasien mulai mengalami gejala ketika masih berada di Kongo dan sempat menjalani perawatan di beberapa fasilitas kesehatan. Setelah itu, ia melakukan perjalanan darat menuju Kampala, Uganda, sebelum melanjutkan penerbangan ke Nairobi, Kenya.

Pasien tiba di Nairobi pada Sabtu, 3 Oktober 2026, dan segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan. Hasil pemeriksaan laboratorium memastikan bahwa pasien terinfeksi virus Bundibugyo.

Meski telah mendapatkan perawatan pendukung, pasien tersebut meninggal dunia pada Senin, 5 Oktober 2026.

Otoritas kesehatan Kenya kemudian mengidentifikasi 28 orang yang pernah melakukan kontak dengan pasien, termasuk anggota keluarga dan tenaga medis. Petugas juga melakukan pelacakan terhadap penumpang serta awak pesawat yang berada dalam penerbangan yang sama menuju Nairobi.

Kenya dan Uganda meningkatkan langkah pencegahan melalui pelacakan kontak dan pengawasan kesehatan. Pada Kamis, 8 Oktober 2026, pemeriksaan laboratorium awal terhadap satu kasus suspek Ebola di Kabupaten Wajir, Kenya, menunjukkan hasil negatif.

Gubernur setempat mengumumkan hasil pemeriksaan tersebut. Meski demikian, pemantauan kesehatan tetap dilanjutkan untuk mengantisipasi kemungkinan penularan.

Kasus di Kenya memperlihatkan pentingnya koordinasi lintas negara dalam mendeteksi infeksi serta mencegah penyebaran virus lebih lanjut.

Rumah Sakit di Kongo Kewalahan Menangani Pasien

Jenazah warga terinfeksi Ebola dibawa ke kamar jenazah Pusat Medis Nyankunde untuk menjalani prosedur pemakaman oleh tim kesehatan. <b>(Antara)</b> Jenazah warga terinfeksi Ebola dibawa ke kamar jenazah Pusat Medis Nyankunde untuk menjalani prosedur pemakaman oleh tim kesehatan. (Antara)

Penanganan wabah Ebola di Kongo menghadapi berbagai hambatan, termasuk keterbatasan fasilitas kesehatan dan kondisi keamanan yang belum stabil.

Organisasi kemanusiaan medis Doctors Without Borders atau Médecins Sans Frontières (MSF) melaporkan bahwa penambahan kasus baru di North Kivu terus berlangsung. Dalam pembaruan pada 5 Oktober, organisasi tersebut menyebut wilayah itu menyumbang hampir 40 persen dari seluruh kasus baru Ebola di Kongo. Angka tersebut meningkat dibandingkan dengan 24 persen pada akhir Agustus 2026.

MSF juga mencatat bahwa hingga 28 September, sebanyak 34 persen pasien Ebola terkonfirmasi menjalani perawatan di fasilitas kesehatan yang tidak dirancang khusus untuk menangani penyakit tersebut.

Situasi ini dipicu oleh keterbatasan kapasitas pusat perawatan Ebola. Selain kekurangan tempat tidur, keterlambatan diagnosis menyebabkan sejumlah pasien dirawat di fasilitas yang tidak memiliki perlengkapan memadai.

Baca Juga: Wabah Makin Ganas, Jumlah Kasus Ebola di Kongo Tembus Angka 5.000

MSF menilai beberapa fasilitas kesehatan tersebut belum didukung sumber daya dan tenaga medis terlatih yang cukup untuk menangani pasien Ebola. Kondisi itu berpotensi meningkatkan risiko penularan kepada pasien lain maupun petugas kesehatan.

"Selama berminggu-minggu, kapasitas perawatan telah mencapai batasnya," ujar Stephanie Hoffmann, koordinator pusat perawatan Ebola MSF di Butembo.

Hoffmann menjelaskan, keterbatasan tempat tidur terkadang memaksa petugas merujuk pasien yang telah dipastikan terinfeksi ke fasilitas kesehatan lain.

"Akibat tidak tersedianya cukup tempat tidur, kami terkadang terpaksa merujuk pasien Ebola yang telah terkonfirmasi ke tempat lain, meskipun hal ini menimbulkan risiko besar bagi masyarakat luas," katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa sejumlah fasilitas kesehatan di wilayah pinggiran belum menerapkan standar penanganan Ebola secara memadai.

"Selain itu, standar perawatan di beberapa fasilitas kesehatan di wilayah pinggiran tidak selalu memenuhi persyaratan penanganan Ebola. Ini sangat mengkhawatirkan," lanjut Hoffmann.

Misinformasi dan Ketidakpercayaan Masyarakat Jadi Hambatan

Tenaga medis melakukan disinfeksi di pusat perawatan Ebola di Mombovalu, Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo, Sabtu, 20 Juni 2026. <b>(Antara)</b> Tenaga medis melakukan disinfeksi di pusat perawatan Ebola di Mombovalu, Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo, Sabtu, 20 Juni 2026. (Antara)

Selain persoalan fasilitas kesehatan, penyebaran informasi yang keliru turut menyulitkan upaya pengendalian Ebola di Kongo.

Daniel Makasi Levergénois, pendiri Watoto Radio, menyampaikan bahwa persoalan keamanan dan misinformasi memengaruhi pelaksanaan penanganan wabah. Di Beni dan Butembo, North Kivu, berbagai rumor serta kesalahpahaman mengenai Ebola membuat sebagian masyarakat enggan bekerja sama dengan petugas kesehatan.

Tokoh masyarakat Beni, Alberto Lusenge, menilai kegagalan menghentikan penularan sejak dini di Provinsi Ituri ikut meningkatkan kekhawatiran warga. Situasi tersebut semakin memburuk setelah muncul kasus baru dan serangan terhadap petugas penanganan wabah di Beni serta Butembo.

Menurut Lusenge, ketidakpercayaan masyarakat dapat membuat warga enggan melaporkan gejala yang dialami atau bekerja sama dengan tenaga medis. Ia memperingatkan bahwa North Kivu berisiko menjadi pusat penyebaran yang lebih besar apabila keterlibatan masyarakat tidak segera diperkuat.

Tantangan lainnya adalah pelacakan kontak yang belum mencapai target. WHO mencatat bahwa hingga 4 Oktober, petugas telah memantau 23.741 orang dari total 29.535 orang yang teridentifikasi pernah melakukan kontak dengan pasien Ebola.

Capaian tersebut setara dengan 80,4 persen, masih di bawah target penanganan sebesar 85 persen.

Pelacakan kontak merupakan langkah penting untuk mengidentifikasi orang yang berpotensi terpapar, memantau munculnya gejala, serta mendeteksi infeksi sedini mungkin.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) menyerukan agar penanganan wabah lebih melibatkan masyarakat. Langkah yang direkomendasikan meliputi pencarian kasus secara aktif, pelacakan kontak secara sistematis, pemantauan harian terhadap orang yang terpapar, serta komunikasi berkelanjutan dengan warga setempat.

Belum Ada Vaksin yang Disetujui untuk Virus Bundibugyo

Ilustrasi - Tenaga medis mengenakan pakaian pelindung saat menangani wabah virus ebola di Republik Demokratik Kongo <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Tenaga medis mengenakan pakaian pelindung saat menangani wabah virus ebola di Republik Demokratik Kongo (Antara)

Wabah Ebola bukan kali pertama menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar di Kongo. Pada periode 2018–2020, wabah yang disebabkan oleh spesies virus berbeda mengakibatkan hampir 2.300 orang meninggal dunia.

Namun, wabah yang berlangsung saat ini menghadirkan tantangan tersendiri karena disebabkan oleh virus Bundibugyo. WHO menyatakan bahwa hingga kini belum tersedia vaksin maupun pengobatan khusus yang telah disetujui untuk penyakit akibat virus tersebut.

Dengan kondisi itu, deteksi dini, perawatan pendukung, dan penerapan langkah pencegahan infeksi menjadi bagian penting dalam upaya menangani pasien serta membatasi penularan.

Direktur Jenderal Africa CDC, Jean Kaseya, menegaskan pentingnya mengidentifikasi seluruh orang yang berpotensi terpapar sebelum wabah meluas lebih jauh.

"Untuk mengendalikan wabah ini, kita perlu mengetahui keberadaan setiap orang yang pernah melakukan kontak, memantau mereka, dan segera mengidentifikasi siapa pun yang menunjukkan gejala sebelum mereka menularkan virus kepada keluarga, masyarakat, atau ke negara lain," ujar Kaseya.

Ia menekankan bahwa pengendalian wabah membutuhkan pelacakan menyeluruh hingga seluruh rantai penularan berhasil dihentikan.

"Kita baru akan dapat mengendalikan wabah ini setelah rantai penularan terakhir berhasil diputus," katanya.

x|close